Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) batch 2 2026 meninggalkan kesan mendalam bagi para pesertanya.
Acara yang terselenggara oleh MPI PP Muhammadiyah itu resmi berakhir pada Senin malam (10/8/2026).
Sebelumnya, acara ini terselenggara sejak Jumat (7/8/2026) dengan dibuka oleh Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Anam Sutopo SPd MHum.
Yang menarik pada pelaksanaan ASM kali ini adalah keikutsertaan dua peserta senior berusia 70 tahun. Mereka adalah Bapak Panggih dari MPID PDM Nganjuk yang berusia 71 tahun, dan Bapak Joko Sumpeno dari MPI PWM DKI Jakarta yang genap berusia 70 tahun.
Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, Widiyastuti SS MHum, mengapresiasi dua peserta berkepala tujuh tersebut.
Bahkan menariknya, kedua peserta tersebut tak pernah absen pada kegiatan yang berlangsung selama lima hari.
“Jika melihat semangat-semangat beliau, malu bagi kita jika hanya karena terhalang satu tembok lantas berhenti” tegasnya.
Bu Wiwid, sapaan akrabnya, berujar bahwa 5 hari bukanlah waktu yang singkat. “Ini adalah batch yang kedua. Batch yang pertama kami sudah menghasilkan 20 tulisan tentang Muhammadiyah dari 5 PTM yang kita undang” terang Widyawati.
“Harapannya bapak ibu ketika pulang menjadi provokator sejarah bagi teman-teman lainnya” harapnya.
Tak lupa, ia berharap silaturahmi tidak terputus usai penutupan Akademi Sejarah Muhammadiyah ini. Ia mengajak para peserta untuk suatu saat mengunjungi Kantor MPI PP Muhammadiyah di Jl KH A Dahlan lantai 3, serta Taman Pustaka Muhammadiyah.
Pada sesi kesan dan pesan, salah satu peserta dari MPI PWM DKI Jakarta, Joko Sumpeno, mengungkapkan kebahagiannya mengikuti Akademi Sejarah Muhammadiyah tersebut. Pada akhir penyampaiannya, ia memberikan pesan singkat namun mendalam.
“Pekerjaan tidak akan pernah selesai dan akan diteruskan oleh generasi muda, seperti yang dicontohkan Muhammadiyah” tegasnya.
Di sisi lain, perwakilan MPI PWM Riau, Asy’ari Abdullah mengaku dirinya menerima hal baru dan tertantang untuk terus menekuni sejarah.
“Saya optimis bisa menggali lebih dalam jejak sejarah Muhammadiyah di Bumi Melayu” tutur Asy’ari.





0 Tanggapan
Empty Comments