Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pelihara Qalbu dengan Khusnudzon dan Jauhkan Suudzon

Iklan Landscape Smamda
Pelihara Qalbu dengan Khusnudzon dan Jauhkan Suudzon
Suu'dzan dapat merusak dan mengotori qalbu manusia. Khusnudzan memelihara hati dari dosa. Orang yang suka bersuu'dzan telah menunjukkan hatinya sakit atau ada penyakit dalam hatinya. (Muhsin MK/PWMU.CO).

Oleh: Muhsin MK

Qalbu bisa dimaknai hati atau nurani. Kata qalbun Salim berarti hati yang bersih, sehat dan selamat. (QS. Asy Syu’ara: 88-89, Ash Shaffat: 83-84).Insan atau setiap individu manusia dibekali dengan hati.

Ada hati bersifat jasmaniah. Sesuai sabda dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu terdapat segumpal daging.

Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati (qolbu)”. (Muttafaqun alaih).

Ada pula sebagai bagian rohaniah, yaitu tempat niat bersemi. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Pengaruh Qalbu pada Diri Insan

Adapun qalbu yang berhubungan dengan amalan, sikap dan perilaku manusia adalah yang berkaitan dengan jasmani dan rohaninya.

Hati yang bersifat jasmaniah bisa menimbulkan kebaikan dan juga kerusakan jasad (tubuh) manusia. Demikian pula hati yang bersifat rohaniah, seperti berniat dalam qalbu, berpengaruh pada diterima dan ditolaknya amal ibadah kepada Allah.

Adapun khusnudzon artinya berprasangka baik. Khusnul (baik) dan dzan (prasangka). Prasangka baik (khusnudzon) dan sebaliknya suudzon yang artinya suu’ (buruk) dan dzan (prasangka) atau lengkapnya prasangka buruk, letaknya di dalam qalbu (hati). Karena itu setiap muslim mukmin diajarkan untuk ber-khusnudzon dan dilarang ber-suudzon. (Al-Hujurat: 12).

Dipertegas dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa Sallam, “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan.

Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563).

Suudzon dapat merusak dan mengotori qalbu manusia. Khusnudzon memelihara hati dari dosa. Orang yang suka ber-suudzon telah menunjukkan hatinya sakit atau ada penyakit dalam hatinya.

Golongan Kaum Munafik

Orang yang hatinya sakit (maridh), termasuk golongan kaum munafik, yang hatinya sakit, kotor dan rusak. (QS. Al Baqarah: 10).

Karena itulah orang yang qalbunya sakit, kesukaannya ya berdusta. Termasuk orang yang ber-suudzon. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

“Di antara tanda-tanda munafik ada tiga: jika dia berbicara, dusta; jika berjanji, dia tidak menepati; jika diberi amanat, dia khianat”. (HR. Muslim no. 59), ”

Berbeda dengan orang-orang beriman senantiasa memelihara qalbunya. Karena itu pada siapapun ia ber-khusnudzon, berbaik sangka.

Ia tidaklah mungkin berdusta jika berbicara, ingkar bila ia berjanji dan khianat kalau ia diberikan amanah. Itu karakteristik orang yang khusnudzon. Sebagai bukti bahwa dirinya benar-benar beriman. Terpelihara lisan dan amalnya dan menjaga amanah dan janjinya. (QS. Al Mukminun: 1-7).

Karakteristiknya itu telah dijelaskan dalam firman Nya, “Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya, dan orang-orang yang memelihara lisan dan perbuatannya, amanah dan janji-janji nya”. (QS. Al Mukminin:1-8).

Khusnudzon pada Allah dan Takdir

Ber-khusnudzon dalam memelihara qalbu itu ada beberapa macam. Pertama, ber-khusnudzon pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini disebutkan dalam hadits qudsi,

“Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan itu untuknya. Dan jika ia berprasangka buruk kepada -Ku, maka keburukan itu untuknya.” (HR. Ahmad dan disahihkan oleh Al-Albani).

Diperkuat oleh hadits dari Jabir bin Abdullah radyallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian meninggal dunia (mati) melainkan ia dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim).

SMPM 5 Pucang SBY

Orang yang meninggal dunia itu juga merupakan qadar (ketentuan) Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Terhadap qadar atau takdir baik atau buruk yang menimpa manusia haruslah diterima dengan khusnudzon (berbaik sangka).

Karena itu bila seorang muslim mendapatkan musibah, maka akan keluar ucapan yang ahsan dan khusnudzon kepada Allah, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. (QS. Al Baqarah:155-156).

Khusnudzon pada diri sendiri

Ber-khusnudzon juga diperintahkan pada sesama manusia dalam pergaulan selama hidup di dunia. Sebagaimana yang dilakukan oleh para Rasul dan Nabi Allah terhadap para pengikutnya dan seluruh manusia. Demikian pula para pengikutnya telah diajarkan untuk mencontoh dan meneladaninya.

Dimulai dari khusnudzon pada diri sendiri. Bahwa diri setiap manusia itu diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At Tin:4).

Namun jika manusia sebagai individu merasa kurang pada keadaan fisiknya, tidak perlu merasa rendah diri. Apalagi bersikap seakan dia tidak menerima melihat tubuhnya ada kekurangan. Kekurangan dan kelebihan diri sendiri harus diterima dengan khusnudzon.

Sebab pada manusia ada yang dilahirkan dalam keadaan sempurna fisik dan mentalnya. Namun ada pula yang sebaliknya. Dirinya dalam keadaan berkebutuhan khusus (difabel). Hal ini berkaitan dengan keadaan dalam kandungan pada proses kehamilan. (QS. Ar Ra’d:8, Al Hajj:5).

Karena itu pada saat bayi lahir dan diri manusia hidup ada yang dalam keadaan tidak sempurna fisik dan mentalnya, atau difabel (berkebutuhan khusus).

Keadaan ini tentu perlu suudzon pada diri sendiri dan Allah Azza Wa Jalla. Keadaan itu sudah kehendak Allah yang tidak bisa dielakkan. (QS. Al-Qhasas: 68)

Tidak jarang juga yang difabel karena sakit dan kecelakaan. Karena seseorang sakit berat dan parah menyebabkan dirinya mengalami derita sebagai difabel.

Juga karena seseorang dapat musibah kecelakaan membuat dirinya menjadi difabel. Dalam keadaan seperti itu ia haruslah ber-khusnudzon pada dirinya dan Allah Azza Wa Jalla. Sesuai firman Nya, “Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy Syu’ara:80).

Khusnudzon pada Sesama Manusia

Pada diri sendiri saja setiap muslim diwajibkan ber-khusnudzon. Apalagi pada sesama dan orang lain lebih berkhusnudzan dari pada ber-suudzon.

Apakah itu pada kerabat, tetangga dan teman sepergaulan. Dalam Al Qur’an secara gamblang disebutkan perintah untuk khusnudzon dan larangan ber-suudzon pada sesama dan orang lain.(QS. Al Hujurat:12).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah ditegur oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena mengabaikan Abdullah bin Ummi Maktum saat beliau sedang berdakwah di kalangan orang- orang bangsawan Quraisy Mekkah.

Secara tegas Allah Azza Wa Jalla mengingatkan tentang perlunya ber-khusnudzon dengan orang lain dan sesama manusia. Apalagi pada kaum difabel dan duafa.Peringatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara jelas dan langsung disebutkan dalam Al-Qur’an, ”

Karena teguran yang menggugah qalbu itulah membuat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam berintrospeksi. Beliau pun berusaha untuk tetap memelihara qalbunya dengan baik, senantiasa bersikap khusnudzon pada siapapun. Termasuk pada kaum duafa dan difabel. (QS. Abasa:1-11).

Karena pengalaman itulah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam ikhtiar memelihara qalbu nya memperbaiki kekeliruan dan kesalahannya.

Lalu beliau menempatkan Abdullah bin Ummi Maktum Radhiyallahu ‘anhu sebagai orang dekat nya. Beliau lalu mengangkatnya sebagai muadzin kedua selain Bilal Radhiyallahu ‘anhu di Masjid Nabawi, Madinah Al Munawwarah.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 21/05/2026 14:26
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡