Dua tokoh akademik terkemuka, Prof. Dr. M. Baiquni, MA. dan Prof. Imam Robandi, Ketua DP ITS, tampil dalam satu layar Zoom membahas makna Lebaran dalam Kajian Spesial Jumat Malam (KSJM) edisi Syawalan, Jumat (27/3/2026). Diskusi yang diikuti peserta dari seluruh Indonesia ini mengupas pentingnya kontinuitas ilmu, refleksi diri, serta pengamalan nilai iman, Islam, dan ihsan pasca-Ramadan
KSJM yang digelar oleh IRo-Society—dengan panitia yang mayoritas merupakan aktivis Aisyiyah dan penggerak Muhammadiyah di tingkat grassroot—selalu mampu menghadirkan pencerahan sekaligus memperbarui cara pandang para pesertanya. Setiap sesi terasa hidup, mengalir, dan sarat makna.
Saya benar-benar tersentak oleh satu kalimat tajam dari Prof. Imam Robandi. Tokoh Muhammadiyah ini mengatakan bahwa jika dua hari saja ia tidak menulis, maka pertanyaan yang muncul dalam benaknya adalah: “Sebodoh apa saya ini?” Sebuah refleksi yang menohok. Jika beliau saja demikian, lalu bagaimana dengan kita—sudah berapa lama kita tidak menulis?
Setiap kajian ilmu selalu menghadirkan pelajaran berharga bagi siapa pun yang mengikutinya. Apalagi KSJM yang menghadirkan para guru besar papan atas Indonesia, tentu materi yang disampaikan tidak sembarangan—istilahnya “bukan kaleng-kaleng”, seperti disampaikan Bang Ucok dari Aek Kanopan, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Sumatera Utara.
Senada dengan itu, Bang Ali Audah, Direktur Pusat Bahasa Universitas Proklamasi 45 yang juga menjadi moderator, menyebut bahwa materi para guru besar ini “daging semua”, penuh bobot dan sarat makna.
Dalam pemaparannya yang tenang dan sistematis, Prof. M. Baiquni menekankan pentingnya kontinuitas dalam menuntut ilmu. Menurutnya, rasa malas dan cepat berpuas diri kerap membuat seseorang berhenti belajar, padahal proses menuntut ilmu seharusnya berlangsung secara berkelanjutan tanpa henti.
Sebagai pengantar, Prof. M. Baiquni mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk berpikir. Menurutnya, banyak ayat bersifat introspektif dan disampaikan dalam bentuk pertanyaan yang menggugah kesadaran. Di antaranya, “Afala ta’qilun?” (Tidakkah kamu mengerti atau menggunakan akal?), “Afala tadzakkarun?” (Tidakkah kamu mengambil pelajaran?), “Afala ta’lamun?” (Tidakkah kamu menggunakan ilmu?), “Afala tubshirun?” (Tidakkah kamu melihat?), dan “Afala tasma’un?” (Tidakkah kamu mendengar?). Ayat-ayat ini begitu akrab di telinga, namun pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar meresapi maknanya, atau sekadar membacanya tanpa upaya menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari?
Setelah mengulas ayat-ayat yang akrab di telinga, Prof. M. Baiquni melanjutkan dengan pembahasan tentang penciptaan alam semesta melalui pendekatan penalaran ilmiah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan ayat kauniyah.
Dia menjelaskan bahwa terdapat sejumlah indikasi yang menunjukkan keselarasan Al-Qur’an dengan kebenaran ilmiah. Di antaranya adalah ayat-ayat yang ditutup dengan ajakan untuk berpikir, bernalar, berilmu, dan mengambil pelajaran.
Selain itu, Al-Qur’an juga menggambarkan bentangan alam semesta dari skala makro—seperti langit yang ditinggikan—hingga skala mikro seperti sel dan atom. Salah satu rujukan yang disampaikan adalah QS. Al-Kahfi ayat 109 yang menggambarkan luasnya ilmu Allah, yang tak akan cukup dituliskan meski lautan dijadikan tinta.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an juga mengajak manusia menelaah realitas kehidupan, baik masa lalu maupun masa depan, sebagai bagian dari ayat kauniyah. Pelajaran dari umat terdahulu menunjukkan bagaimana perbuatan baik dan buruk membawa konsekuensi nyata bagi kehidupan manusia.
Hal ini sejalan dengan pesan dalam QS. Yunus ayat 101 yang mengajak manusia untuk memperhatikan apa yang ada di langit dan di bumi. Namun, realitasnya, kisah-kisah kaum seperti ‘Ad, Tsamud, dan Luth yang telah dibinasakan karena keingkaran sering kali hanya menjadi bacaan, tanpa benar-benar diambil hikmahnya dalam kehidupan saat ini.
Selanjutnya, narasumber menyampaikan tiga pondasi utama dalam kehidupan seorang muslim, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Ketiga konsep ini merupakan prinsip dasar yang tidak hanya harus dipahami, tetapi juga diyakini dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Prof. M. Baiquni menegaskan, tanpa pemahaman yang utuh terhadap ketiganya, seorang muslim akan kesulitan mencapai kualitas keberagamaan yang sempurna. Ia juga mengingatkan bahwa meskipun iman, Islam, dan ihsan sering kita ucapkan, tidak sedikit di antara kita yang belum benar-benar memahami makna mendalam dari ketiga konsep tersebut.
Prof. M. Baiquni kemudian mengupas lebih dalam ketiga konsep tersebut. Ia menjelaskan bahwa secara bahasa, iman berarti percaya atau meyakini dengan hati. Secara istilah, iman mencakup keyakinan yang kokoh terhadap enam rukun iman: kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, serta takdir baik dan buruk. Tanpa iman, Islam tidak akan berdiri kokoh, dan ihsan pun tidak dapat terwujud.
Dalam kehidupan sehari-hari, lanjutnya, pemahaman terhadap iman menuntut seorang muslim untuk benar-benar meyakini Allah tanpa keraguan sedikit pun. Keyakinan ini tidak cukup berhenti di hati, tetapi harus tercermin dalam ucapan dan perbuatan. Dengan demikian, iman bukan sekadar percaya, melainkan juga mengamalkan apa yang diyakini dalam kehidupan nyata.
Menurut Prof. M. Baiquni, dalam kerangka iman, Islam, dan ihsan, Islam secara bahasa berarti berserah diri, tunduk, dan patuh. Secara istilah, Islam adalah agama yang diturunkan Allah melalui Rasulullah Muhammad SAW dengan ajaran yang mencakup akidah, syariat, dan akhlak. Ia menjelaskan bahwa terdapat lima pilar utama dalam Islam yang dikenal sebagai rukun Islam, yaitu syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, tidak hanya sebatas ibadah ritual, tetapi juga mencakup hubungan sosial. Dalam perspektif iman, Islam, dan ihsan, seorang muslim dituntut tidak hanya taat secara pribadi, tetapi juga mampu menebar manfaat di tengah masyarakat.
Dengan demikian, Islam merupakan jalan hidup yang menyeluruh, bukan sekadar praktik ibadah semata. Seorang muslim yang memahami hal ini akan berusaha menjalankan syariat dengan ikhlas dan penuh ketaatan, menyadari bahwa setiap amal adalah bentuk pengabdian kepada Allah, bukan rutinitas tanpa makna. Dalam konteks ini, salat pun tidak sekadar gerakan fisik, melainkan wujud penghambaan dan ungkapan rasa syukur kepada-Nya.
Prof. M. Baiquni menambahkan bahwa dalam kerangka iman, Islam, dan ihsan, Islam merupakan manifestasi nyata dari keyakinan yang tertanam di dalam hati. Tanpa pengamalan ajaran Islam, iman hanya akan berhenti sebagai konsep, dan ihsan tidak akan pernah terwujud. Karena itulah, Islam menjadi pilar penting yang harus ditegakkan dalam kehidupan setiap muslim.
Selanjutnya, narasumber menjelaskan konsep ihsan. Secara bahasa, ihsan berarti berbuat baik atau memperindah. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya; dan jika tidak mampu, maka kita meyakini bahwa Allah senantiasa melihat kita. Dalam kehidupan sehari-hari, ihsan mendorong seorang muslim untuk menyempurnakan ibadah dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan.
Ihsan juga tercermin dalam akhlak mulia terhadap sesama, seperti berlaku adil, menolong yang lemah, serta menjaga lisan dan perbuatan. Seorang muslim yang memahami ihsan akan menghadirkan rasa muraqabah—merasa selalu diawasi oleh Allah—dalam setiap amalnya.
Dengan demikian, ibadah tidak sekadar menjadi aktivitas lahiriah, tetapi juga sarat makna batiniah. Ihsan menjadi bukti kesempurnaan iman dan Islam. Tanpanya, keduanya akan terasa kering dan kurang berdampak dalam kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, dengan ihsan, seorang muslim akan menampilkan wajah Islam yang indah, penuh kasih, dan membawa rahmat bagi semesta. Kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi sejatinya menjadi benteng kuat agar manusia menjauhi kejahatan, korupsi, dan berbagai perbuatan buruk lainnya.
Prof. M. Baiquni kemudian menyampaikan bahwa ihsan adalah puncak dari iman, islam, dan ihsan. Jika iman adalah fondasi, Islam adalah bangunan, maka ihsan adalah keindahan yang menyempurnakan. Ketiga konsep ini saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Berkaitan dengan momentum Syawal dan halal bi halal, Prof. M. Baiquni menyempurnakan paparannya dengan mengajak untuk membersihkan hati melalui at-taubah. Secara bahasa, at-taubah berarti “kembali”, yakni berpaling dari dosa dan kembali kepada Allah dengan melepaskan diri dari belenggu yang selama ini menjerumuskan pada kemaksiatan.
Secara syar’i, taubat dimaknai sebagai meninggalkan dosa karena takut kepada Allah, menyadari keburukannya, menyesali perbuatan yang telah dilakukan, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, serta berupaya memperbaiki kesalahan yang masih bisa diperbaiki.
Adapun secara hakikat, taubat adalah kesadaran batin yang mendalam atas dosa yang telah terjadi, kemudian mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla sepanjang sisa usia, disertai komitmen untuk menjauhi maksiat.
Wujud nyata dari taubat tercermin dalam amal saleh dan kepatuhan terhadap larangan-Nya. Memasuki bulan Syawal setelah ditempa selama Ramadan, seorang muslim sejatinya menjadikan momentum ini sebagai titik balik untuk benar-benar bertaubat, meninggalkan keburukan, dan terus menjaga konsistensi dalam beramal saleh sebagaimana yang telah dibiasakan selama bulan suci.
Melengkapi presentasinya, Prof. M. Baiquni mengulas tradisi Syawalan dan halal bi halal dengan sentuhan budaya yang indah. Ia mengutip ungkapan Jawa, “Kupat disukani santen, wonten lepat nyuwun pangapunten,” sebagai simbol saling memaafkan. Ia juga menjelaskan beberapa istilah yang lekat dengan Idul Fitri, yakni lebaran, luberan, leburan, dan laburan.
Lebaran menandai berakhirnya puasa Ramadan dan datangnya hari kemenangan; luberan melambangkan melimpahnya pahala dan keberkahan sekaligus ajakan untuk berbagi melalui zakat dan sedekah; leburan bermakna melebur dosa melalui saling memaafkan; sedangkan laburan menggambarkan hati yang kembali bersih, putih, dan suci, serta komitmen untuk memperbaiki diri setelah Ramadan.
Seluruh makna tersebut sarat dengan nilai kebaikan. Namun, pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar memaafkan kesalahan orang lain dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan?
Prof. M. Baiquni menutup paparannya dengan membacakan empat ayat terakhir dari QS. Al-Fajr: “Ya ayyatuha an-nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah, fadkhuli fi ‘ibadi, wadkhuli jannati.” Ayat-ayat ini menghadirkan ketenangan yang mendalam: Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridai-Nya.
Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. Sebuah penutup yang begitu menyejukkan dan penuh harap—alangkah bahagianya jika panggilan itu kelak ditujukan kepada kita.
Usai pemaparan tersebut, Prof. Imam Robandi sebagai penyelaras tampil tak kalah mengesankan. Dengan gaya santai namun menghentak, ia menyampaikan pesan-pesan yang menggugah kesadaran.
Dia menekankan pentingnya menjaga semangat serta kontinuitas (lumintu) dalam melakukan kebaikan agar tidak mudah terlupakan. Hal-hal kecil, jika tidak dibiasakan, bisa menjadi sulit dilakukan. Bahkan hal sederhana seperti mematikan laptop dapat terasa rumit jika tidak menjadi kebiasaan. Pepatah “ala bisa karena biasa” pun menjadi penegas bahwa kebiasaan baik harus terus dilatih agar melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Prof. Imam Robandi juga menyinggung pentingnya positioning. Founder IRo Society ini mengibaratkan seorang pendaki: mereka yang berada di posisi depan tentu memiliki pengalaman dan perspektif berbeda dibandingkan yang berada di belakang. Menurutnya, menjadi pionir adalah ciri orang yang rajin sekaligus visioner, yang mampu memikirkan masa depan.
Dia juga menegaskan bahwa proses menuntut ilmu seharusnya dilakukan setiap hari dengan menikmati setiap tahapannya, bukan sekadar mengejar sertifikat. Banyaknya sertifikat tidak selalu mencerminkan seseorang sebagai pembelajar sejati. Menjadi yang terdepan dan menjadi yang pertama memiliki nilai yang berbeda.
Karena itu, ia kerap menekankan bahwa kecepatan sering kali lebih penting daripada kesempurnaan. Menulis, misalnya, tidak harus menunggu sempurna—sebab kesempurnaan yang hanya tersimpan di kepala tidak akan pernah memberi manfaat.
Prof. Imam Robandi juga menyinggung analogi permainan catur dengan bidak putih dan hitam. Tak lama, kolom komentar Zoom pun dipenuhi tulisan “Gambit Raja”, salah satu judul bukunya yang fenomenal. Ketua DP ITS ini memang dikenal sangat produktif menulis. Karya-karyanya di PWMU.CO dan berbagai media lain telah menginspirasi banyak pembaca di berbagai penjuru.
Dengan gaya khasnya, dia menegaskan, kunci dari segalanya bergantung pada diri kita sendiri (depend on us): apakah kita ingin terus berkembang atau justru menjadi pribadi yang enggan berbenah. Menurutnya, persoalan utama sering kali terletak pada ketidakseimbangan antara cita-cita dan ikhtiar.
Menutup ulasannya, ia mengingatkan bahwa setelah menjalani Ramadan dan memasuki Idul Fitri, setiap muslim semestinya menjadi pribadi yang lebih baik dan berupaya meraih derajat takwa.
Paparan Prof. Imam Robandi dan Prof. M. Baiquni terasa begitu menginspirasi. Seperti pepatah, bergaul dengan penjual parfum akan membuat kita ikut harum. Berada di lingkungan orang-orang hebat dalam forum KSJM diharapkan mampu menularkan semangat kebaikan. Pertanyaannya, mampukah kita menjaga nyala semangat itu? Semoga kita senantiasa istiqamah dan terus belajar tanpa henti. (*)
Pekanbaru, 27 Maret 2026.





0 Tanggapan
Empty Comments