Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Telepon Rindu dan Doa Cintadari Mekkah

Iklan Landscape Smamda
Telepon Rindu dan Doa Cintadari Mekkah
Suasana Masjidil Haram di sepertiga malam akhir. Gambar diambil dari bus yang baru sampai.
Oleh : Nurul Sjarifah binti Djaelani Guru di Pamekasan

Kami memulai aktivitas sejak pukul 02.00 WAS. Saat itu, rombongan sudah berada di halte bus di depan hotel untuk bersiap menuju Masjidil Haram menggunakan Bus Sholawat (Mekkah, Kamis 21 Mei 2026)

Niat kami sederhana namun penuh harap, menjalani rangkaian ibadah mulai dari shalat tahajud, shalat Subuh, hingga shalat dhuha di awal waktu. Bekal kecil pun telah disiapkan untuk menemani waktu menunggu dhuha.

Sesampainya di terminal bus depan Masjidil Haram, kami berjalan menuju lantai dua masjid. Di pintu masuk, petugas perempuan melakukan pemeriksaan barang bawaan jamaah.

Salah satu teman saya, Bu Mulyono, sempat diperiksa karena membawa barang belanjaan dari lobi hotel. Putri saya membantu menerjemahkan percakapan dengan petugas menggunakan bahasa Inggris.

Ternyata pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada benda terlarang seperti gunting atau barang berbahaya lainnya yang dibawa masuk ke area masjid.

Setelah semuanya dinyatakan aman, barang belanjaan Bu Mulyono dikembalikan. Kejadian itu justru menjadi guyonan ringan yang membuat perjalanan ibadah terasa hangat dan penuh cerita.

Kami memahami, apa yang dilakukan petugas semata-mata demi keamanan dan kenyamanan jamaah. Salut untuk para petugas yang bekerja dengan penuh ketelitian.

Sampai Dhuha

Pukul 02.30 WAS, suasana masjid masih cukup lengang sehingga kami mendapatkan tempat shalat yang nyaman.

Rombongan ibu-ibu kemudian larut dalam shalat sunnah hingga Subuh dan shalat jenazah.

Karena udara AC di dalam masjid terasa sangat dingin, kami sepakat berpindah ke pelataran yang berkarpet. Bukan karena tidak sanggup duduk di lantai granit, sebab sebelumnya kami beberapa kali bertahan berjam-jam tanpa alas.

Namun kali ini, kami memikirkan kenyamanan ibu-ibu sepuh dalam rombongan yang tetap semangat mengikuti tahajud. Kami merasa bertanggung jawab menjaga kesehatan dan kenyamanan mereka.

Di pelataran itu, kami berdzikir, mengaji, menunggu waktu syuruq, lalu melaksanakan shalat dhuha.

Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar hingga kami kembali ke hotel. Kami bahkan sempat membeli jajanan kecil di bawah hotel untuk dinikmati bersama di kamar.

Pengobat Rindu

Siang harinya, saya mengikuti shalat Dhuhur berjamaah di mushalla hotel. Jamaah ibu-ibu sangat banyak hingga saya tidak mendapatkan tempat di dalam mushalla dan harus shalat di dekat pintu lift.

Namun hati tetap tenang karena mushalla selalu bersih dan insya Allah terjaga kesuciannya.

SMPM 5 Pucang SBY

Usai shalat, saya duduk di lobi hotel. Tiba-tiba saya teringat putri kedua saya yang sedang berjuang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya.

Saya mencoba menghubunginya lewat video call, tetapi gagal karena gangguan sinyal. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya kami bisa berbicara lewat telepon.

Mendengar suaranya dan cerita sederhana tentang aktivitas kampus hari itu membuat rasa rindu perlahan terobati.

Kami sejatinya sedang sama-sama berjuang. Saya dan putri pertama sedang menjalani ibadah haji di Mekkah, sementara putri kedua saya berjuang menuntut ilmu demi masa depannya.

Semua perjuangan itu, saya yakini, adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

Percakapan singkat itu menjadi pengobat rindu yang begitu menenangkan hati seorang ibu.

Pinta Hamba

Sebagai ibu, saya tidak pernah berhenti mendoakan kedua putri saya, Atika Nur Royyanah dan Afifah Nur Royhannah.

Terlebih saat ini saya berada di Tanah Suci, tempat di mana doa-doa terasa begitu dekat dengan langit.

Yaa Allah, ampuni hamba. Hamba sadar, sebagai seorang ibu, hamba bukanlah ibu yang sempurna bagi anak-anak hamba yang merupakan amanah dari-Mu.

Yaa Allah, jagalah Atika dan Afifah dalam penjagaan-Mu. Tuntun mereka selalu berada di jalan-Mu yang lurus, jalan yang membawa keselamatan dan kebahagiaan dunia maupun akhirat.

Jadikanlah mereka anak-anak shalihah yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.

Lembutkan hati mereka, mudahkan segala urusannya, luaskan rezekinya, serta mudahkan ilmu yang sedang mereka pelajari.

Aamiin.

Telepon Rindu dan Doa Cintadari Mekkah
Pukul 02.09 WAS, bus-bus membawa jamaah haji menuju Masjidil Haram.
Revisi Oleh:
  • Satria - 23/05/2026 11:54
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡