Bus kuning perlahan bergerak meninggalkan Markaz 78. Dari balik jendela, hamparan tenda-tenda putih Mina semakin mengecil, lalu perlahan menghilang di kejauhan.
Di tempat itulah, selama beberapa hari terakhir, jamaah KBIHU Jabal Nur Muhammadiyah Sidoarjo menjalani salah satu fase terpenting dalam ibadah haji.
Mina menjadi lokasi yang paling lama ditempati jamaah selain Makkah. Di lembah yang dipenuhi jutaan tenda tersebut, jamaah melaksanakan mabit saat Tarwiyah sebelum wukuf di Arafah, kemudian kembali lagi sejak 10 Dzulhijjah untuk menjalani rangkaian lempar jumrah hingga berakhirnya hari-hari Tasyrik.
Perjalanan meninggalkan Mina menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan.
Ada rasa lega karena seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar. Namun ada pula rasa haru yang menyelimuti hati. Sebab, tidak seorang pun tahu apakah suatu saat kelak akan kembali menjadi tamu Allah di tempat yang sama.
Belajar Hidup dalam Kesederhanaan
Selama berada di Mina, jamaah hidup dalam suasana yang sangat sederhana.
Kasur berukuran sekitar 50 sentimeter kali dua meter menjadi ruang pribadi yang harus dibagi bersama ribuan jamaah lain dari berbagai daerah dan kelompok bimbingan.
Di atas kasur-kasur itulah jamaah beristirahat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bercengkerama, hingga melaksanakan salat berjamaah.
Salat Zuhur, Asar, dan Isya dilakukan dengan qasar, diringkas dari empat rakaat menjadi dua rakaat sebagaimana tuntunan syariat bagi para musafir.
Kesederhanaan itu justru menghadirkan pelajaran berharga tentang kebersamaan dan kesabaran.
Menikmati Makanan dengan Cara Sederhana
Salah satu kenangan yang sulit dilupakan jamaah adalah soal konsumsi.
Selain menerima makanan katering berupa nasi, sayur, dan lauk, jamaah juga memperoleh berbagai makanan siap saji seperti rendang, opor ayam, maupun gulai.
Awalnya makanan tersebut hanya direndam menggunakan air panas sebelum disantap. Namun berkat pengalaman Pak Supii, seorang purnawirawan Marinir yang tergabung dalam rombongan, jamaah menemukan cara yang lebih nikmat.
Bungkusan makanan dimasukkan ke dalam pemanas air hingga mendidih beberapa menit.
Hasilnya ternyata jauh berbeda.
Nasi menjadi lebih hangat, lauk terasa lebih lembut, dan cita rasanya semakin mendekati makanan yang baru dimasak.
“Hasilnya jauh lebih enak, seperti makan nasi biasa,” ujar salah seorang jamaah sambil tersenyum.
Selain itu, buah-buahan seperti apel dan jeruk hampir selalu tersedia. Sesekali jamaah juga mendapatkan jus mangga, jus jeruk, maupun roti yang membantu menjaga stamina selama menjalani ibadah.
Kisah Abadi Bernama Antrean Toilet
Jika ada satu cerita yang hampir selalu muncul dalam obrolan jamaah Mina, jawabannya adalah toilet.
Jumlah toilet yang terbatas membuat antrean menjadi pemandangan sehari-hari.
Untuk jamaah laki-laki, fasilitas yang tersedia berupa toilet multifungsi yang digunakan untuk mandi, buang air besar, maupun buang air kecil.
Akibatnya, antrean sering kali mengular.
Satu toilet bisa ditunggu enam hingga delapan orang sekaligus.
Bahkan muncul strategi tersendiri dalam memilih antrean. Sebagian jamaah sengaja berdiri di belakang orang yang tidak membawa sabun atau handuk dengan harapan ia hanya akan buang air kecil sehingga antrean bergerak lebih cepat.
Namun strategi itu tidak selalu berhasil.
Terkadang orang yang tampak hanya membawa diri ternyata tetap mandi di dalam.
Meski demikian, ada satu hal yang sangat mengesankan.
Kesabaran.
Tidak terdengar teriakan.
Tidak ada yang mengetuk pintu dengan keras.
Tidak ada yang memaksa orang lain mempercepat urusannya.
Semua menunggu dengan tenang.
Bahkan ketika antrean panjang, banyak jamaah justru memanfaatkan waktu untuk berkenalan dan berbincang dengan orang-orang di sekitarnya.
Ada pula kisah lucu tentang jamaah yang “merantau” ke Markaz 77 demi mencari toilet yang lebih lengang. Tak jarang petugas harus berjaga di jalur penghubung agar jamaah tidak berpindah markaz hanya untuk berburu kamar mandi.
Menjelang 12 Dzulhijjah, suasana mulai berubah.
Banyak jamaah mengambil nafar awal dan meninggalkan Mina lebih cepat. Antrean yang biasanya panjang perlahan berkurang, bahkan beberapa toilet tampak kosong tanpa penunggu.
Perkemahan Akbar yang Tak Ada Duanya
Di balik segala keterbatasan itu, Mina tetap meninggalkan kesan mendalam.
Hamparan tenda putih yang berjajar tanpa putus, jalan-jalan yang dipenuhi jutaan manusia, serta suasana ibadah yang berlangsung siang dan malam menjadikan Mina sebagai perkemahan terbesar di dunia yang sulit dicari tandingannya.
Di tempat inilah jamaah belajar tentang kesabaran.
Di tempat ini pula jamaah belajar tentang kebersamaan, kesederhanaan, dan kepatuhan.
Saat bus semakin jauh meninggalkan Mina, banyak jamaah memilih diam memandangi tenda-tenda yang perlahan menghilang dari pandangan.
Sebagian mengusap mata.
Sebagian lagi hanya menatap tanpa berkata-kata.
Mina bukan sekadar tempat singgah dalam perjalanan haji.
Mina adalah ruang pembelajaran yang akan selalu dikenang.
“Ya Allah, undanglah kami kembali. Izinkan kami menjadi tamu-Mu lagi di tanah suci ini.”
Doa itu berulang kali terucap dalam hati para jamaah.
Kini Mina telah ditinggalkan.
Namun kenangan tentangnya akan terus menetap dalam ingatan, menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang tak akan pernah terlupakan.





0 Tanggapan
Empty Comments