Dalam kehidupan sehari-hari kerap mendengar ucapan kata-kata indah dan menarik. Tidak panjang kata-kata itu. Bahkan hanya satu atau dua kata.
Ini sederhana memang. Namun kata- kata sederhana itu ternyata besar maslahatnya. Coba renungkan kata-kata ini. Luar biasa dampak dan maslahat yang didapatkannya.
Pertama, kata “assalamualaikum“. Ini ucapan kata-kata salam yang sederhana. Setiap muslim biasa mengucapkannya.
Bahkan ada juga orang non muslim melakukannya. Saat mereka bertemu muka, bertamu dan berbicara di depan publik. Sesudah itu diucapkannya kembali.
Makna Kalimat Salam
Bagi yang sudah biasa mengucapkan kata-kata ini, tidak pernah bosan. Sederhana tapi banyak makna. Maslahatnya pun besar. Di antaranya:
1. Saling mendoakan diantara mereka. Baik yang mengucapkan atau yang menjawab salam. Doanya mengandung nilai tinggi. Bahwa manusia sangat membutuhkan. Yakni keselamatan, keten- teraman, kedamaian, kesehatan, kerahmatan dan keberkahan. Siapa yang tidak ingin hidupnya selamat, damai, sehat, diberi rahmat dan berkah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini sesuai firman Nya, “…dan berdoalah untuk mereka. Sesungguh nya doamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka…” (QS. At Taubah:103).
2. Saling berjabat tangan setelah mengucapkan kata-kata itu. Jabatan tangan yang erat menun- jukkan kehangatan, persaudaraan dan persaha – batan yang mendalam. Jabatan tangan juga dapat menghapus dosa-dosa yang melekat pada diri mereka berdua. Jika mereka punya salah atau kesalahan, dengan jabatan tangan itu terhapus dosanya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam sabdanya, “Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud No. 5212, Tirmidzi No. 2727).
3. Saling senyum. Baik yang memberi salam maupun yang menjawab salam sama-sama tersenyum. Senyum menunjukkan sehatnya jiwa, tenangnya hati. Beda dengan orang yang lagi cemberut. Itu tanda jiwanya sakit. Hatinya resah. Senyum bernilai sedekah. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam disebutkan, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“ (HR at-Tirmidzi no. 1956, Ibnu Hibban no. 474 dan 529 dll, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, dan dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “ash-Shahihah” no. 572).
Jadilah Pemaaf
Kedua, kata “maaf”. Ketika seseorang berbuat kesalahan pada orang lain disengaja atau tidak disengaja dia mengucapkan kata maaf. Bagi seorang manusia yang mengalami akibat dari tindakan kesalahan itu ada yang segera memberi maaf.
Minta maaf itu ringan diucapkan, tetapi memberi maaf justru lebih berat dilakukan. Karena itu menjadi pemaaf diajarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. (Al-A’raaf: 199).
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga telah mengajarkan dalam sabdanya, “Tidaklah sedekah itu mengurangi dari harta sedikitpun. Tidaklah ada seseorang yang memberi maaf pada orang lain melainkan itu kemuliaan baginya, dan tidak lah ada seorang hamba yang tawadhu kecuali Allah akan angkat derajatnya“. [HR Muslim no: 2588].
Kata maaf dan saling memaafkan ini besar maslahatnya pada manusia, yakni antara lain:
1. Kata maaf menghilangkan rasa dendam. Dendam apalagi kesumat tidak dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Sesuai firman Nya,
“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar”. (QS. An Nahl:126).
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi tahu sahabat-sahabat tentang akan muncul seseorang penduduk sorga. Orang itu benar-benar muncul.
Dia dari kaum Anshar. Hal ini membuat sahabat Abdullah bin ‘Amr mengikuti nya. Hasil yang dia dapatkan adalah, “Tatkala aku berpaling pergi, ia pun memanggilku dan berkata bahwa amalannya hanyalah seperti yang terlihat, hanya saja ia tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang muslim pun dan ia tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepada yang lain.” Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantar kan engkau (menjadi penduduk surga) dan inilah yang tidak kami mampu.” (HR. Ahmad no. 3: 166).
2. Kata maaf, mencegah permusuhan diantara kedua belah pihak. Saling maaf memaafkan kunci utama mencegah konflik dan permusuhan yang merugikan mereka sendiri.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan dalam firman Nya, “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguh nya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal- hal yang diutamakan”. (QS. Asy Syura:43).
3. Kata maaf menciptakan perdamaian. Saling maaf-memaafkan dapat menciptakan damai dan perdamaian diantara dua atau kelompok yang bermasalah dan bertikai. Ini sesuai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menegaskan, “Barang siapa memaafkan dan berdamai, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (QS. Asy Syuro:40).
4. Kata maaf dapat menjalin persahabatan yang kuat. Dengan saling maaf-memaafkan juga dapat memperkuat hubungan persahabatan diantara orang-orang yang bertikai dan bermusuhan. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan dalam firman Nya,
“..Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman (sahabat) yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34).
5. Kata maaf dan memberi maaf menunjukkan pelakunya termasuk orang bertaqwa. Ciri-ciri orang yang bertaqwa antara lain orang yang mampu menahan amarahnya dan pemberi maaf pada orang lain yang berbuat salah dan berkonflik dengannya.
Sesuai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “… orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang mau pun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran:133-134).
Terima Kasih
Ketiga, kata Syukron atau terima kasih. Syukron berasal dari kata syukur, artinya terima kasih kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Seseorang yang mendapatkan kebaikan dalam bentuk apapun dari orang lain bila memiliki adab dan kesadaran tentu akan mengucapkan kata- kata tersebut.
Baik disampaikannya langsung pada saat di tempat kejadian atau diucapkan secara tidak langsung melalui telpon dan media sosial. Surat elektronik, faxcimil, telegram, wa, email, facebook, Instagram dan lainnya.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyatakan dalam sabdanya, “Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Daud, no. 4811 dan Tirmidzi, no. 1954. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih)”.
Selain ucapan syukron atau terima kasih yang disampaikan kepada orang yang telah berbuat baik pada diri, keluarga, jamaah, ummat dan masyarakat, dapat pula diampaikannya dengan kalimat jazakallahu khairan katsiran. Hal ini sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,
“Barangsiapa yang diperlakukan baik, lalu ia mengatakan kepada pelakunya, ‘Jazakallahu khairan (artinya: Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan)’, maka sungguh ia telah sangat menyanjungnya.” (HR. Tirmidzi. Ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Tirmidzi, no. 2035 dan An-Nasai dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, 180; juga dari jalur Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 275; Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, 2:148. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih, perawinya tsiqqah).
Maslahat bagi seorang yang mengucapkan kata Syukron, terima kasih dan jazakallahu khairan katsiran kepada siapa pun yang telah berbuat baik padanya antara lain:
1. Menunjukkan sebagai orang yang suka bersyukur. Mereka yang selalu bersyukur akan diberikan penghargaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai firman Nya, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguh nya azab-Ku sangat pedih.'”. (QS. Ibrahim:7).
2. Sebagai orang yang perduli, perhatian dan tidak melupakan kebaikan siapapun yang telah berbuat baik kepada dirinya sehingga dia mengucapkan syukur dan terima kasih atau jazakallahu khairan katsiran orang tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala diajarkan, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60).
Diperkuat dengan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan An Nasai no. 2568).





0 Tanggapan
Empty Comments