Perjalanan pulang ke kampung halaman (mudik) dan kembali ke kota perantauan (arus balik) selalu memberikan pelajaran berharga bagi siapa pun, terlebih bagi saya yang kerap memperoleh ilmu baru dari para pemudik. Setiap Lebaran, saya selalu menulis tentang pernak-pernik perjalanan. Namun, setiap tahun, “pernak-pernik” itu selalu berbeda.
Bagi para peneliti ilmu sosial, budaya, dan ekonomi, maupun para pencari cuan melalui media sosial, peristiwa arus mudik dan arus balik merupakan laboratorium empirik yang kaya akan data primer yang sulit diperoleh pada hari-hari biasa. Tanpa harus bersusah payah mencari, data seolah tersedia dengan sendirinya di sepanjang perjalanan—tinggal kita cermati dari kanan dan kiri.
Semakin tahun, perjalanan mudik selalu berubah, seiring dengan pesatnya perkembangan fasilitas informasi dan teknologi. Dahulu, masyarakat masih mengandalkan siaran langsung dari televisi.
Kini, arus informasi bergeser ke berbagai media sosial seperti YouTube, Facebook, dan Instagram. TikTok yang sebelumnya lebih dikenal sebagai platform untuk aktivitas jual-beli daring, kini telah meluas ke ranah sosial, pendidikan, hingga pengembangan teknologi.
Siaran langsung dari berbagai tempat saat Lebaran, termasuk perjalanan mudik dan arus balik melalui TikTok, menjadi sangat masif dan turut memengaruhi dinamika sosial. TikTok dengan cepat memanfaatkan kemajuan teknologi terkini sehingga menarik minat generasi muda untuk menggunakannya.
Ingin mampir ke kedai tertentu, TikTok telah menyediakan berbagai fiturnya. Ingin mengunjungi tempat wisata, beragam siaran langsung sudah tersedia. Demikian pula dengan fasilitas di Google Maps yang dari tahun ke tahun semakin akurat dan presisi.
Dulu, masih ada yang tersasar ke jalan buntu, bahkan hingga masuk ke area pemakaman. Kini, teknologi semakin canggih dalam memilih jalur perjalanan yang paling ideal untuk dilalui.
Dulu, pengguna hanya dapat memilih jalan yang tersedia. Sekarang, sudah bisa memilih rute dengan jumlah pengguna jalan yang relatif lebih sedikit atau tidak macet. Ini merupakan perbaikan algoritma yang sangat positif. Mungkin, tahun depan Google Maps sudah dapat menambahkan variabel seperti lebar jalan, jumlah lampu lalu lintas, serta jumlah belokan.
Ke depan, bukan tidak mungkin akan hadir aplikasi yang menampilkan kondisi rest area yang padat saat Lebaran. Hal ini sangat mungkin terjadi, mengingat perkembangan teknologi sensor visual yang semakin hari semakin presisi dan canggih.
Sebelumnya, perjalanan mudik ditemani oleh compact disc dan flashdisk. Kini, semuanya beralih ke layanan siaran langsung melalui YouTube dan Spotify yang berbasis daring. Paket internet harus selalu aktif, dan para penyedia sinyal dituntut mampu menghadirkan semakin banyak titik jangkauan di berbagai wilayah. Artinya, tradisi menyimpan file secara mandiri mulai ditinggalkan, terlebih jika harus menggunakan media penyimpanan berbayar.
Saat ini, hampir semua konten tersedia melalui penyedia jasa, dan kita tinggal menggunakannya. Ada layanan gratis bagi pengguna yang sekadar ingin menikmati kemudahan teknologi dan kepuasan sesaat. Di sisi lain, tersedia pula layanan berbayar dengan sistem berlangganan, yang ditujukan bagi segmen pengguna yang lebih spesifik—bukan hanya penikmat, tetapi juga pengguna yang membutuhkan kualitas dan kenyamanan lebih.
Fenomena ini menunjukkan bahwa para penyedia layanan dan aplikasi telah merancang strategi bisnisnya secara cermat untuk memutar “roda keuntungan”. Semua bergerak cepat mengikuti perkembangan zaman, sementara teknologi terus melaju, mencari dan menempatkan diri pada titik paling optimal sesuai dengan kebutuhan di masanya.
Saya benar-benar tidak menyangka, membeli jambu kristal di kampung pun kini sudah bisa menggunakan QRIS. Padahal, lokasinya benar-benar di pelosok. Saya juga sempat terkejut, bahkan untuk sekadar memompa ban, sudah terpampang tulisan “dapat menggunakan QRIS”. Wow, hebat sekali. Hampir semua warung kecil di pelosok kini sudah terdaftar di Google. Bahkan, sebuah musala kecil di lereng gunung pun sudah memiliki alamat di Google Maps.
Kini, kehidupan di kampung tidak lagi seperti dulu yang mengharuskan kita berjalan kaki untuk bersilaturahmi dari satu rumah ke rumah lain. Banyak interaksi bisa dilakukan melalui siaran langsung di TikTok. Hidangan di meja pun tidak lagi sebanyak dulu, dan aktivitas memasak bersama—seperti membuat jenang, ayam panggang, atau tumpeng—tidak lagi sesibuk dahulu. Sekarang, cukup dengan beberapa klik, ayam ingkung Lebaran sudah bisa diantar ke rumah. Hidup benar-benar menjadi semakin sederhana dan praktis. Teknologi telah mengubah banyak perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, saat terpisah di tempat wisata yang luas, kita cukup mengaktifkan fitur berbagi lokasi di Google Maps untuk saling menemukan dengan mudah.
Dulu, saat pulang kampung, semua anggota keluarga berkumpul hingga rumah terasa penuh sesak. Sekarang, cukup dengan mencari di Google, berbagai pilihan penginapan tersedia. Fasilitasnya pun lengkap: dapur, perlengkapan kamar mandi, air panas, hingga Wi-Fi dengan sinyal yang kuat. Bahkan, beberapa tempat juga menyediakan perangkat gim. Pendek kata, dunia benar-benar telah berubah.
Kereta api kini semakin rapi dan tertib. Beberapa kilometer sebelum tiba di stasiun tujuan, penumpang sudah diberi informasi, termasuk posisi pintu keluar di sebelah kanan. Meski demikian, informasi detail mengenai stasiun tujuan masih bisa ditingkatkan. Namun, secara umum, perkembangan ini sudah cukup baik.
Dulu, kondektur harus memeriksa tiket satu per satu dari gerbong depan hingga gerbong paling belakang. Sekarang, kondektur cukup berjalan santai di dalam kereta, bahkan cukup memantau melalui ponsel karena sistem sudah terdigitalisasi. Meski begitu, masih belum tersedia kartu tiket terintegrasi yang dapat digunakan untuk berpindah-pindah moda transportasi umum. Selain itu, belum ada pula tiket khusus Lebaran yang memungkinkan perjalanan ke berbagai tujuan dalam satu hari dengan satu tarif tertentu untuk berbagai jenis transportasi.
Apakah ini sekadar mimpi? Tentu tidak. Ini adalah harapan dan cita-cita yang sangat mungkin terwujud di masa depan.
Dulu, meramu bumbu rujak masih mengandalkan perasaan. Sekarang, takaran bisa dibuat lebih presisi dengan bantuan AI. Dulu, memesan wedang kopi umumnya menghasilkan rasa dengan kekentalan yang relatif sama. Kini, dengan dukungan AI, setiap pelanggan dapat memiliki komposisi yang berbeda sesuai preferensinya.
Mertua saya yang sudah sepuh bahkan bisa memberi informasi bahwa di sekitarnya tidak ada sinyal karena banyak orang mudik. Padahal, pada masa lalu, untuk mengetahui ada atau tidaknya sinyal, seseorang seolah harus memiliki pengetahuan teknis tingkat lanjut, layaknya mahasiswa semester akhir di fakultas teknik elektro.
Rumah di kota yang ditinggal mudik kini dapat dikendalikan dari jarak jauh, termasuk pengaturan penyalaan lampu dari belahan bumi lain. Bahkan, di Jepang, ada rumah yang dijaga oleh robot humanoid saat ditinggal penghuninya bepergian ke luar negeri.
Di sisi lain, ada hal-hal yang tetap bertahan secara tradisional. Bakul sate, misalnya, masih setia dengan cara lama dalam mengipas arang dan meramu bumbu. Cara itu nyaris tidak berubah dari waktu ke waktu. Namun, menarik juga membayangkan jika suatu saat mereka memanfaatkan AI, sehingga hembusan angin pada arang pembakar bisa diatur selaras dengan cita rasa yang diinginkan.
Perjalanan mudik ke Purbalingga kini pun terasa berbeda. Dulu, untuk menikmati Gunung Slamet, orang harus melewati jalur pendakian yang terjal, bermalam di Samarantu dan Pelawangan dengan napas tersengal, bahkan berisiko terkena hipotermia. Sekarang, cukup berada di kaki gunung, menggelar tikar sambil mengendalikan drone. Kopi hangat dan mendoan pun sudah tersedia di dekat kita.
Mungkin, sepintas kita melihat warung desa yang sangat sederhana—dengan gebyog kayu dan genteng tanah—namun di dalamnya telah ditunjang oleh peralatan digital. Inilah era teknologi yang sudah merasuk ke setiap individu, bahkan hingga ke pelosok sekalipun. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments