Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sekolah Pintar, Manusia Terbelah: Membongkar Dikotomi Ilmu di Era AI

Iklan Landscape Smamda
Sekolah Pintar, Manusia Terbelah: Membongkar Dikotomi Ilmu di Era AI
Sekolah Pintar, Manusia Terbelah: Membongkar Dikotomi Ilmu di Era AI. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Raysa Rahma, S.Pd., M.Pd Mahasiswa S3 PAI UMM

Ada ironi besar dalam pendidikan kita. Sekolah semakin sibuk mengajarkan anak cara menguasai pengetahuan, sementara pertanyaan paling mendasar justru kerap tercecer: untuk apa pengetahuan itu digunakan?

Seorang siswa dapat menguasai matematika, fisika, biologi, teknologi informasi, bahkan kecerdasan artifisial. Pada saat yang sama, ia belajar agama sebagai mata pelajaran tersendiri. Keduanya berjalan beriringan, tetapi belum tentu bertemu. Seolah-olah akal mempunyai wilayah sendiri, sedangkan iman memiliki ruang terpisah.

Inilah wajah lama dikotomi ilmu yang masih menghantui pendidikan kita.

Persoalannya bukan semata-mata pembagian mata pelajaran. Yang lebih serius adalah cara kita memandang ilmu: ilmu agama ditempatkan sebagai urusan spiritual, sedangkan sains dianggap wilayah objektif, rasional, dan bebas nilai. Padahal, ketika ilmu pengetahuan menentukan bagaimana manusia membangun teknologi, ekonomi, lingkungan, bahkan masa depan peradaban, pertanyaan tentang nilai tidak mungkin dibuang ke luar ruang kelas.

Data pendidikan nasional menunjukkan kita masih menghadapi pekerjaan besar. Berdasarkan Asesmen Nasional, proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum literasi meningkat dari 59,49% pada 2022 menjadi 70,03% pada 2024. Numerasi naik dari 45,24% menjadi 67,94% pada periode yang sama. Kemajuan ini patut diapresiasi, tetapi pemerintah juga menegaskan bahwa capaian tersebut belum merata antarwilayah.

Pada level internasional, tantangannya lebih keras. PISA 2022 mencatat skor rata-rata Indonesia hanya 366 untuk matematika, 359 untuk membaca, dan 383 untuk sains—semuanya di bawah rata-rata OECD. Hanya 18% siswa Indonesia mencapai setidaknya Level 2 dalam matematika, dibandingkan 69% rata-rata OECD.

Data itu menunjukkan kebutuhan memperkuat sains dan literasi. Namun, justru di titik inilah kita tidak boleh mengulangi kesalahan lama: mengira solusi pendidikan cukup dengan menambah pelajaran STEM, perangkat digital, atau teknologi terbaru.

Sebab manusia yang memiliki kemampuan teknis tinggi belum tentu memiliki kebijaksanaan dalam menggunakan kemampuan tersebut.

Kecerdasan artifisial memperjelas persoalan ini. Sejak 2025, pemerintah mulai mengimplementasikan pembelajaran coding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas 5 SD, SMP, hingga SMA. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat STEM dan menyiapkan generasi menghadapi era digital.

Langkah ini penting. Tetapi pendidikan AI tidak boleh berhenti pada kemampuan membuat program, menggunakan aplikasi, atau menghasilkan perintah yang efektif kepada mesin. Anak juga harus bertanya: apakah semua yang dapat dilakukan teknologi layak dilakukan? Siapa yang bertanggung jawab ketika algoritma merugikan manusia? Apa batas pemanfaatan data? Bagaimana membedakan informasi yang benar dan yang sekadar meyakinkan?

Di sinilah gagasan integrasi agama dan ilmu memperoleh relevansi baru.

Syed Muhammad Naquib al-Attas menawarkan kritik yang mendasar terhadap problem ilmu modern. Islamisasi ilmu pengetahuan, dalam kerangka pemikirannya, tidak cukup dipahami sebagai menambahkan ayat Al-Qur’an ke dalam buku sains. Persoalannya adalah worldview, yakni cara manusia memahami realitas, kebenaran, ilmu, dan kedudukan manusia. Karena itu, ilmu harus diletakkan dalam tata makna yang benar dan melahirkan manusia beradab.

Dengan perspektif ini, integrasi agama dan sains bukan proyek “mengislamkan” rumus matematika. Tidak ada matematika yang perlu diberi label Islam agar menjadi sah. Yang perlu dibenahi adalah cara manusia memahami tujuan, penggunaan, dan konsekuensi ilmu.

Ismail Raji al-Faruqi bergerak pada arah yang berdekatan, tetapi lebih sistematis dalam proyek Islamisasi pengetahuan. Ia meletakkan tauhid sebagai fondasi epistemologis dan menghendaki rekonstruksi disiplin-disiplin ilmu modern agar tidak terlepas dari visi Islam tentang Tuhan, manusia, kehidupan, kebenaran, dan ciptaan. Literatur akademik tentang al-Faruqi menegaskan bahwa proyek tersebut dimaksudkan untuk mengatasi keterpecahan pendidikan dengan mengintegrasikan pengetahuan wahyu dan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman serta penelitian manusia.

Namun, integrasi tidak berarti semua ilmu harus dilebur menjadi satu.

Di sinilah pemikiran M. Amin Abdullah penting bagi konteks Indonesia. Paradigma integrasi-interkoneksi tidak mengharuskan agama dan sains kehilangan identitas masing-masing. Sebaliknya, keduanya perlu saling berdialog. Ilmu agama dapat memperkaya dimensi etik dan makna, sementara sains menghadirkan ketelitian empiris dan metodologis. Kajian terbaru mengenai penerapan paradigma Amin Abdullah dalam kurikulum PAI bahkan menegaskan relevansinya untuk menghadapi pendidikan modern dan era digital.

Osman Bakar kemudian memberikan fondasi yang lebih luas melalui gagasan tauhid dan sains. Tauhid tidak hanya berbicara tentang keyakinan teologis, tetapi juga menawarkan cara melihat keterhubungan realitas. Alam bukan sekadar objek yang dapat diukur dan dieksploitasi; ia merupakan bagian dari tatanan ciptaan yang memiliki keteraturan dan makna.

Maka, pendidikan terintegrasi agama seharusnya tidak berhenti pada slogan “agama dan sains harus bersatu”. Kita membutuhkan perubahan yang lebih konkret.

SMPM 5 Pucang SBY

Pertama, kurikulum harus bergerak dari integrasi materi menuju integrasi persoalan. Pelajaran biologi, misalnya, dapat mengajak siswa membahas krisis ekologis bukan hanya dari aspek ekosistem, tetapi juga dari pertanyaan etis tentang tanggung jawab manusia terhadap alam. Ekonomi tidak cukup mengajarkan pertumbuhan dan efisiensi, tetapi juga keadilan. Teknologi tidak cukup mengajarkan inovasi, tetapi juga tanggung jawab.

Kedua, guru harus menjadi penghubung antarwilayah pengetahuan. Guru agama tidak boleh asing terhadap perkembangan sains dan teknologi. Sebaliknya, guru sains tidak semestinya menganggap pertanyaan etika dan makna sebagai sesuatu yang berada di luar kompetensinya. Sekolah membutuhkan budaya dialog antardisiplin, bukan sekadar penambahan jam pelajaran.

Ketiga, pendidikan harus menggeser orientasi dari knowledge acquisition menuju wisdom formation. Anak bukan hanya perlu tahu bagaimana sesuatu bekerja, tetapi juga mengapa sesuatu itu penting dan bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab.

Pemerintah sendiri dalam kebijakan pendidikan mutakhir mulai menekankan pembelajaran mendalam yang mendorong berpikir kritis, penerapan nyata, pembelajaran bermakna, sekaligus pembentukan manusia yang beriman dan bertakwa, bernalar kritis, kreatif, kolaboratif, mandiri, sehat, dan komunikatif.

Momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk membongkar dikotomi ilmu secara lebih serius.

Sebab masalah pendidikan Indonesia bukan hanya apakah anak-anak kita cukup pintar. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah pintar untuk menjadi apa mereka kelak?

AI dapat membantu manusia menemukan jawaban dalam hitungan detik. Mesin dapat menghitung lebih cepat, menyimpan lebih banyak informasi, dan mengolah data dalam skala yang tidak mungkin dilakukan manusia.

Tetapi mesin tidak dapat menggantikan pertanyaan tentang makna.

Di sanalah agama dan ilmu seharusnya bertemu.

Agama memberikan orientasi tentang kebaikan, tanggung jawab, dan tujuan hidup. Sains membantu manusia memahami kenyataan secara kritis dan sistematis. Tauhid mengajarkan bahwa realitas tidak tercerai-berai tanpa makna. Adab memastikan pengetahuan tidak berubah menjadi kesombongan intelektual atau alat eksploitasi.

Karena itu, pendidikan Islam tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang saleh tetapi gagap menghadapi sains. Sebaliknya, pendidikan umum juga tidak boleh menghasilkan manusia yang sangat cakap secara teknologis tetapi kehilangan kompas moral.

Kita membutuhkan manusia yang mampu berpikir secara ilmiah tanpa kehilangan kesadaran ketuhanan; mampu mengembangkan teknologi tanpa kehilangan adab; dan mampu menguasai pengetahuan tanpa diperbudak oleh pengetahuan itu sendiri.

Membongkar dikotomi ilmu, dengan demikian, bukan sekadar agenda akademik. Ia adalah agenda peradaban.

Sebab pada akhirnya, persoalan pendidikan bukan hanya bagaimana membuat manusia lebih tahu, tetapi bagaimana membuat manusia lebih bijaksana dalam menggunakan apa yang ia tahu.

Dan mungkin, di tengah ledakan AI serta banjir informasi hari ini, itulah bentuk literasi tertinggi yang paling kita butuhkan. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 12/08/2026 17:48
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu