Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Critical Thinking ala Nabi Musa AS

Iklan Landscape Smamda
Critical Thinking ala Nabi Musa AS
Oleh : Abdul Hafid Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro

Critical thinking atau berpikir kritis adalah proses mental aktif seseorang dalam memaksimalkan pikiran untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menyampaikan informasi secara objektif guna menyelesaikan permasalahan. Terkadang, berpikir kritis sering dipahami sebagai sikap yang identik dengan keraguan, bahkan dianggap sebagai bentuk pembangkangan.

Dalam perspektif Islam, berpikir kritis merupakan upaya menggunakan akal untuk mencari kebenaran, memahami hikmah dari setiap peristiwa, serta merenungkan suatu persoalan secara mendalam. Al-Qur’an telah mendorong umat manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran.

Kita dapat meneladani salah satu figur nabi yang memiliki karakter berpikir kritis yang luar biasa, yaitu Nabi Musa AS. Kisah perjalanan hidupnya tidak hanya menunjukkan sikap menerima wahyu secara pasif, tetapi juga memperlihatkan kemampuan analisis yang mendalam, keberanian bertanya, dan kecerdasan dalam menyelesaikan persoalan besar.

Berikut beberapa kisah yang mencerminkan kemampuan berpikir kritis Nabi Musa AS.

1. Mengakui Keterbatasan dan Kesadaran Diri (Self-Awareness)

Nabi Musa merupakan sosok yang analitis. Hal itu tampak ketika Allah memerintahkannya menghadapi Firaun. Musa tidak langsung menyatakan kesiapan tanpa pertimbangan, melainkan memikirkan instrumen pendukung agar dakwah dapat berjalan dengan baik.

Sebagai seorang pemimpin, Nabi Musa memahami kapasitas, kekuatan, dan kelemahannya sendiri. Dalam Surah Thaha ayat 25–35, Musa memohon kepada Allah agar dadanya dilapangkan, lisannya dilancarkan, dan saudaranya, Harun, dijadikan pendamping dalam berdakwah.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa Nabi Musa mampu mengidentifikasi keterbatasan dirinya sekaligus memikirkan strategi agar dakwah menjadi efektif melalui komunikasi yang baik. Terlebih, ia harus menghadapi penguasa zalim seperti Firaun.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa permintaan Nabi Musa kepada Allah merupakan bentuk kecerdasan emosional dan intelektual. Ia tidak hanya mengandalkan keberanian dalam berdakwah, tetapi juga memikirkan metode yang tepat dalam menyampaikan kebenaran.

Dari sini kita memahami bahwa berpikir kritis bukan sekadar memikirkan sesuatu, melainkan kemampuan membaca situasi dan mencari solusi terbaik.

2. Skeptisisme Konstruktif (Healthy Skepticism)

Contoh lain terdapat dalam Surah Al-Kahfi ayat 65–82 ketika Nabi Musa bertemu dengan Nabi Khidir.

Dalam pertemuan tersebut, Nabi Musa telah diberi pesan agar tidak bertanya apa pun selama perjalanan. Namun, Musa berulang kali mempertanyakan tindakan Nabi Khidir saat melubangi kapal, membunuh seorang anak, dan memperbaiki dinding rumah tanpa meminta imbalan.

Tindakan-tindakan itu dianggap tidak masuk akal menurut pandangan Nabi Musa.

Reaksi tersebut menunjukkan sikap skeptisisme yang sehat, yakni tidak menerima sesuatu secara spontan ketika melihat sesuatu yang tampak salah. Hingga akhirnya, Nabi Musa mendapatkan pelajaran bahwa tidak semua realitas dapat dipahami hanya dari permukaan saja. Dibutuhkan kesabaran untuk memahami konteks yang lebih luas.

Peristiwa ini menekankan bahwa berpikir kritis harus disertai kerendahan hati, karena kemampuan manusia terbatas dalam memahami hikmah.

Prof Quraish Shihab menjelaskan bahwa kisah Musa dan Khidir mengajarkan pentingnya keseimbangan antara akal dan kesabaran. Akal digunakan untuk menganalisis dan bertanya, sementara hati harus siap menerima pengetahuan yang belum diketahui manusia.

3. Fokus pada Substansi, Bukan Provokasi

Cara berpikir kritis Nabi Musa juga tampak ketika menghadapi Firaun sebagaimana dikisahkan dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 16–28.

Firaun mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menyerang Nabi Musa secara personal dan mengungkit masa lalunya. Namun, Musa menanggapinya dengan tenang dan tidak terpancing oleh serangan emosional tersebut.

Nabi Musa tetap fokus pada tujuan utama, yaitu mengajak Firaun menyembah Allah dan membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan penindasan.

Sikap ini menunjukkan kemampuan berpikir objektif dan tidak mudah terdistraksi oleh provokasi.

Nabi Musa juga menggunakan mukjizatnya sebagai bukti nyata. Tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya bukan sekadar pertunjukan kekuatan, melainkan bukti empiris untuk menghadapi para penyihir Firaun.

Hal ini membuktikan bahwa Islam menghargai bukti dan argumentasi yang jelas. Ketika para penyihir melihat mukjizat Nabi Musa, mereka mampu membedakan antara sihir dan kebenaran hingga akhirnya beriman kepada Allah.

SMPM 5 Pucang SBY

4. Berani Berdialog untuk Mengevaluasi Keputusan

Sikap kritis Nabi Musa juga terlihat dalam peristiwa Isra Mikraj.

Ketika Nabi Muhammad SAW menerima kewajiban shalat lima puluh kali sehari, Nabi Musa menyarankan agar memohon keringanan kepada Allah. Musa menilai umat manusia tidak akan mampu menjalankan kewajiban tersebut.

Nabi Musa terus memberikan masukan hingga Nabi Muhammad berkali-kali memohon keringanan kepada Allah, sampai akhirnya kewajiban shalat menjadi lima waktu dalam sehari.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Nabi Musa mampu membaca realitas sosial berdasarkan pengalamannya membimbing Bani Israil.

Sikap tersebut bukan bentuk penolakan terhadap perintah Allah, melainkan kepedulian dan evaluasi sesuai kemampuan manusia.

5. Bertanya untuk Mencari Makna

Dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa Nabi Musa dan Nabi Adam pernah berdialog tentang sebab manusia diturunkan ke bumi.

Nabi Musa bertanya mengapa Nabi Adam melakukan kesalahan yang menyebabkan keturunannya hidup penuh cobaan di bumi. Nabi Adam kemudian menjawab bahwa semua itu merupakan takdir Allah yang telah ditetapkan sebelum penciptaannya.

Dialog tersebut menunjukkan adanya diskusi terbuka tentang hikmah dan tanggung jawab manusia.

Kisah ini memperlihatkan pola pikir kritis yang berani menanyakan sebab dan akibat demi memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.

Relevansi di Era Modern

Keteladanan berpikir kritis Nabi Musa sangat relevan di era modern saat ini.

Banyak orang mudah terbawa arus informasi, hoaks, dan manipulasi opini tanpa melakukan verifikasi terhadap berita yang diterima.

Sikap Nabi Musa mengajarkan pentingnya bertanya, meneliti, dan memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan. Bertanya bukan tanda kebodohan, melainkan bentuk penghormatan terhadap kebenaran.

Dialog Nabi Musa dengan Firaun juga mengajarkan bahwa berargumen harus dilakukan dengan tenang, logis, dan tidak terpancing emosi.

Diskusi yang sehat dibangun dengan data, akal sehat, dan tujuan mencari kebenaran, bukan saling menjatuhkan.

Dari kisah Nabi Musa ini, kita belajar bahwa iman dan berpikir kritis bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru saling melengkapi.

Iman memberikan kompas moral, sedangkan berpikir kritis membantu manusia memahami realitas secara bijaksana.

Berpikir kritis akan melahirkan keinginan memahami kebenaran sekaligus mendorong manusia melakukan tindakan yang paling efektif.

Dengan meneladani Nabi Musa AS, kita dapat menjadi pribadi yang berani bertanya, cerdas membaca situasi, dan rendah hati dalam mencari kebenaran.

Revisi Oleh:
  • Satria - 22/05/2026 12:29
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡