Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tak Ada Hidup Tanpa Ujian

Iklan Landscape Smamda
Tak Ada Hidup Tanpa Ujian
Foto: Istimewa
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Setiap hamba yang hidup pasti akan mengalami ujian dari Allah. Tidak ada seorang pun yang terbebas darinya. Ada ujian yang ringan, ada pula yang terasa sangat berat. Kehilangan orang yang dicintai, kesulitan ekonomi, sakit, kegagalan, atau berbagai persoalan lainnya merupakan bagian dari kehidupan yang Allah tetapkan untuk menguji hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Sering kali manusia menganggap ujian sebagai tanda bahwa Allah tidak mencintainya. Padahal, ujian bukanlah untuk menghancurkan, melainkan untuk mengangkat derajat, menghapus dosa, dan mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Seorang pedagang misalnya, pernah mengalami masa ketika tokonya ramai dan rezekinya berlimpah. Namun suatu saat usahanya mengalami penurunan drastis. Ia hampir putus asa.

Akan tetapi, dari kesulitan itu ia justru semakin rajin berdoa, memperbaiki ibadah, dan lebih banyak bersedekah. Beberapa tahun kemudian, ia menyadari bahwa masa sulit itu telah menjadikannya pribadi yang lebih sabar dan lebih dekat kepada Allah.

Begitu pula seorang ibu yang harus merawat anaknya yang sakit bertahun-tahun. Meski lelah, ia tetap menjalani semuanya dengan penuh kasih sayang. Di balik air mata dan keletihan, Allah sedang mendidiknya menjadi pribadi yang kuat dan penuh keikhlasan.

Karena itu, hadapilah setiap ujian dengan doa, tawakal, sabar dan syukur.

Sebab dunia adalah tempat ujian, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasilnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 2-3)

Pada ayat yang lain, Allah berfirman: “Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Dan Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan apa yang ada di atasnya menjadi tanah yang tandus.” (QS. Al-Kahfi: 7-8)

Banyak orang merasa masalah yang dihadapinya terlalu berat. Padahal, Allah menghadirkan setiap ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Kadang-kadang yang terasa kurang bukanlah kemampuan kita, tetapi kesabaran kita.

Seperti seorang mahasiswa yang hampir menyerah karena skripsinya berulang kali ditolak. Atau seorang pegawai yang harus menghadapi berbagai tekanan pekerjaan. Mereka mungkin merasa sudah berada di batas kemampuan.

SMPM 5 Pucang SBY

Namun ketika mereka tetap bertahan, bersabar, dan terus berikhtiar, ternyata Allah memberikan jalan keluar yang sebelumnya tidak pernah mereka sangka.

Demikian pula banyak orang merasa nikmat dan rezeki yang diberikan kepadanya sangat sedikit. Padahal, bila diminta menghitung satu nikmat saja, mereka tidak akan mampu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)

Betapa sering kita mengeluhkan kekurangan, sementara mata yang dapat melihat, telinga yang dapat mendengar, tubuh yang sehat, keluarga yang menemani, dan kesempatan beribadah merupakan nikmat yang tak ternilai harganya.

Ada orang yang baru menyadari mahalnya kesehatan ketika ia jatuh sakit. Ada pula yang baru memahami besarnya nikmat kebersamaan setelah kehilangan orang yang dicintai.

Sesungguhnya, jika disederhanakan, ujian hidup hanya memiliki dua wajah:

  • Susah dan senang
  • Sulit dan mudah
  • Sehat dan sakit
  • Kebaikan dan keburukan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami membagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada pula yang tidak demikian. Dan Kami menguji mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk agar mereka kembali kepada kebenaran.” (QS. Al-A’raf: 168)

Menariknya, tidak semua ujian berbentuk kesulitan. Kekayaan juga ujian. Jabatan juga ujian. Kesehatan juga ujian. Bahkan pujian dan popularitas pun merupakan ujian.

Ada orang yang tetap taat ketika miskin, tetapi lupa kepada Allah ketika kaya. Sebaliknya, ada yang semakin bersyukur ketika diberikan kelapangan dan semakin sabar ketika diuji kesempitan.

Karena itu, jawaban dari seluruh ujian kehidupan sesungguhnya hanya dua: syukur ketika mendapatkan nikmat dan sabar ketika menghadapi musibah.

Jika kita mampu menjaga dua sikap ini, maka apa pun keadaan yang Allah takdirkan akan menjadi kebaikan bagi diri kita.

Sebab kehidupan di dunia hanyalah perjalanan singkat. Bukan tempat untuk menetap selamanya, melainkan tempat untuk diuji. Dan kelak, di akhiratlah seluruh hasil dari kesabaran dan rasa syukur itu akan dipanen dengan sempurna.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur ketika diberi nikmat dan tetap bersabar ketika diuji dengan kesulitan. Aamin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 12/06/2026 21:50
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu