Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bongkar Tren Kelas Kaku, Spemuga Siapkan Sekolah Sabtu Tanpa PR dan Ujian

Iklan Landscape Smamda
Bongkar Tren Kelas Kaku, Spemuga Siapkan Sekolah Sabtu Tanpa PR dan Ujian
Salah satu kegiatan Sekolah Sabtu di SMP Muhammadiyah 3 Surabaya atau Spemuga (Foto: dok/PWMU.CO)

Sekolah ini menghapus ketegangan akhir pekan dengan menerapkan konsep Sekolah Sabtu. Kebijakan tersebut mengubah hari Sabtu menjadi arena eksplorasi total tanpa bayang-bayang pekerjaan rumah (PR) ataupun ujian tertulis.

Ruang kelas di SMP Muhammadiyah 3 Surabaya kini tidak lagi sekadar menjadi tempat menghafal rumus. Menjelang Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027, riuh diskusi siswa yang merancang proyek riset dan denting alat musik tradisional mulai mendominasi atmosfer sekolah.

Langkah ini menandai transformasi besar institusi yang akrab disapa Spemuga tersebut dalam merombak total wajah pendidikan konvensional di Kota Pahlawan.

“Kami tidak sekadar membuka pendaftaran. Kami membuka jalan bagi anak-anak Surabaya untuk menjadi penakluk masa depan, bukan korban zaman,” tegas Kepala SMP Muhammadiyah 3 Surabaya, Maria Elen Veronica, M.Pd., saat ditemui di ruang kerjanya.

Langkah taktis diambil melalui peluncuran empat pilar diferensiasi baru yang berpusat pada kenyamanan belajar siswa. Sekolah ini menghapus ketegangan akhir pekan dengan menerapkan konsep Sekolah Sabtu.

Kebijakan tersebut mengubah hari Sabtu menjadi arena eksplorasi total tanpa bayang-bayang pekerjaan rumah (PR) ataupun ujian tertulis. Siswa diarahkan masuk ke dalam talent incubator yang memfasilitasi beragam minat unik. Mulai dari kelas Jurnalistik, Tapak Suci, dayung, desain grafis, tari, hingga kelas hukum yang menjadi ikon baru sekolah.

Spemuga membagi porsi pembelajaran secara presisi. Lima hari untuk mengasah ketajaman otak, satu hari penuh untuk menyalakan bakat alami. Menurut Maria Elen Veronica, anak-anak hebat hanya bisa lahir ketika mereka diberi ruang lapang untuk menemukan identitas dirinya sendiri.

“Anak-anak zaman sekarang tidak bisa lagi dipaksa belajar dengan cara lama yang kaku. Makanya di hari Sabtu, kami bebaskan mereka dari beban ujian atau PR, dan kami ganti dengan ruang eksplorasi total untuk mengasah bakat aslinya,” ujar Elen.

Modernisasi ini diperkuat lewat sistem pembelajaran berbasis digital yang meminimalkan penggunaan kertas (paperless). Buku teks konvensional diramu ulang bersama media digital interaktif agar suasana kelas tetap segar dan jauh dari kata membosankan. Gadget di tangan siswa dioptimalkan penuh sebagai senjata produktif untuk mengakses ilmu pengetahuan, bukan sekadar alat hiburan.

Di tengah gempuran arus disrupsi, sekolah ini memasang benteng pertahanan yang kokoh melalui pemenuhan karakter religius secara utuh. Spemuga memprioritaskan akhlak di atas prestasi akademik semata.

“Target kami jelas: melahirkan anak yang keyboard-nya cepat, dan hatinya juga cepat bersujud,” tambah Maria Elen Veronica saat menjelaskan rutinitas baru para siswa.

SMPM 5 Pucang SBY

Setiap hari, denyut spiritualitas sekolah dijaga lewat Program Tahfidz, salat Dhuha, serta salat Dzuhur dan Ashar berjamaah yang disambung dengan kultum secara konsisten. Ada pula program Jumat Berkah, pesantren salam, hingga seri parenting Islami yang melibatkan wali murid secara aktif.

Bagi Spemuga, otak tanpa akhlak bagaikan pedang tanpa gagang yang tajam namun justru melukai pemiliknya sendiri.

Double Track

Tahun ini, inovasi sekolah semakin lengkap dengan hadirnya program “Double Track” Menuju Puncak. Dua inkubator khusus diluncurkan untuk mematangkan kesiapan siswa menghadapi realitas luar sekolah.

Program pertama adalah Spemuga Leadership Academy. Kelas khusus ini dirancang untuk mencetak koreografer wicara.  Seperti Master of Ceremony (MC), debater handal, serta calon-calon pemimpin OSIS dan MPK. Siswa ditempa agar berani tampil, percaya diri memimpin, dan tangguh saat berhadapan langsung dengan forum formal.

Program kedua bertajuk Spemuga Young Innovator Hub, sebuah wadah riset dan proyek kreatif bagi siswa yang memiliki gagasan out-of-the-box. Proses inkubasi ini melibatkan mentor profesional dari kalangan kampus dan praktisi industri.

Target yang dipasang tidak main-main. Saban tahun harus ada karya nyata anak-anak Spemuga yang menembus kompetisi tingkat nasional.

“Di tengah kebebasan berinovasi itu, benteng utamanya tetap akhlak melalui pembiasaan ibadah harian. Karena buat apa punya murid yang jemarinya cepat di keyboard kalau hatinya sulit bersujud?” sahut Maria Elen.

Pendidikan terbaik bukan tentang seberapa keras anak mengejar ketertinggalan zaman, melainkan seberapa siap mereka dididik untuk memimpin zaman tersebut.

Bagi para orang tua di Surabaya yang sedang menimbang arah masa depan buah hatinya, pilihan kini berada di tangan. Memilih sekolah adalah memilih masa depan. Jangan titipkan anak di tempat yang hanya mengejar ranking angka, melainkan titipkan mereka di tempat yang konsisten mengejar ridho Allah sekaligus prestasi nyata.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 09/06/2026 11:34
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu