Sebelum lahir ke dunia, ruh manusia diyakini telah diciptakan dan berkumpul di alam yang disebut Alam Arwah.
Peristiwa ini sebagaimana termaktub dalam Surah Al-A’raf ayat 172, di mana Allah SWT berfirman:
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
“Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini”.
Berdasarkan ayat tersebut, manusia pada hakikatnya pernah “hidup” dan berinteraksi di alam ruh sebelum lahir ke dunia.
Sejumlah ulama dan pemikir Islam kontemporer melihat kemungkinan bahwa Deja vu merupakan sisa-sisa memori atau getaran bawah sadar dari Alam Arwah yang melintas ke dalam pengalaman duniawi.
Ketika muncul perasaan sangat familiar terhadap suatu tempat, suasana, atau ikatan batin dengan orang baru bisa jadi merupakan pantulan memori ruhani dari masa yang sangat lampau.
Kesimpulannya, Deja vu bisa menjadi faktor titik temu yang menarik antara sains dan iman. Di satu sisi, para ahli seperti Dr. Alan Brown menegaskan kompleksitas sistem biologis yang mengatur pikiran.
Di sisi lain, ayat dalam Surah Al-A’raf memperluas cakrawala kita bahwa keberadaan manusia tidak hanya terbatas pada ruang dan waktu yang kita pijak hari ini.
Maka, saat sensasi aneh itu kembali menyapa, terimalah ia bukan sebagai glitch keliru di dalam otak. Anggaplah ia sebagai bisikan sunyi; sebuah jeda yang mengingatkan bahwa jauh sebelum raga ini ada, ruh kita telah menempuh perjalanan yang teramat panjang.
Wallahu a’lamu bisshowaab.





0 Tanggapan
Empty Comments