Idulfitri hadir setiap tahun sebagai muara dari ibadah Ramadan.
Di bulan tersebut, umat Islam menjalani ibadah puasa dan amalan lainnya yang memproses seorang muslim menjadi insan bertakwa—pribadi yang bersih dari dosa, kaya akan amal, dan mulia di sisi Allah.
Mereka adalah insan yang kembali kepada fitrah, yang kebahagiaannya dirayakan melalui kedatangan Idulfitri.
Kembali kepada fitrah melalui proses ibadah Ramadan adalah sebuah keniscayaan, karena hanya Allah yang berkuasa mengembalikan hamba-Nya pada kesucian.
Hal ini sejalan dengan firman-Nya dalam Surah Ar-Rum ayat 30: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia berada di atas (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.”
Secara etimologi, kata fitri berasal dari akar kata f-t-r (fa-tho-ro) yang berarti membuka atau menguak.
Dalam bahasa Arab, fitrah mencakup makna perangai, tabiat, asal kejadian, agama, serta keadaan yang suci.
Dengan demikian, Idulfitri dimaknai sebagai hari raya untuk kembali ke keadaan suci tanpa dosa.
Selain itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga mengartikan fitrah sebagai sifat asli, bakat, dan pembawaan perasaan keagamaan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya menjelaskan tentang fitrah, “Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah. Maka, bapak ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nasrani, atau menjadikannya Majusi. Sebagaimana halnya hewan ternak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan sehat. Apakah Engkau melihat hewan itu terputus telinganya?” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658).
Selain itu hadis dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sepuluh hal yang termasuk fitrah: (1) mencukur kumis, (2) memanjangkan jenggot, (3) bersiwak, (4) menghirup air ke hidung (ketika wudhu), (5) memotong kuku, (6) mencuci ruas-ruas jari, (7) mencabut bulu ketiak, (8) mencukur bulu kemaluan, (9) bercebok.’” Perawi berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, mungkin berkumur-kumur. ” (Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Muslim (no. 261); Abu Dâwud (no. 53); at-Tirmidzi (no. 2757); an-Nasa-i (VIII/126-128), dan Ibnu Mâjah (no. 293).
Dari kedua hadis diartikan sebagai dalam keadaan suci, beragama Islam, sehat tidak ada cacat dan dirinya bersih dari berbagai kotoran, noda, najis dan dosa yang melekat pada diri setiap insan.
Fitrah juga berarti berusaha untuk membersihkan dan mensucikan diri dari berbagai kotoran, najis, bau busuk, penyakit yang melekat pada jiwa raga manusia dan dari berbagai macam dosa yang tertanam dalam dirinya.
Karena itu Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah menjelaskan, bahwa fitrah itu ada dua macam.
Pertama, fitrah yang berkaitan dengan hati, yaitu ma’rifatullâh (mengenal Allâh) dan mencintai-Nya serta mengutamakan-Nya lebih daripada yang lain.
Kedua, fitrah ‘amaliyyah (perbuatan), yaitu hal-hal yang disebutkan di atas.
Jika yang pertama mensucikan ruh dan membersihkan hati, maka yang kedua membersihkan badan.
Masing-masing dari keduanya membantu dan menguatkan yang lainnya.
Dan, fitrah badan yang paling pokok adalah khitan.” (Tuhfatul Maudûd bi Ahkâmil Maulûd (hlm. 269).
Dengan demikian Idulfitri adalah hari bahagia dan sukacita bagi semua kaum muslimin karena kembali kepada fitrahnya.
Jaminan selain kembali ke fitrahnya, juga lebih bertauhid, beriman dan bertaqwa.
Terbebas atau bersih dari dosa-dosa dan siksa api neraka.
Taqwa dan ketaqwaan menjadi bagian dari fitrah manusia. Mereka orang yang mulia di sisi Allah karena bertaqwa. (QS. Al Hujurat;13).
Ketaqwaan sebagai tujuan dari ibadah shaum Ramadan pada hakikatnya telah mengembalikan seorang muslim kepada fitrahnya.
Secara pribadi sebagai hamba yang saleh, yang senantiasa taat beribadah kepada Allah dan menyerahkan hidup berada dalam sistem yang ditetapkan Nya.
Taqwa telah menjadikan kesalehan individual pada setiap hamba yang berusaha menjaga dirinya.
Baik dari perbuatan dosa atau membersihkannya dari berbagai penyakit hati dan rohaninya.
Itulah sejatinya Idulfitri sebagai hari bahagia dan hari kemenangan para hamba yang telah selesai dalam beribadah di bulan Ramadan.
Mereka dinilai telah berhasil mencapai kesucian diri dari dosa-dosa dan penyakit hati.
Sebab Allah telah mengajarkan bahwa usaha pemeliharaan atau penyucian diri harus dimulai dari dirinya sendiri.
Setelah itu kepada keluarganya serta lingkungan sosialnya (QS. At Tahrim:56).
Ketaqwaan yang sudah dicapai diri melalui Ramadan sudah seharusnya memberi pengaruh pada kesalehan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Apalagi karakter orang bertaqwa senantiasa peduli dan berbuat baik kepada sesama umat manusia.
Dimulai dari gemar memberikan infaq untuk menolong orang lain baik dalam kondisi dan keadaan susah maupun dalam senang.
Bahkan ia gemar pula memberi maaf kepada siapapun yang berbuat salah pada pribadinya (QS. Al Imran:134).
Selain itu mereka memiliki kepedulian besar pada nasib kaum duafa, fakir miskin.
Mereka tidaklah bakhil untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang sengsara dan membutuhkan (QS. Al Baqarah :177).
Hari Idulfitri benar-benar telah menggugah hati dan kesadaran bagi setiap muslim yang telah meraih ketaqwaan dari ibadah Ramadan.
Bahwa taqwa yang melekat pada dirinya tidak hanya untuk kepentingan diri pribadinya semata.
Tetapi juga untuk kesejahteraan sosial bersama seluruh manusia.
Karena itu kesalehan individual tidak ada artinya apa-apa tanpa adanya kesalehan sosial dalam wujud kepedulian pada nasib dan penderitaan sesama manusia di muka bumi.***





0 Tanggapan
Empty Comments