Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Meriah! Lomba Drama Tutup Rangkaian HUT ke-80 RI di SMA Muhammadiyah 3 Batu

Iklan Landscape Smamda
Meriah! Lomba Drama Tutup Rangkaian HUT ke-80 RI di SMA Muhammadiyah 3 Batu
Drama yang ditampilkan siswa (Khoen Eka/PWMU.CO)
pwmu.co -

SMA Muhammadiyah 3 Batu menggelar lomba drama sebagai penutup rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, Jumat (22/8/2025).

Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah itu diikuti oleh siswa kelas X, XI, dan XII. Dengan mengangkat tema seputar Hari Kemerdekaan RI, para peserta menampilkan kreativitas mereka melalui berbagai pementasan drama yang sarat pesan kebangsaan.

Lomba dimulai pukul 08.30 WIB dan berakhir menjelang waktu shalat Jumat. Antusiasme siswa terlihat dari semangat para peserta maupun dukungan penonton yang memadati area perlombaan. Suasana kian meriah dengan tepuk tangan yang kerap mengiringi jalannya pertunjukan.

Salah satu penampilan yang paling menarik perhatian adalah drama kolosal yang dipentaskan oleh siswa kelas XI, dengan latar pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Pertempuran tersebut menjadi salah satu momen paling bersejarah sekaligus paling berdarah dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang kemudian dijadikan dasar penetapan Hari Pahlawan.

Drama kolosal itu tampak hidup dengan adegan pidato berapi-api Bung Tomo yang diperankan Alan Pratama, serta aksi heroik Kusno Wibowo yang diperankan Aijul Afdal.

Dalam adegan tersebut, Afdal dengan penuh keberanian memanjat tiang bendera di halaman sekolah untuk menyobek bagian biru pada bendera Belanda, menirukan peristiwa bersejarah di Hotel Yamato, Surabaya. Tepuk tangan meriah pun menggema dari penonton, seolah mereka benar-benar menyaksikan langsung peristiwa bersejarah itu.

Pemilihan kostum dalam pementasan ini digarap dengan sangat detail. Pemeran perempuan pribumi tampil anggun mengenakan kebaya dan jarik, sementara pemeran noni-noni Belanda mengenakan gaun mengembang lengkap dengan apron dan payung sebagai aksesori.

Dalam drama ini, para pemeran laki-laki pribumi mengenakan sarung dan atasan lurik, sedangkan pasukan Belanda tampil gagah dengan seragam lengkap dan pistol di tangan.

Sementara itu, para pejuang pribumi membawa toya, bambu runcing, dan parang sebagai perlengkapan perang. Adegan pencak silat, wushu, hingga baku tembak disajikan dengan apik, memukau penonton dan memperkuat nuansa heroik di atas panggung.

“Anak-anak sudah berusaha menampilkan yang terbaik, dan itu patut diapresiasi. Pementasan drama hari ini menunjukkan semangat yang luar biasa dalam menghidupkan kembali peristiwa sejarah bangsa. Kreativitas mereka tampak dari detail kostum, pengaturan adegan, hingga keberanian dalam memainkan peran,” ujar salah satu juri lomba drama, Aris Sahruli.

Pria yang juga guru mata pelajaran Sejarah ini menyampaikan bahwa ke depan, jika latihan dilakukan lebih intensif, penghayatan terhadap tokoh diperkuat, dan penguasaan dialog ditingkatkan, maka hasil pementasan akan menjadi lebih kuat dan mengesankan.

“Saya berharap pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi anak-anak untuk terus belajar, berani tampil, dan percaya diri dalam mengekspresikan diri,” harapnya.

Lomba drama ini bukan hanya menjadi ajang untuk mengekspresikan bakat seni peran, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan mempererat kebersamaan antar-siswa di SMA Muhammadiyah 3 Batu. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu