Mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Kelompok 71 menghadirkan inovasi evaluasi pembelajaran melalui media “Ubur-Ubur Kepo” di SMA Muhammadiyah 6 Karangasem, Paciran, Lamongan, Kamis (20/8/2026).
Media tersebut diterapkan Sarah dan Elita, mahasiswa PLP Umsida Kelompok 71, pada akhir kegiatan belajar mengajar (KBM) Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas XI-2.
Ubur-Ubur Kepo digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah mempelajari Bab II tentang Mengenal Cabang-Cabang Iman.
Alih-alih menggunakan evaluasi tertulis biasa, mahasiswa mengemas soal menjadi permainan yang mendorong siswa aktif memilih, menjawab, hingga memperebutkan pertanyaan.
Media itu didesain menyerupai ubur-ubur. Bagian tentakelnya dibuat dalam bentuk persegi panjang memanjang ke bawah. Setiap ubur-ubur memiliki lima tentakel yang masing-masing memuat satu pertanyaan.
Soal kemudian dibedakan berdasarkan tingkat kesulitannya dengan bobot 10 poin untuk soal mudah, 15 poin untuk soal sedang, dan 20 poin untuk soal yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi.
“Media ini kami desain menggunakan aplikasi Canva. Setelah desain selesai, kami cetak lalu digunting agar bentuknya lebih rapi sebelum ditempelkan di papan tulis” ujar Sarah.
Disesuaikan dengan Jumlah Siswa
Pembuatan Ubur-Ubur Kepo turut mempertimbangkan jumlah siswa di dalam kelas agar setiap peserta memperoleh kesempatan mengikuti evaluasi.
Kelas XI-2 SMA Muhammadiyah 6 Karangasem yang menjadi lokasi penerapan media tersebut terdiri atas 20 siswa.
Karena itu, mahasiswa menyiapkan empat ubur-ubur dengan bobot soal 10 poin. Setiap ubur-ubur memiliki lima tentakel sehingga tersedia 20 soal yang dapat diambil seluruh siswa.
Sementara itu, untuk soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi, Sarah dan Elita menyiapkan tiga ubur-ubur berbobot 15 poin serta dua ubur-ubur dengan bobot 20 poin.
Seluruh media ditempelkan di papan tulis sebelum evaluasi dimulai. Pada tahap pertama, seluruh siswa mendapatkan kesempatan maju untuk mengambil satu tentakel berisi soal 10 poin.
Siswa kemudian membaca pertanyaan yang diperoleh dan menuliskan jawabannya di buku. Jika jawabannya benar, siswa memperoleh 10 poin.
Berbeda dengan tahap pertama, pertanyaan berbobot 15 dan 20 poin menggunakan sistem rebutan. Siswa dituntut lebih cepat menentukan soal yang ingin diambil sekaligus menjawabnya dengan tepat.
“Konsepnya kami buat agar evaluasi tidak hanya mengerjakan soal seperti biasanya. Siswa juga harus berani mengambil kesempatan dan memahami materi kalau ingin mendapatkan poin lebih banyak” jelas Sarah dan Elita.
Sistem Tukar Soal
Keunikan lain Ubur-Ubur Kepo terdapat pada mekanisme pertukaran soal. Siswa yang merasa tidak mampu menjawab pertanyaan yang diperolehnya diperbolehkan memberikan soal tersebut kepada temannya.
Namun, terdapat konsekuensi dalam pilihan itu. Siswa yang menyerahkan soal tidak memperoleh poin. Adapun siswa yang menerima soal hasil pertukaran hanya mendapatkan separuh dari bobot poin apabila mampu menjawab dengan benar.
Skema tersebut tidak hanya menguji penguasaan materi. Siswa juga dituntut menentukan strategi antara tetap mencoba menjawab pertanyaan sendiri atau menyerahkannya kepada teman.
Setelah seluruh tentakel pertanyaan habis, poin yang diperoleh setiap siswa dijumlahkan. Siswa dengan akumulasi poin tertinggi memperoleh hasil evaluasi terbaik.
Sarah dan Elita mengatakan media tersebut dibuat untuk mengurangi kesan evaluasi sebagai aktivitas yang monoton, sekaligus menciptakan keterlibatan siswa setelah pembelajaran PAI berlangsung.
Unsur permainan, sistem poin, rebutan pertanyaan, dan pertukaran soal membuat siswa tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi terlibat langsung dalam proses evaluasi.
Melalui Ubur-Ubur Kepo, mahasiswa PLP Umsida Kelompok 71 berharap evaluasi pembelajaran dapat berlangsung lebih interaktif tanpa menghilangkan fungsi utamanya untuk mengetahui pemahaman siswa.
Media sederhana tersebut juga berpotensi dimodifikasi untuk berbagai materi dan mata pelajaran lain dengan menyesuaikan pertanyaan serta tingkat kesulitan soal.
Dengan demikian, evaluasi tidak hanya menjadi kegiatan penilaian di akhir pembelajaran, tetapi juga bagian dari pengalaman belajar yang aktif dan menyenangkan bagi siswa.





0 Tanggapan
Empty Comments