Menjelang berakhirnya Tahun Ajaran 2025/2026 dan memasuki masa liburan bersama keluarga, MI Muhammadiyah 23 Surabaya (MIM Duta) menggelar Perkemahan Hizbul Wathan (HW) sebagai sarana pembelajaran karakter bagi peserta didik.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis-Jumat (11–12/6/2026) di halaman sekolah, Jalan Buntaran 156 Surabaya, tersebut diikuti oleh para siswa dalam suasana yang penuh semangat dan kebersamaan.
Mengusung tema “Membangun Pemimpin Pandu Islam yang Tangguh, Mandiri, dan Berakhlak Mulia”, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya madrasah untuk memberikan pembekalan karakter sebelum peserta didik menerima rapor dan menjalani masa liburan.
Bagi MIM Duta yang dikenal sebagai madrasah karakter, Perkemahan Hizbul Wathan bukan sekadar kegiatan rekreasi. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran yang melatih kemandirian, kepemimpinan, kedisiplinan, kerja sama, tanggung jawab, serta berbagai keterampilan hidup (life skills) yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selama perkemahan, para siswa mengikuti berbagai aktivitas, mulai dari praktik kepanduan, permainan edukatif, outbound, api unggun, renungan malam, qiyamul lail, hingga berbagai kegiatan keislaman lainnya. Seluruh rangkaian kegiatan dikemas secara edukatif dan menyenangkan agar peserta dapat memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.
Kepala MIM Duta, Ainoen Nadjib, S.Pd.I., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sengaja dirancang sebagai pembekalan akhir bagi siswa sebelum memasuki masa liburan dan menerima hasil belajar mereka.
“Kami ingin memberikan bekal yang tidak hanya berupa nilai akademik dalam rapor, tetapi juga pengalaman hidup, kemandirian, kepemimpinan, dan penguatan akhlak. Harapannya, anak-anak pulang ke rumah dengan membawa nilai-nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, salah satu pembina kegiatan, Dzul Fanny, S.Th.I., menuturkan bahwa perkemahan menjadi media yang efektif untuk melatih keberanian dan tanggung jawab siswa.
“Melalui kegiatan seperti tali-temali, survival, outbound, qiyamul lail, hingga permainan kelompok, anak-anak belajar bekerja sama, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan timnya. Pembelajaran seperti ini sulit diperoleh hanya di dalam kelas,” jelasnya.
Dari sudut pandang psikologis, Amanah, S.Psi., yang turut hadir sebagai wali kelas V, menilai bahwa kegiatan yang melibatkan interaksi sosial dan tantangan yang terarah dapat membantu perkembangan mental peserta didik.
“Anak-anak belajar mengelola emosi, membangun kepercayaan diri, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Pengalaman seperti ini sangat baik untuk membentuk mental yang tangguh dan mandiri sejak usia dini,” tuturnya.
Pandangan tersebut juga mendapat dukungan dari Lilik Aflakhal, S.Psi., yang turut mendampingi kegiatan. Menurutnya, pengalaman belajar di luar kelas memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosional yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran formal.
Melalui kegiatan ini, para ustaz dan ustazah berupaya memberikan bekal terakhir berupa penguatan karakter, nilai-nilai keislaman, serta semangat kepemimpinan sebelum siswa kembali berkumpul bersama keluarga dan menerima hasil belajar mereka. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya membawa pulang capaian akademik, tetapi juga nilai-nilai akhlak mulia sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunah serta jiwa kepanduan yang diharapkan dapat menjadi bekal dalam perjalanan hidup mereka.





0 Tanggapan
Empty Comments