Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Waspadai 7 Luka Tak Berdarah yang Menghancurkan Karakter Siswa

Iklan Landscape Smamda
Waspadai 7 Luka Tak Berdarah yang Menghancurkan Karakter Siswa
Imam Sapari, S.H.I., M.Pd.I. Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I Kepala SMP Muhammadiyah 7 – Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya

Senin pagi, seperti biasa bel sekolah berbunyi, menandai dimulainya rutinitas yang tampak biasa. Di sebuah ruang kelas, di sela derit bangku yang bergeser dan tumpukan buku yang tersusun, sebenarnya tengah berlangsung dialog batin yang dapat menentukan arah masa depan siswa.

Namun, di balik normalitas yang kasat mata, tersimpan sisi gelap yang tak pernah tercatat dalam jurnal kelas, tak terjangkau kamera CCTV, tak masuk laporan kurikulum, bahkan luput dari perhatian kepala sekolah.

Di sela penyampaian materi, ada kata-kata yang terlontar tanpa beban, tatapan yang merendahkan, serta gestur yang dianggap sepele oleh guru, tetapi dirasakan sebagai hantaman yang menyakitkan bagi jiwa seorang anak.

Tanpa setetes darah, karakter siswa bisa terluka dan perlahan runtuh oleh perilaku yang sering kali dianggap kecil, lumrah, bahkan remeh.

1. Labelling: Memberi Julukan Buruk yang MelekatSebagian guru kerap memberi julukan seperti “si tukang tidur” atau “si pembuat onar” hanya karena kesalahan sesaat. Bagi siswa, ucapan guru dapat menjadi vonis. Ketika julukan itu terus diulang, mereka bisa berhenti berusaha menjadi lebih baik karena merasa identitas buruk tersebut telah melekat pada diri mereka.

2. Membandingkan Siswa di Depan UmumNiat untuk memotivasi justru sering berujung sebaliknya. Membandingkan siswa hanya menumbuhkan rasa rendah diri dan memicu kecemburuan. Alih-alih terinspirasi, siswa justru merasa tidak berharga dan kehilangan semangat.

3. Hukuman yang Tidak Relevan dan MempermalukanHukuman yang mempermalukan di depan teman-teman tidak menumbuhkan disiplin, melainkan rasa takut dan dendam. Siswa tidak belajar tanggung jawab, tetapi belajar membenci aturan. Hukuman seharusnya relevan dan mendidik agar siswa memahami konsekuensi dari setiap tindakan.

4. Mengabaikan Sisi Manusiawi demi AdministrasiKesibukan mengejar target materi sering membuat guru lupa bahwa yang dihadapi adalah manusia, bukan sekadar peserta didik. Sikap dingin, tanpa sapaan atau empati, membuat siswa merasa terasing. Dari sinilah rasa hormat mulai memudar karena mereka merasa tidak dianggap.

SMPM 5 Pucang SBY

5. Mengajarkan Kebaikan Tanpa KeteladananSiswa adalah peniru ulung. Mereka lebih melihat tindakan daripada mendengar nasihat. Ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan guru akan meruntuhkan nilai moral yang diajarkan. Larangan tanpa keteladanan hanya akan dianggap sebagai formalitas.

6. Menyampaikan Teguran Lewat Sindiran TajamSarkasme atau sindiran sering dianggap cara halus untuk menegur. Padahal, bagi siswa, hal tersebut dapat menjadi luka psikologis yang membekas lama. Ruang kelas pun berubah dari tempat aman menjadi ruang yang menegangkan.

7. Menilai Hasil dan Mengabaikan ProsesFokus berlebihan pada nilai akhir mendorong siswa menghalalkan segala cara, termasuk menyontek. Tanpa disadari, hal ini menanamkan pemahaman bahwa hasil lebih penting daripada kejujuran. Padahal, proses dan integritas jauh lebih bermakna.

Penutup Menjadi guru berarti memegang tanggung jawab besar terhadap pembentukan karakter, mental, dan jiwa siswa. Satu kalimat tulus dapat menumbuhkan harapan, tetapi satu sikap yang keliru bisa mematahkan semangat.

Karena itu, penting untuk lebih berhati-hati dalam bertutur dan bersikap. Dari hal-hal kecil itulah karakter siswa terbentuk. Kebaikan yang ditanam akan kembali, demikian pula sebaliknya.

Semoga setiap langkah kita menjadi bagian dari ikhtiar membangun generasi yang kuat, berakhlak, dan berdaya. Semangat berjuang, Bapak dan Ibu guru. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 27/04/2026 10:56
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu