Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menertawakan Kehidupan

Iklan Landscape Smamda
Menertawakan Kehidupan
Oleh : Purnama Syae Purrohman Dekan FKIP Uhamka /Anggota Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata PWM DKI Jakarta

“Menertawakan Kehidupan”, demikian sebuah kalimat yang muncul dari promosi sebuah buku tentang penulisnya.

Tertawa merupakan hal naluriah manusia yang tidak terdapat pada binatang maupun tumbuhan. Humor adalah bentuk kecerdasan manusia. Seseorang yang tidak bisa menikmati humor akan terminimalisir sisi kemanusiaannya.

Orang Sunda, pada salah satu karakteristiknya, merupakan masyarakat yang gemar bercanda.

Mereka kerap mengawali pertemuan dengan sesuatu yang mengundang tawa sebelum berlanjut pada inti acara.

Kaum Betawi mengenal tradisi palang pintu berupa pantun jenaka sebagai pembuka sebelum penerimaan pengantin pria di tempat pengantin wanita.

Demikian pula masyarakat Melayu yang terus membudayakan pantun dalam acara resmi maupun tidak resmi.

Karena itu, soal menertawakan diri sendiri bukanlah hal baru bagi suku bangsa di Indonesia.

Justru dari kemampuan menertawakan diri itulah muncul ruang untuk berpikir dan bergerak lebih maju.

Mereka yang cerdas mampu menertawakan diri sendiri, selanjutnya melangkah lebih jauh.

Hanya saja, tidak mudah dalam mewujudkan kemajuan kolektif.

Figur tokoh sering menjadi teladan. Ketika tokoh tersebut hilang, kemajuan kembali surut ke belakang.

Tokoh besar sering kali hanya memberi pengaruh terbatas bagi masyarakat luas.

Seseorang yang menjadi tokoh tidak jarang lebih mengutamakan keluarga dan lingkaran dekatnya. Ini merupakan cara berpikir yang sempit hanya berorientasi pada kelompok sendiri.

Fenomena seperti ini tercatat dalam organisasi formal maupun informal.

Kemajuan lahir dari tokoh besar. Namun tokoh penerus yang mengemban nama besar itu dalam beberapa kasus tidak mampu melanjutkan estafet kepemimpinan.

Bahkan, sebagian mencoreng nama besar tokoh sebelumnya melalui perilaku yang dipandang buruk di tengah masyarakat.

Akar Ideologi dan Jalan Kemajuan

Ketiadaan akar membawa seseorang pada kontradiksi.

Orang dapat mendukung siapa pun yang menguntungkan tanpa basis ideologi yang kuat.

Misalnya, selalu menggaungkan fanatis nasionalisme pribumi. Namun ketika muncul tawaran dari agensi untuk berkunjung ke Beijing dengan pembiayaan dan agenda kolaborasi bersama Pemerintah Tiongkok, berbagai rombongan dari lembaga pendidikan maupun organisasi kemasyarakatan ikut menjalankannya.

Apa pun yang menghasilkan keuntungan akan berlanjut.

Padahal akar yang kuat adalah fondasi yang perlu pemupukan dan perawatan.

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi bukan sekadar pajangan atau kitab suci yang tidak pernah disentuh.

Akar mungkin tetap ada, tetapi tidak mengakar kuat.

Pada akhirnya, akar yang lain datang menguatkan hingga melahirkan bentuk hibridisasi yang tidak lagi sama.

Terjadi kedekatan aktivitas dengan pihak lain yang kemudian melindungi dan membawa akar baru ke organisasi asal.

Dalam dialektika pada level menengah dan bawah, banyak energi habis untuk politik dagang sapi.

Perhatian tidak lagi diarahkan pada gagasan kemajuan, bahkan belum mencapai tingkat demokrasi yang sehat.

Kadang-kadang penampilan fisik mampu mengelabui.

Seseorang dapat mengenakan pakaian islami, tetapi ketika berpolitik justru menggunakan cara-cara yang tidak islami.

Agitasi, provokasi, dan intimidasi dilakukan demi membela kelompok pilihan.

Meritokrasi belum menjadi pilihan utama.

Padahal dunia di sekitar menghadirkan banyak inspirasi: RT Teladan, Kepala Desa Teladan, Polisi Teladan, Marbot Masjid Teladan, dan berbagai praktik kebajikan lainnya.

Yang dibutuhkan adalah meniru dan mengadaptasinya untuk kebaikan.

Mungkin inilah yang memperlambat kemajuan.

Meritokrasi sering menjadi pilihan kedua atau ketiga.

Tujuan jangka pendek lebih diprioritaskan demi kesejahteraan satu komunitas semata.

Akibatnya, para pemimpin gagal menggapai kemajuan dan hanya menjalani rutinitas yang ada di depan mata.

SMPM 5 Pucang SBY

Padahal pada situasi darurat membutuhkan kepemimpinan yang melampaui kebiasaan.

Bahkan mungkin membutuhkan perjuangan luar biasa dalam membangun gagasan, aktivitas, pola komunikasi, dan jejaring.

Penyeragaman menjadi salah satu dasar kemajuan ala globalisasi yang dianggap berhasil.

McDonaldisasi, demikian istilah yang diperkenalkan Ritzer.

Namun tidak semua hal dapat disetarakan dan dibuat homogen.

Manusia adalah makhluk budaya yang terus menggunakan akal nurani untuk berkembang.

Lembaga mungkin memiliki pola organisasi yang seragam.

Namun manusia, budaya, dan ekosistem dalam satu lokus tetap unik dan tidak bisa diseragamkan.

Hal ini selaras dengan konsep penelitian ilmiah metode kualitatif.

Dua peneliti yang mengkaji objek yang sama dapat menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Begitulah fenomena sosial dipahami dari perspektif ilmuwan sosial.

Mereka yang berada di lingkungan sekolah sering memandang takjub pada Sekolah Dasar Muhammadiyah Sapen.

Namun rasa kagum saja tidak cukup.

Jadikan keberhasilan itu sebagai bahan pembelajaran.

Cari tahu mengapa lembaga tersebut dapat berkembang seperti sekarang.

Kemudian lakukan asesmen terhadap sekolah sendiri, sumber daya guru, sistem manajemen, dan posisi yang sedang dihadapi saat ini.

Tradisi kebaikan dapat diamati dan, InsyaAllah, dapat ditiru dengan berbagai modifikasi.

Karena fenomena sosial bersifat unik, hasilnya tidak akan seratus persen sama.

Demikian pula dalam konteks perguruan tinggi, rumah sakit, LKSA, dan lembaga lainnya.

Prinsip organisasi profesional dan modern yang berpadu dengan karakter kemuhammadiyahan merupakan satu sistem nilai yang implementasinya dapat beragam.

Kolektif kolegial bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan.

Menjalankan kepemimpinan bersama demi mencapai tujuan bersama.

Mereka yang lebih banyak bekerja daripada berwacana adalah pelaksana visi berkemajuan.

Dengan cara itu, tidak ada persoalan yang tidak dapat mencarikan jalan keluarnya.

Akan selalu ada variasi solusi yang kemudian didiskusikan hingga menjadi keputusan bersama.

“Keinginan adalah sumber penderitaan,” demikian menurut Iwan Fals.

Ketika kemakmuran menjadi bagian dari organisasi, keinginan untuk memenuhi ego individu dapat mengalahkan visi organisasi.

Karena itu, forum pengingat ideologi harus tetap menjadi bagian penting dari aktivitas lembaga.

Setiap orang akan memperoleh ruang kebahagiaannya masing-masing.

Tidak semua orang harus menjadi ketua.

Yang terpenting adalah siap dipimpin dan siap memimpin.

Lalu kita beristirahat dan menertawakan diri sendiri.

Tantangan ke depan semakin menantang. Warga Muhammadiyah harus terus menerus belajar profesional dan semakin bertakwa.

Bersama menuju peradaban berkemajuan bermula dari individu dan keluarga tercerahkan.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 12/06/2026 10:50
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu