Otak manusia adalah mesin yang luar biasa, namun kadang juga akan mengalami “glitch”. Salah satu pengalaman paling membingungkan adalah deja vu atau paramnesia.
Deja vu (dari bahasa Prancis yang berarti “sudah pernah melihat”) adalah salah satu malafungsi otak yang paling menarik, sensasi seolah-olah kita mengulang suatu momen dari masa lalu padahal kita yakin itu pertama kali terjadi.
Deja vu hanya berlangsung selama 10 sampai 30 detik, memiliki karakter yang tidak dapat diprediksi dan terkait dengan proses ingatan/kesadaran manusia.
Tak perlu panik, sebab menurut jurnal yang diterbitkan dalam Psychiatria Danubina (2018) disebutkan sekitar 97 persen orang mengalami Deja vu minimal sekali dalam hidupnya.
Bukan sekadar ilusi singkat, fenomena ini ternyata telah memicu perdebatan panjang, baik di kalangan ilmuwan maupun pemikir spiritual.
Dari sudut pandang sains modern, Deja vu dipandang sebagai masalah sinkronisasi saraf. Dr Alan Brown, profesor psikologi di Southern Methodist University dan salah satu peneliti terkemuka tentang Deja vu, menjelaskan bahwa fenomena ini muncul ketika proses penyimpanan memori terganggu sesaat.
Menurut penelitiannya, informasi baru kadang-kadang langsung masuk ke pusat memori jangka panjang tanpa melalui memori jangka pendek terlebih dahulu. Akibatnya, saat kita mengalami sesuatu hari ini, otak keliru memberi informasi sebagai “ingatan lama” yang sedang dipulihkan.
Singkatnya, otak memberi sinyal kuat “kamu pernah di sini!”, tetapi ketika kita mencoba mengingat kapan atau di mana, tidak ada rekaman yang ditemukan.
Deja vu lebih sering dialami oleh orang dewasa muda/remaja, orang yang sering bepergian, dan orang dengan tingkat kelelahan atau stres tertentu.
Di luar penjelasan fisik dan biologis, banyak orang mencoba mencari makna lebih dalam melalui perspektif spiritual. Dalam Islam, Deja vu sering dikaitkan dengan konsep alam ruh yang disebutkan dalam Al-Qur’an.





0 Tanggapan
Empty Comments