
Oleh: Farid Firmansyah MPsi (Humas SD Mudipat)
PWMU.CO – Terus terang, penulis sempat mengernyitkan dahi saat mendengar kabar bahwa ada sekolah di Surabaya yang memasukkan Mobile Legends sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Rasanya asing. Dulu, main game dianggap musuh utama belajar. Sekarang justru jadi bagian dari sekolah? Apa nggak kebalik?
Penulis coba duduk sebentar, berpikir. Mungkin penulis yang sudah terlalu lama terjebak dalam pola pikir kuno. Bisa jadi, ini justru langkah yang perlu. Anak zaman sekarang hidup di dunia yang berbeda. Jika sekolah tetap pakai cara-cara lama, bisa jadi mereka makin jauh.
Zaman penulis sekolah dulu, jika ketahuan bermain game, siap-siap handphone disita atau disuruh menghadap wali kelas. Tapi, sekarang anak-anak diajak main—secara resmi—di bawah bimbingan guru. Latihan rutin, diskusi strategi, bahkan ikut turnamen antar sekolah. Penulis awalnya ragu, tapi makin lama makin penasaran.
Penulis menyempatkan diri mengobrol dengan adik sepupu yang bersekolah di Surabaya. Ia bercerita, ekstrakurikuler ini bukan hanya sekadar seru-seruan. Ada pelatihan, analisis, dan konsekuensi yang harus diperhatikan. Contohnya jika nilai turun, maka tidak diperkenankan mengikuti kompetisi. Ada tanggung jawab di balik semua itu.
Penulis pikir, ini bukan sekadar “main game” biasa.
Jika boleh jujur, penulis tidak terlalu paham dengan semua istilah dalam game tersebut. Role, hero, buff, jungle—semua terdengar asing di telinga penulis. Tapi bagi anak-anak sekarang, itu bahasa sehari-hari. Mereka paham, mereka fasih. Jadi kenapa kita yang dewasa ini harus memaksa mereka pakai cara belajar yang kita anggap benar?
Penulis sadar, kita tidak bisa terus menerus membandingkan masa lalu dengan hari ini. Dunia berubah. Anak-anak sekarang tumbuh di dunia digital, dunia cepat, dunia yang semuanya bisa diakses dari layar kecil di tangan mereka.
Justru karena itulah, menurut penulis kehadiran sekolah dalam aktivitas game seperti ini penting. Kalau tidak diarahkan, bisa jadi kebablasan. Tapi kalau ada pendampingan, malah bisa jadi ruang belajar yang unik.
Di ekskul itu, mereka belajar kerja sama tim, komunikasi, pengambilan keputusan cepat, dan manajemen emosi. Hal-hal yang justru susah dilatih lewat buku teks. Dan kadang, pelajaran yang benar-benar nempel di kepala itu bukan yang dibacakan guru, tapi yang dialami sendiri.
Penulis tidak bilang semua sekolah harus ikut-ikutan. Tapi penulis juga tidak mau langsung menolak sesuatu hanya karena “berbeda”.
Siapa sangka, dari game ini banyak anak-anak yang akhirnya bercita-cita jadi atlet e-sports, komentator game, desainer karakter, bahkan pembuat konten. Dulu, impian itu terdengar aneh. Tapi sekarang, itu nyata, ada jalannya, ada industrinya, dan uangnya bukan main.
Penulis sempat melihat tayangan dokumenter soal anak muda yang hidupnya berubah karena game. Bukan karena dia jadi “juara”, tapi karena dia belajar disiplin, kerja tim, dan tanggung jawab dari proses latihan.
Mungkin bukan semuanya akan jadi pro player, tapi setidaknya, mereka belajar sesuatu dari hal yang mereka cintai.
Penulis tahu, tidak semua orang akan setuju. Masih banyak yang menganggap ini cara sekolah cari sensasi atau bentuk kemalasan dalam mendidik. Tapi mungkin, orang-orang seperti itu belum melihat langsung seperti apa prosesnya.
Penulis pun butuh waktu untuk bisa menerima. Tapi setelah tahu ada sistem, ada batasan, ada tanggung jawab, penulis mulai berpikir ulang.
Sekolah bukan soal memaksa anak jadi seperti kita. Tapi soal memberi ruang agar mereka tumbuh jadi diri mereka sendiri—di zamannya.
Kadang, kita terlalu takut anak berubah. Tapi lebih sering, kita hanya takut kehilangan kendali. Padahal, kalau kita mau dengar, mau lihat, mereka sebenarnya hanya butuh dimengerti.
Ekstrakurikuler Mobile Legends di sekolah mungkin terdengar aneh buat sebagian orang. Tapi bisa jadi, itu langkah awal untuk jembatani dunia lama dan dunia baru. Dunia orang tua dan dunia anak. Dan menurut penulis, itu langkah yang berani. Bukan karena game-nya. Tapi karena mau mendekat, bukan menjauh. (*)
Editor Wildan Nanda Rahmatullah






0 Tanggapan
Empty Comments