Allah Azza wa Jalla telah merajut takdir dengan presisi yang sempurna. Jauh sebelum hamparan bumi dan langit diciptakan, segala kebutuhan makhlukNya telah ditetapkan, termasuk urusan rezeki.
Dalam perspektif Islam, rezeki bukan sekadar urusan angka atau lembaran materi. Secara etimologis, lafaz “rizq” mencakup segala sesuatu yang berfaedah dan diberikan kepada makhluk hidup demi keberlangsungan eksistensinya.
Memahami hakikat ini adalah fondasi krusial dalam keimanan; sebuah keyakinan bahwa Sang Khalik adalah penjamin mutlak bagi setiap bernyawa.
Porsi rezeki setiap makhluk telah ditakar dengan keadilan yang absolut.
Sebagaimana semut kecil yang tak pernah luput dari santapan meski di celah batu, hingga gajah yang membutuhkan asupan besar, semua mendapatkan bagiannya.
Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Hud ayat 6: “Dan tidak satupun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya…”
Ketetapan ini adalah janji langit yang tak mungkin diingkari.
Bahkan, Rasulullah SAW menegaskan melalui hadis yang diriwayatkan Abu Nu’aim bahwa Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan sebuah kepastian: tidak akan wafat seorang manusia sebelum ia menyempurnakan seluruh jatah rezekinya.
Namun, di tengah jaminan yang kokoh ini, manusia kerap terjebak dalam amnesia spiritual.
Kita sering melupakan tujuan primordial penciptaan, sebagaimana termaktub dalam QS. Az-Zariyat ayat 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Ayat ini merupakan kompas hidup yang menegaskan bahwa ibadah—dalam arti luas yang mencakup ketaatan, ketundukan, dan pengakuan atas keesaan-Nya—adalah poros utama eksistensi kita.
Di sinilah setan menjalankan muslihatnya. Melalui bisikan halus, setan memanipulasi persepsi manusia sehingga menganggap rezeki sebagai tujuan akhir hidup, bukan sarana.
Ketika kekayaan dan kekuasaan dipandang sebagai parameter kesuksesan tunggal, manusia mulai limbung.
Ibadah pun terabaikan. Lebih jauh, setan menggiring manusia pada kesesatan fatal, seperti bergantung pada jasa dukun atau “orang pintar” demi melancarkan peruntungan.
Tak jarang pula, muncul benih hasad (dengki) di dalam hati.
Manusia merasa rezekinya “direbut” oleh orang lain, yang pada gilirannya menghancurkan jalinan silaturahmi bahkan ikatan kekerabatan.
Fenomena ini kian nyata di era digital. Platform seperti TikTok dan YouTube menawarkan iming-iming materi dan popularitas yang menggiurkan.
Banyak orang berkompetisi memamerkan pesona demi meraup reward dan pengakuan publik.
Bagi seorang mukmin yang cerdas, teknologi ini bukanlah musuh, melainkan peluang.
Mereka memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah dan menebar kemaslahatan tanpa menggadaikan harga diri, akhlak, apalagi keimanannya.
Sebab, mereka sadar bahwa rezeki hanyalah instrumen untuk mendukung ketauhidan, bukan tujuan yang harus dicapai dengan segala cara.
Secara konseptual, rezeki dalam Islam bersifat eksklusif bagi setiap jiwa; ia tidak akan tertukar, tidak akan terambil, dan tidak akan salah alamat.
Namun, kepastian ini bukan pembenaran untuk sikap fatalisme atau pasrah tanpa daya.
Sebaliknya, jaminan Tuhan justru menjadi bahan bakar bagi manusia untuk berikhtiar dengan cara yang thayyib (baik) dan halal.
Ikhtiar adalah bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah untuk menyebar di muka bumi mencari karunia-Nya.
Penting bagi kita untuk memperluas cakrawala berpikir.
Mempersepsikan rezeki hanya sebatas uang adalah sebuah penyempitan makna (narrow minded).
Rezeki lahiriah memang mencakup kesehatan fisik, makanan, pakaian, dan harta.
Namun, ada rezeki batiniah yang jauh lebih berharga: ketenangan hati (tuma’ninah), kecerdasan intelektual, ilmu yang bermanfaat, rasa syukur yang mendalam, serta keharmonisan dalam keluarga.
Secara garis besar, terdapat tiga prinsip utama rezeki:
1. Terjamin: Setiap nyawa memiliki jatah tetap yang akan habis tepat saat napas terakhir berhembus.
2. Tidak tertukar: Apa yang menjadi milikmu tidak akan pernah menjadi milik orang lain, meski ia berusaha merebutnya.
3. Harus diusahakan: Rezeki menuntut ikhtiar sebagai bentuk peribadatan dan tanggung jawab kemanusiaan.
Dalam perjalanannya, rezeki hadir melalui berbagai pintu. Ada rezeki yang diusahakan melalui bekerja atau berdagang.
Ada rezeki tak terduga (min haitsu laa yahtasib) seperti pemberian tiba-tiba atau bantuan di saat genting.
Dan yang paling utama adalah rezeki karena syukur. Syukur memberikan sentuhan “keberkahan”.
Rezeki yang tidak berkah mungkin terlihat besar secara kuantitas, namun pemiliknya selalu merasa kurang.
Sebaliknya, rezeki yang berkah bersifat kualitas; meski sedikit secara angka, ia mencukupi kebutuhan, mendatangkan ketenangan, dan mendorong pemiliknya untuk terus berbuat baik.
Pintu rezeki dapat dibuka melalui dua jalur utama: Jalur Langit (spiritual) melalui tobat, istigfar, ibadah, dan tawakal; serta Jalur Hablum minannas (sosial) melalui silaturahmi, bakti kepada orang tua, dan sedekah.
Hasan Al-Bashri, sang zahid terkemuka, pernah berujar bahwa setiap nikmat yang tidak membawa ke surga adalah semu, dan setiap ujian yang tidak menggiring ke neraka adalah ringan.
Kesimpulannya, segala kenikmatan duniawi hanyalah titipan sementara yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Sebaliknya, ujian dan musibah adalah bentuk kasih sayang Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya yang bersabar.
Tugas kita bukanlah mengkhawatirkan jaminan Allah, melainkan memastikan bahwa setiap langkah kita dalam menjemput rezeki tetap berada dalam koridor rida-Nya.***






0 Tanggapan
Empty Comments