Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), 6–9 Agustus 2026, menjadi pengalaman berkesan bagi Samsul Arifin, utusan Pimpinan Daerah (Pimda) 072 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kota Probolinggo.
Bagi Samsul, Muktamar tidak hanya menjadi ruang permusyawaratan organisasi, tetapi juga momentum untuk memperkuat silaturahmi, menambah wawasan, dan menyatukan langkah demi kemajuan Tapak Suci.
“Dari sisi peserta, seluruh rangkaian kegiatan memberikan pengalaman berharga dalam mengikuti dinamika organisasi tingkat nasional, mulai dari Tanwir, sidang pleno, sidang komisi, hingga proses penetapan kepemimpinan dan program organisasi periode 2026–2031,” ujarnya.
Menurut Samsul, rangkaian agenda Muktamar memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengikuti secara langsung dinamika organisasi Tapak Suci di tingkat nasional.
Selain menjadi forum pembahasan berbagai agenda organisasi, pertemuan tersebut juga mempertemukan kader, pendekar, pimpinan, dan utusan dari berbagai daerah. Pertemuan itu menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi sekaligus memperluas wawasan mengenai perkembangan Tapak Suci.
Samsul juga menyampaikan apresiasi kepada panitia dan penyelenggara yang telah bekerja keras mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan Muktamar XVI.
Menurutnya, agenda yang padat serta keterlibatan peserta dari berbagai daerah membuat penyelenggaraan Muktamar membutuhkan koordinasi dan kerja sama yang kuat.
Penyelenggaraan Muktamar, lanjutnya, menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi dan kebersamaan keluarga besar Tapak Suci.
Samsul berharap hasil Muktamar XVI tidak berhenti sebagai keputusan yang hanya tersimpan dalam dokumen organisasi. Ia berharap berbagai keputusan tersebut dapat diwujudkan dalam program nyata di tingkat organisasi.
Hal itu mencakup penguatan kaderisasi, peningkatan prestasi, serta semakin kokohnya sinergi antara Tapak Suci dan Persyarikatan Muhammadiyah.
“Semoga hasil Muktamar dapat menjadi pijakan bersama untuk membawa Tapak Suci semakin maju, berkemajuan, berprestasi, berkarakter, dan tetap teguh dalam menjalankan amanah Persyarikatan Muhammadiyah,” harapnya.
Bagi Pimda 072 Tapak Suci Kota Probolinggo, pengalaman mengikuti Muktamar XVI diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman personal. Nilai-nilai musyawarah, konsolidasi, silaturahmi, dan semangat kebersamaan yang diperoleh selama forum dapat dibawa pulang untuk memperkuat gerakan Tapak Suci di tingkat daerah.
Dengan demikian, Muktamar bukan hanya menjadi momentum menyatukan langkah di tingkat nasional, tetapi juga menjadi energi baru bagi kader dan pimpinan di daerah untuk menerjemahkan keputusan organisasi menjadi gerakan nyata.





0 Tanggapan
Empty Comments