Dalam panggung sejarah, menjadi yang pertama hampir tidak pernah memperoleh sambutan tepuk tangan riuh.
Sebaliknya, ia sering memulainya melalui jalur kesunyian, penuh kecurigaan, atau yang paling menyakitkan: tawa penghinaan.
Di negeri ini, saat “tradisi” kerap diposisikan sebagai batas suci yang tabu dilampaui, sebuah terobosan sering dianggap sebagai gangguan kenyamanan.
Namun, menilik rekam jejak Muhammadiyah, kita menemukan anomali yang menarik.
Organisasi ini seolah memiliki “genetik” untuk berdamai sebagai sasaran tembak, hanya untuk kemudian menjadi rujukan yang diikuti semua orang.
Mari kita tarik mundur jarum jam ke masa KH Ahmad Dahlan mendirikan sekolah.
Kala itu, pendidikan Islam identik dengan sistem surau atau pesantren tradisional.
Ketika Muhammadiyah memasukkan meja, kursi, papan tulis, dan kurikulum umum ke ruang kelas, gelombang resistensi datang bagai tsunami.
“Menjiplak sekolah Belanda!” teriak satu kelompok.
“Tiru-tiru kafir!” seru yang lain.
Ada logika kaku saat itu: menggunakan metode Barat berarti kehilangan identitas keislaman.
Muhammadiyah dicap aneh karena mencoba mengawinkan wahyu dengan sains.
Namun, Dahlan tidak surut. Beliau sadar bahwa mencerdaskan bangsa tidak bisa dengan cara-cara lama yang eksklusif.
Melihat Hari Ini
Hari ini, satu abad kemudian, perdebatan itu terdengar konyol.
Lihatlah sekeliling, hampir semua organisasi keagamaan—dari yang paling tradisional hingga konservatif—kini berlomba membangun universitas megah.
Tak ada lagi ormas yang merasa “lengkap” tanpa lembaga pendidikan formal.
Apa yang dulu dianggap “meniru kafir”, kini menjadi standar emas perjuangan umat.
Muhammadiyah tidak sekadar membangun gedung sekolah; mereka membangun paradigma baru yang kini dihirup oleh semua orang.
Fragmen lain yang tak kalah emosional terjadi pada tahun 1920-an.
Haji Sudja’, murid setia Ahmad Dahlan, memaparkan visi membangun Rumah Sakit PKO (Pusat Kesehatan Oemat), rumah miskin, dan panti asuhan. Reaksi hadirin?
Bukan dukungan, melainkan tawa meledak.
Gagasan itu dianggap ora umum—mustahil.
Di masa akses kesehatan adalah kemewahan kolonial, mimpi seorang pribumi memiliki rumah sakit dianggap lelucon siang bolong.
Namun, disinilah letak beda antara politisi dan pemimpin sejati.
KH Ahmad Dahlan tidak ikut tertawa, tetapi justru meminta hadirin diam dan mendengarkan.
Beliau melihat melampaui tawa itu; beliau melihat kewajiban agama yang diterjemahkan menjadi aksi sosial nyata.
Kini, tawa itu telah lama bungkam, digantikan raungan ambulans dan gedung rumah sakit Muhammadiyah yang tersebar hingga pelosok negeri.
Sejarah berulang: organisasi yang dulu menertawakan kini sibuk mendirikan amal usaha serupa.
Muhammadiyah sudah melesat saat yang lain masih mempertanyakan apakah lari itu perlu.
Hal serupa terjadi pada tradisi salat Id di lapangan terbuka.
Dahulu, ini dianggap upaya “ingin beda sendiri” atau menyalahi pakem salat di masjid.
Cibiran mengalir deras. Namun seiring waktu, masyarakat mulai merasakan filosofinya: sebuah syiar Islam yang inklusif, luas, dan merakyat.
Kini, salat Id di lapangan telah menjadi pemandangan nasional yang dinikmati semua kalangan tanpa lagi mempertanyakan siapa pemulanya.
Keberanian serupa kini tengah diuji dalam gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Gagasan ini kembali memanen kritik: dianggap terlalu progresif atau terlalu cepat.
Namun, Muhammadiyah tetap melangkah dengan argumen ilmu falak demi kepastian umat sedunia.
Bukan untuk merasa paling benar, tapi menawarkan solusi atas keruwetan penanggalan yang kerap memicu perpecahan.
Jika sejarah adalah cermin, besar kemungkinan KHGT akan menjadi konsensus umum di masa depan, saat orang mulai lelah dengan ketidakpastian.
Mengapa menjadi pionir selalu terasa pahit di awal?
Secara psikologi sosial, masyarakat memiliki kecenderungan status quo bias.
Menganggap sesuatu yang baru sebagai ancaman terhadap stabilitas. Inovasi menuntut perubahan pola pikir, dan berubah itu melelahkan.
Itulah sebabnya, pembawa obor di depan seringkali mendapat lemparan batu dari mereka yang masih nyaman dalam kegelapan.
Menjadi Pionir
Pelajaran terbesar dari Muhammadiyah adalah bahwa menjadi pionir bukanlah soal mencari popularitas.
Jika Ahmad Dahlan mencari puja-puji, beliau akan tetap di jalur tradisional yang aman.
Menjadi pionir adalah soal keyakinan teologis: bahwa gagasan baik yang berbasis kebenaran dan kemanfaatan harus dijalankan, meski harus berjalan sendirian.
Menjadi pionir itu ibarat menanam pohon di tengah padang pasir.
Di awal, orang hanya melihat Anda mencangkul tanah gundul yang gersang dan mencemoohnya sebagai kegilaan.
Namun saat pohon itu tumbuh rimbun dan berbuah, semua orang ingin bernaung di bawahnya.
Ironisnya, kadang mereka lupa siapa yang pertama kali membenamkan benih dan menyiramnya dengan air mata.
Muhammadiyah membuktikan bahwa tajdid (pembaruan) memang tidak pernah mudah, namun selalu niscaya.
Mereka adalah pathfinder yang membabat semak belukar agar orang lain bisa berjalan nyaman di belakangnya.
Kini, tantangan itu kembali pada kita: apakah kita berani menjadi pionir di bidang masing-masing?
Apakah kita punya nyali mengajukan gagasan ora umum demi kemajuan, atau tetap menjadi kerumunan yang pandai mencibir lalu ikut-ikutan saat gagasan itu terbukti berhasil?
Dunia tidak pernah kekurangan kritikus pintar, namun dunia krisis orang-orang yang berani memulai di tengah kesunyian.
Muhammadiyah mengajarkan satu hal fundamental: menjadi yang terdepan memang tidak pernah enak, tapi itu bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Sebab pada akhirnya, sejarah hanya mencatat mereka yang berani melangkah, bukan mereka yang hanya duduk di pinggir jalan sambil menertawakan.***





0 Tanggapan
Empty Comments