Penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah mulai Ramadhan tahun ini kembali memantik perbincangan di tengah umat.
Di satu sisi, kebijakan ini dipahami sebagai langkah strategis menuju persatuan penanggalan Islam. Namun di sisi lain, respons kritis hingga tudingan miring juga muncul dari sebagian kalangan.
Secara prinsip, KHGT dilandasi semangat menghadirkan satu sistem kalender yang dapat menjadi rujukan bersama umat Islam dalam menetapkan hari-hari besar keagamaan.
Gagasan ini bukan sekadar teknis astronomi, melainkan bagian dari upaya membangun keseragaman sistem waktu dalam skala global.
Semangat Persatuan dalam KHGT
Di lingkungan internal Muhammadiyah, kebijakan ini disambut dengan antusias. KHGT dipandang sebagai ikhtiar mengakhiri polemik tahunan mengenai perbedaan awal dan akhir Ramadhan, Syawal, maupun Dzulhijjah.
Dengan pendekatan hisab berbasis perhitungan ilmiah, warga Persyarikatan memperoleh kepastian dalam menetapkan waktu ibadah. Kepastian ini dinilai penting dalam konteks masyarakat modern yang membutuhkan sistem waktu terukur dan terintegrasi.
Respons Beragam dari Eksternal
Meski demikian, respons berbeda muncul dari sebagian kelompok Islam tradisional maupun kalangan yang berpegang pada pendekatan tekstual.
KHGT dinilai menyelisihi metode yang selama ini menjadi rujukan, khususnya dalam penetapan awal dan akhir bulan hijriah.
Bahkan, muncul anggapan bahwa kebijakan tersebut berpotensi memecah belah umat. Ironisnya, kritik terhadap keputusan organisasi terkadang berkembang menjadi serangan personal terhadap warga dan simpatisan Muhammadiyah.
Mereka yang sekadar menjalankan keputusan Persyarikatan justru menjadi sasaran sindiran hingga perundungan di ruang publik dan media sosial.
Perbedaan Metode Bukan Hal Baru
Perbedaan metode dalam menentukan awal bulan hijriah sejatinya bukan fenomena baru. Sejak lama, umat Islam mengenal pendekatan rukyat dan hisab sebagai dua bentuk ijtihad yang memiliki landasan argumentatif masing-masing.
Dalam konteks global, wacana penyatuan kalender Islam juga telah lama dibahas dalam forum internasional seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Artinya, KHGT bukanlah langkah yang muncul secara tiba-tiba, melainkan bagian dari diskursus panjang dunia Islam dalam merespons perkembangan zaman.
Kedewasaan dalam Menyikapi Perbedaan
Karena itu, warga Persyarikatan diharapkan menyikapi dinamika ini dengan kepala dingin. Respons reaktif hanya akan memperkuat narasi bahwa perbedaan adalah awal perpecahan. Padahal, perbedaan metode merupakan keragaman ijtihad yang masih berada dalam koridor syariat.
Kedewasaan sikap menjadi kunci. Menjalankan keputusan organisasi tidak harus dibarengi perasaan paling benar. Begitu pula kritik tidak perlu dibalas dengan cemooh.
Persatuan umat tidak selalu berarti keseragaman praktik, melainkan kemampuan untuk saling menghormati dalam perbedaan.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan sekadar soal siapa yang memulai lebih dahulu atau mengakhirinya lebih akhir. Ramadhan adalah madrasah pengendalian diri.
Jika dalam menahan lapar dan dahaga kita mampu bersabar, maka dalam menghadapi perbedaan pun seharusnya kita mampu menahan diri.
Perbedaan awal dan akhir puasa tidak mengurangi nilai ibadah seseorang di hadapan Allah. Yang justru menguranginya adalah ketika hati dipenuhi prasangka, lisan dipenuhi cemooh, dan jari-jemari ringan menuliskan ejekan di media sosial.
Bagi warga Muhammadiyah, istiqamah menjalankan keputusan Persyarikatan tanpa sikap superior adalah bentuk kedewasaan berorganisasi. Sementara bagi saudara-saudara di luar Muhammadiyah, penghormatan terhadap ijtihad yang berbeda menjadi wujud ukhuwah yang lebih luas.
Semoga Ramadhan kali ini tidak hanya mengajarkan kita menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perasaan paling benar sendiri.






0 Tanggapan
Empty Comments