Labu siam tumbuh melimpah di Desa Baledono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Namun tidak semuanya berakhir di meja makan atau pasar.
Sebagian dibiarkan tumbuh di pinggir jalan, dijadikan pakan ternak, bahkan dibuang karena warga belum memiliki banyak pilihan untuk mengolahnya.
Potensi tersebut mendorong Mahasiswa KKN P Kelompok 30 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mencoba memberikan nilai tambah melalui produk Labu Siam Kering Balado.
Produk itu diperkenalkan sekaligus dipraktikkan bersama Kelompok Tani Lestari di Balai Desa Baledono pada Kamis, (20/8/2026).
Melimpah, Nilai Jual Masih Rendah
Ketua KKN P 30 Aldy Yonanda mengatakan ide tersebut muncul setelah tim melihat langsung kondisi hasil pertanian di desa.
Komoditas ini tersedia cukup banyak, tetapi pemanfaatannya belum sebanding dengan jumlah yang dihasilkan.
Ketika dijual dalam kondisi segar, harganya pun relatif rendah.
“Banyak yang dibiarkan tumbuh liar di pinggir jalan karena tidak dipanen. Ada juga yang hanya dijual mentah dengan harga murah, dijadikan pakan sapi, bahkan dibuang karena masyarakat bingung harus mengolahnya menjadi apa” ujar Aldy.
Dari persoalan itu, mahasiswa berdiskusi untuk mencari bentuk olahan yang relatif mudah dibuat masyarakat sekaligus memiliki peluang dipasarkan sebagai camilan.
Pilihan kemudian jatuh pada labu siam kering dengan bumbu balado. Labu Siam Diolah Jadi Camilan Kering Balado
Tim KKN tidak hanya membawa produk jadi. Anggota Kelompok Tani Lestari diajak mengikuti langsung proses pembuatannya.
Tahapan dimulai dari memilih bahan, mengupas dan mengiris labu siam, melakukan proses pengeringan, memberikan bumbu balado, hingga mengemas produk agar siap dipasarkan.
Salah satu anggota Kelompok Tani Lestari, Ira, mengaku baru terpikir menjadikan komoditas tersebut sebagai produk usaha setelah mengikuti kegiatan.
“Dari kegiatan ini, kami mendapatkan inspirasi baru untuk memanfaatkan labu siam sebagai usaha UMKM. Selama ini, kami tidak pernah terpikir bahwa labu siam bisa diolah menjadi camilan yang memiliki nilai jual lebih tinggi” ungkapnya.
Buka Peluang Produk UMKM Baru
Ketertarikan tidak berhenti pada proses mencicipi atau mempraktikkan pembuatan produk.
Ketua Kelompok Tani Lestari, Hermin Mujianti, melihat Labu Siam Kering Balado berpeluang masuk sebagai tambahan produk pada usaha UMKM yang telah dijalankannya.
Salah satu pertimbangannya adalah bahan baku yang mudah ditemukan di sekitar desa serta kebutuhan modal produksi yang relatif terjangkau.
“Saya tertarik mengembangkan Labu Siam Kering Balado sebagai tambahan menu usaha UMKM saya. Bahannya mudah didapat dan modalnya cukup minim, hanya sekitar Rp10.000 sudah bisa menghasilkan delapan pouch siap jual” ujar Hermin.
Respons tersebut menjadi peluang agar inovasi tidak berhenti sebagai produk selama masa KKN.
Jika terus diproduksi, Labu Siam Kering Balado berpeluang menjadi salah satu produk UMKM yang memanfaatkan hasil pertanian lokal. Sekaligus memberi nilai jual lebih tinggi bagi komoditas yang selama ini tersedia melimpah di desa.





0 Tanggapan
Empty Comments