Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kita Hanya Tamu di Dunia, Amal Perbuatan Adalah Bekal Abadi

Iklan Landscape Smamda
Kita Hanya Tamu di Dunia, Amal Perbuatan Adalah Bekal Abadi
Foto: Studio Arabiya
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Kehidupan kita di dunia sesungguhnya hanyalah seperti seorang tamu yang sedang singgah. Kehadiran kita tidaklah selamanya. Ada saat datang, dan ada saat harus pergi.

Kaya atau miskin hanyalah sementara. Kejayaan ataupun kegagalan hanya berlangsung beberapa puluh tahun. Jabatan, kedudukan, popularitas, dan kemuliaan dunia tidak akan kekal.

Tidak ada yang menjadi ayah atau ibu selamanya. Tidak ada suami atau istri yang abadi. Tidak ada presiden, raja, direktur, atau manajer yang akan memegang jabatannya selama-lamanya. Sebab pada hakikatnya, kita semua hanyalah tamu.

Lihatlah sebuah hotel yang megah. Setiap hari ada tamu yang datang dengan berbagai status dan latar belakang. Ada yang datang dengan mobil mewah, ada pula yang datang dengan kendaraan sederhana.

Namun, ketika waktu menginapnya selesai, semuanya harus meninggalkan kamar yang ditempatinya. Tidak ada seorang pun yang dapat berkata bahwa kamar itu miliknya untuk selamanya.

Demikian pula kehidupan ini. Rumah yang kita bangun, kendaraan yang kita miliki, tabungan yang kita kumpulkan, bahkan jabatan yang kita banggakan, semuanya hanyalah titipan dan pinjaman dari Allah.

Walaupun semua itu diperoleh melalui jerih payah, keringat, dan perjuangan yang panjang, serta secara hukum tercatat atas nama kita, sesungguhnya kepemilikan itu hanyalah sementara. Karena ia adalah pinjaman, maka suatu saat semuanya harus dikembalikan.

Ilustrasi sederhana dapat kita lihat ketika seseorang pensiun dari pekerjaannya. Selama puluhan tahun ia menempati ruang kerja yang nyaman, dihormati banyak orang, dan memiliki berbagai fasilitas.

Namun pada hari terakhir masa tugasnya, ia harus menyerahkan kembali meja, kursi, kartu identitas, bahkan kendaraan dinas yang selama ini dipakainya. Tidak ada yang dapat dibawanya pulang selain kenangan dan hasil dari apa yang telah diperbuatnya selama bekerja.

Begitu pula dengan kehidupan kita. Semua yang melekat pada tubuh kita, yang terkalung di leher, melingkar di jari, terpasang di pergelangan tangan, tersimpan di saku, atau berada di dalam lemari besi, pada akhirnya akan ditinggalkan.

Semua akan kembali sebagaimana ketika dahulu kita belum memilikinya.

SMPM 5 Pucang SBY

Ketika lahir, kedua tangan kita kosong. Ketika meninggal, kedua tangan kita pun kosong. Kita datang tidak membawa apa-apa, dan kita pergi pun tidak membawa apa-apa.

Karena itu, janganlah sombong karena kekayaan dan kedudukan. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri karena kekurangan yang dimiliki. Bukankah kita semua hanyalah tamu, dan segala yang kita miliki hanyalah pinjaman?

Tetaplah rendah hati setinggi apa pun kedudukan kita. Tetaplah percaya diri sebesar apa pun kekurangan yang kita rasakan.

Ada satu hal yang benar-benar menjadi milik kita, yang tidak akan diminta kembali dan akan menemani hingga kehidupan akhirat, yaitu amal perbuatan kita.

Seperti seorang petani yang meninggalkan sawahnya ketika musim telah berakhir. Ia tidak membawa tanahnya, tidak membawa airnya, dan tidak membawa pohonnya. Namun, ia akan menikmati hasil dari apa yang telah ditanam dan dirawatnya.

Demikian pula manusia. Pada saat meninggalkan dunia, tidak ada yang dibawa selain hasil dari apa yang telah ditanam selama hidupnya.

Maka perbanyaklah amal saleh. Perbanyaklah sedekah. Istikamahlah dalam ibadah.

Sebab pada akhirnya, yang benar-benar menjadi milik kita bukanlah apa yang kita simpan, melainkan apa yang telah kita persembahkan untuk kebaikan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 13/06/2026 16:31
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu