Kehidupan dunia bukan sesuatu yang harus dijauhi. Namun, dunia dapat berubah menjadi sumber masalah ketika kesenangan, harta, kekuasaan, dan keberhasilan tidak lagi ditempatkan sebagai sarana untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.
Pesan tersebut disampaikan mubaligh Muhammadiyah Ustaz H. Muhammad Yasri, MHI, dalam kajian kitab Riyadus Shalihin yang membahas tentang zuhud, yang dilansir di kanal Youtube Masjid Baitul Muttaqien Keputih Surabaya.
Dia mengajak jamaah memahami kembali cara Al-Qur’an memandang kehidupan dunia dan bagaimana manusia seharusnya menyikapinya.
Menurut Ustaz Yasri, Al-Qur’an tidak mencela dunia. Berbagai kenikmatan seperti keluarga, harta, peternakan, dan perkebunan merupakan bagian dari kehidupan manusia.
Persoalannya muncul ketika kecintaan terhadap dunia melampaui batas dan membuat manusia lupa terhadap tujuan hidup yang sebenarnya.
“Dunia itu alat, bukan tujuan,” menjadi salah satu garis besar pesan kajian tersebut. Ketika alat berubah menjadi tujuan, manusia berpotensi menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan keberhasilan yang bersifat sementara.
Ustaz Yasri menjelaskan, manusia secara naluriah memiliki kecenderungan mencintai berbagai kesenangan dunia. Karena itu, Islam memberikan aturan agar kecintaan tersebut tidak berubah menjadi keserakahan.
Dia mengutip Surah Ali Imran ayat 14 yang menggambarkan berbagai kesenangan yang diperindah bagi manusia. Kecintaan terhadap pasangan, anak, harta, kendaraan, hewan ternak, hingga hasil pertanian merupakan bagian dari pesona dunia.
Namun, kecintaan itu dapat menjadi berbahaya apabila tidak dikendalikan. “Cinta yang melampaui batas itu cenderung tanpa aturan,” jelasnya dalam kajian.
Menurutnya, berbagai persoalan besar dalam kehidupan manusia dapat bermula dari cara yang keliru dalam mengejar kesenangan dunia. Ketika keberhasilan menjadi satu-satunya ukuran, manusia bisa mengabaikan cara yang ditempuh untuk mencapainya.
Karena itu, yang perlu diwaspadai bukan hanya kegagalan. Keberhasilan pun perlu diwaspadai jika diraih dengan meninggalkan nilai dan aturan agama.
“Banyak orang mewaspadai yang penting tidak gagal. Semua cara dipakai. Banyak orang mewaspadai yang penting berhasil,” tuturnya.
Jangan Sampai Berhasil dengan Cara yang Salah
Ustaz Yasri kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan Surah Luqman ayat 33 yang mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia.
Menurut dia, kehidupan dunia memiliki sifat sementara. Karena itu, manusia perlu memiliki pembekalan agar tidak kehilangan arah ketika berhadapan dengan godaan harta, kedudukan, maupun keberhasilan.
Pembekalan tersebut, lanjutnya, tidak cukup hanya berupa pengetahuan. Manusia perlu membangun kebiasaan mendekat kepada Allah melalui majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, dan menjalankan ketaatan secara berkesinambungan.
Ustaz Yasri mengutip gambaran majelis ilmu yang dihadiri para pencari ilmu: dikelilingi malaikat, diliputi rahmat, dan diturunkan ketenangan. Ketenangan tersebut pada akhirnya bukan sekadar suasana tempat kajian, tetapi diharapkan menetap dalam hati.
Karena itu, belajar agama menurutnya bukan aktivitas tambahan, melainkan pembekalan untuk menjalani kehidupan. “Pembekalan itu penting,” tegasnya.
Ustaz Yasri juga mengajak jamaah melihat dampak kecintaan berlebihan terhadap dunia dalam kehidupan manusia. Ketika kepentingan material menjadi ukuran utama, persaingan dapat berubah menjadi permusuhan.
Dia menyinggung berbagai konflik yang terjadi di dunia sebagai salah satu gambaran bagaimana perebutan kepentingan dapat membawa manusia pada benturan.
Dalam perspektif Al-Qur’an, menurutnya, keberhasilan material tidak otomatis menunjukkan keberhasilan manusia yang sesungguhnya.
Sebab, kehidupan dunia hanyalah jangka pendek. Kehidupan akhirat justru merupakan kehidupan yang sebenarnya.
Pesan tersebut ia kaitkan dengan Surah At-Takatsur. Manusia dapat terlena oleh aktivitas memperbanyak harta dan berbagai pencapaian hingga akhirnya kematian datang dan kesadaran itu muncul ketika semuanya sudah terlambat.
“Kesadaran hari ini lewat Al-Qur’an. Jangan kesadaran itu muncul di alam kubur atau akhirat, karena sudah terlambat,” ujarnya.
Al-Qur’an sebagai Cara Pandang
Dalam kajian tersebut, Ustaz Yasri menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi sebagai cara pandang dalam menjalani kehidupan.
Menurutnya, cara manusia memandang dunia akan menentukan keputusan yang diambil. Jika dunia dipandang sebagai tujuan akhir, maka manusia akan cenderung mengukur segala sesuatu dengan materi dan keberhasilan jangka pendek.
Sebaliknya, jika Al-Qur’an menjadi cara pandang, dunia ditempatkan sebagai sarana menuju kehidupan akhirat.
Ustaz Yasri mengutip Surah Al-Ankabut ayat 64 bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang sebenarnya.
Karena itu, ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari banyaknya harta atau tingginya kedudukan. Yang lebih penting adalah apakah pencapaian tersebut diperoleh dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Allah.
Pada bagian lain, Ustaz Yasri menguraikan hadis tentang Abu Ubaidah bin al-Jarrah yang diutus Rasulullah saw ke Bahrain. Ketika kaum Anshar mendengar Abu Ubaidah datang membawa harta, mereka segera mendatangi Rasulullah setelah salat Subuh.
Rasulullah saw kemudian menyampaikan pesan yang menjadi penekanan penting dalam kajian tersebut.
Menurut Ustaz Yasri, Rasulullah tidak mengkhawatirkan umatnya semata-mata karena kemiskinan. Justru yang lebih dikhawatirkan adalah ketika dunia dibentangkan kepada umat sehingga mereka saling berlomba memperebutkannya.
Dalam penjelasannya, kemakmuran tanpa kendali dapat menjadi sumber kehancuran apabila manusia kehilangan orientasi spiritual.
Dia menegaskan, Rasulullah tidak sekadar mengajarkan umat agar takut terhadap kegagalan ekonomi.
“Umat juga harus mewaspadai keberhasilan ekonomi yang membuat mereka kehilangan nilai-nilai agama,” katanya.
Yang Perlu Diwaspadai Bukan Hanya Gagal
Dari keseluruhan kajian tentang zuhud tersebut, Ustaz Yasri mengajak jamaah mengubah cara melihat kesuksesan.
Menurutnya, manusia sering kali terlalu sibuk memikirkan bagaimana agar tidak gagal dan bagaimana agar berhasil. Namun, perhatian terhadap cara mencapai keberhasilan justru sering terabaikan.
“Jangan kita mewaspadai gagal berhasilnya. Mari kita waspadai pembekalannya,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah kehidupan yang semakin menempatkan pencapaian material sebagai ukuran keberhasilan.
Harta, jabatan, popularitas, dan kekuasaan memang dapat menjadi sarana kebaikan. Tetapi semuanya dapat berubah menjadi sumber kerusakan ketika manusia kehilangan kendali dan menjadikannya sebagai tujuan akhir.
Zuhud, dalam konteks ini, bukan berarti meninggalkan dunia. Zuhud justru mengajarkan manusia untuk menempatkan dunia secara proporsional: memanfaatkannya tanpa diperbudak olehnya.
Dengan cara pandang tersebut, keberhasilan tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari bagaimana sesuatu diperoleh dan untuk apa digunakan.
Sebab, sebagaimana pesan utama kajian tersebut, yang perlu dijaga bukan sekadar agar hidup tidak gagal, tetapi agar manusia tidak salah arah ketika mengejar keberhasilan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments