Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Gerakan Muhammadiyah Par Excellence

Iklan Landscape Smamda
Gerakan Muhammadiyah Par Excellence
Dr. Abu Nasir
Oleh : Dr. Abu Nasir Ketua PDM Kota Pasuruan

Kaji ulang atas dikotomi klasik antara tradisi dan modernitas kerap menempatkan lanskap pemikiran dan gerakan Islam global dalam posisi berhadap-hadapan. Di tengah perdebatan itu, Muhammadiyah justru tampil sebagai contoh menarik tentang bagaimana tradisi keislaman dapat berjalan beriringan dengan modernitas.

Antropolog dari Boston University, Robert W. Hefner, secara objektif menyebut Muhammadiyah sebagai salah satu jaringan sekolah, universitas, rumah sakit, dan layanan kesejahteraan Muslim modern yang paling dinamis di dunia.

Dia  juga menegaskan bahwa reformisme Islam tidak harus bersifat antimodern atau antikewargaan, tetapi dapat menjadi kekuatan bagi pembangunan sosial, pendidikan, dan kesejahteraan publik.

Pandangan tersebut penting karena Muhammadiyah selama lebih dari satu abad berhasil membantah stereotip bahwa gerakan pemurnian atau reformisme Islam (puritanism) selalu identik dengan sikap kaku, tertutup, dan antikemajuan.

Di tangan Muhammadiyah, teologi justru menjadi fondasi kesalehan sosial. Nilai-nilai keagamaan diterjemahkan ke dalam kelembagaan nyata yang menopang kehidupan masyarakat dan bangsa: ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, panti sosial, lembaga filantropi, hingga berbagai institusi ekonomi dan keuangan.

Selama 114 tahun, Muhammadiyah tumbuh bukan semata karena retorika teologis yang melangit, melainkan karena kemampuannya menerjemahkan doktrin tajdid menjadi amal nyata.

Pembaruan tidak berhenti pada gagasan, tetapi bergerak menjadi praksis yang melintasi batas sosial melalui kerja-kerja institusional yang terstruktur.

Di titik inilah Muhammadiyah dapat dilihat sebagai salah satu model gerakan Islam yang menunjukkan bahwa Islam kompatibel dengan kemajuan modern sekaligus mampu menjadi kekuatan penting dalam membangun peradaban yang berkeadaban.

Pandangan serupa dapat ditemukan dalam perspektif psikologis-sosiologis James L. Peacock melalui Muslim Puritans: Reformist Psychology in Southeast Asian Islam (1978).

Peacock melihat Muhammadiyah sebagai kekuatan penting modernisasi di Indonesia yang memadukan pembaruan keagamaan dengan kesejahteraan sosial dan pendidikan.

Hefner dan Peacock, dengan perspektif masing-masing, memberikan gambaran bahwa keberadaan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad tidak dapat dilepaskan dari karakter pembaruan Islam yang kuat. Dalam konteks ini, istilah par excellence menjadi relevan: sebuah gagasan tentang keunggulan yang berada pada tingkat paling tinggi, ideal, dan melampaui standar kebanyakan.

Secara substantif, par excellence tidak cukup dimaknai sebagai predikat kebanggaan. Ia harus menjadi standar yang diwujudkan dalam kehidupan gerakan.

Keunggulan itu mencakup tata kelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga ekonomi dengan standar kualitas yang tinggi.

Dalam bidang pemikiran, Muhammadiyah menampilkan gagasan Islam Berkemajuan yang rasional, solutif, dan responsif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan akar keislamannya.

Keunggulan juga menyangkut keteladanan moral dan kepemimpinan. Muhammadiyah harus mampu menghadirkan standar rujukan dalam integritas, tata kelola organisasi, profesionalisme, serta kontribusi bagi umat dan bangsa.

Abdul Mu’ti melalui Muhammadiyah Par Excellence: Catatan Dinamika Gerakan (2022) merangkai sejumlah catatan reflektif mengenai dinamika, tantangan, dan strategi Muhammadiyah untuk terus merawat serta mewujudkan keunggulannya di era modern.

Menjadi warga Muhammadiyah pada era modern berarti berdiri di persimpangan berbagai arus ideologi, budaya, sosial-politik, dan perkembangan zaman.

Karena Muhammadiyah mendefinisikan dirinya sebagai gerakan dakwah dan tajdid, berbagai tantangan tersebut harus dihadapi dengan penguatan iman, kedalaman ilmu, dan tindakan nyata.

Dengan demikian, par excellence bukan sekadar label. Ia adalah tuntutan agar setiap warga, kader, pimpinan, dan institusi Muhammadiyah terus bergerak menuju kualitas terbaik.

Karakter Muhammadiyah Par Excellence

Menjadi Muhammadiyah par excellence berarti menghadirkan profil kader, pimpinan, anggota, simpatisan, maupun institusi yang berada pada tingkat keunggulan tinggi. Bukan sekadar menjalankan rutinitas organisasi, melainkan menjadi teladan dalam pemikiran, akhlak, profesionalisme, dan tata kelola gerakan.

Setidaknya ada lima karakter utama yang perlu dikembangkan.

Pertama, integritas akhlak dan keteladanan moral.

Nilai-nilai Islam tidak boleh berhenti pada retorika atau simbol. Ia harus menjelma menjadi kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab, transparansi, dan konsistensi perilaku di mana pun warga Muhammadiyah berada.

Keunggulan organisasi akan kehilangan makna apabila tidak ditopang oleh keunggulan moral orang-orang yang menjalankannya.

Kedua, berpikir dengan perspektif Islam Berkemajuan.

Kader Muhammadiyah harus memiliki wawasan luas, inklusif, dan solutif terhadap persoalan zaman. Pemikirannya rasional serta adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan sosial, tetapi tetap berakar kuat pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Islam Berkemajuan tidak berarti mengikuti setiap perubahan zaman tanpa kritik. Sebaliknya, ia berarti mampu membaca perubahan, mengambil manfaat dari kemajuan, sekaligus memberikan arah moral terhadapnya.

Ketiga, profesionalisme dan keunggulan tata kelola.

AUM dan organisasi Muhammadiyah harus dikelola dengan prinsip akuntabilitas, transparansi, efisiensi, dan profesionalisme. Kinerja harus terukur, inovasi harus menjadi budaya, dan standar mutu harus terus ditingkatkan.

SMPM 5 Pucang SBY

Keunggulan tidak cukup diukur dari banyaknya lembaga yang dimiliki. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa berkualitas lembaga tersebut, seberapa besar manfaatnya, dan seberapa kuat daya tahannya menghadapi perubahan.

Keempat, kepedulian sosial yang berdampak luas.

Gerakan Muhammadiyah harus menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun golongan. Inilah salah satu wajah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Kehadiran Muhammadiyah seharusnya selalu menjadi jawaban atas persoalan kemanusiaan: kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketimpangan, hingga berbagai persoalan sosial baru yang muncul akibat perubahan zaman.

Kelima, independensi dan resiliensi gerakan.

Muhammadiyah membutuhkan kemandirian yang kuat, baik secara organisasi maupun finansial. Spirit kewirausahaan, kemampuan mengembangkan sumber daya, dan daya tahan menghadapi dinamika sosial-politik menjadi bagian penting dari keberlangsungan gerakan.

Independensi bukan berarti mengisolasi diri dari lingkungan. Sebaliknya, independensi memungkinkan Muhammadiyah bekerja sama dengan berbagai pihak tanpa kehilangan prinsip dan identitas gerakannya.

Tantangan di Masa Depan

Menjadi gerakan par excellence bukan perkara mudah. Tantangan Muhammadiyah hari ini dan masa depan justru semakin kompleks.

Salah satu tantangan tersebut adalah menguatnya arus pemikiran pascamodern yang mempertanyakan kembali fondasi agama, termasuk ateisme, agnostisisme, dan sekularisme.

Kehidupan modern dengan kemajuan sains dan teknologi dapat menciptakan ilusi bahwa manusia tidak lagi membutuhkan Tuhan karena hampir seluruh persoalan dianggap dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan atau diselesaikan melalui teknologi.

Yuval Noah Harari dalam Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (2016) menggambarkan ambisi manusia untuk meningkatkan kemampuan dirinya hingga seolah-olah mampu mengambil posisi yang selama ini diasosiasikan dengan Tuhan. Kemajuan sains, teknologi, rekayasa genetika, dan kecerdasan buatan membuka kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya berada di luar imajinasi manusia.

Tantangan sesungguhnya bukanlah kemajuan teknologi itu sendiri, melainkan ketika kemajuan tersebut kehilangan orientasi moral dan spiritual.

Di sisi lain, nihilisme dan sekularisasi kehidupan dapat mendorong proses despiritualisasi: nilai-nilai spiritual, dorongan transendental, dan kesadaran ruhani semakin kehilangan peran sebagai penuntun kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat.

Kondisi ini dapat melahirkan paradoks. Secara formal seseorang masih menjalankan ritual agama, tetapi kepekaan spiritual dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan justru semakin melemah.

Ketika materialisme dan pragmatisme mendominasi, formalisme agama dapat tumbuh bersamaan dengan kekeringan spiritual. Makna hidup semakin disekularisasi, sementara manusia menghadapi krisis eksistensial, keterasingan, dan kehampaan jiwa.

Dalam situasi seperti itu, Muhammadiyah tidak cukup hanya memperbanyak amal usaha. Muhammadiyah harus memperkokoh fondasi tauhid yang murni sebagai kekuatan pembebasan manusia dari penghambaan kepada materi, kekuasaan, dan ideologi yang menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu.

Tauhid harus menjadi rasionalitas spiritual yang membuat iman tetap kokoh sekaligus terbuka terhadap ilmu pengetahuan.

Karena itu, Muhammadiyah dituntut terus mengembangkan ijtihad yang kontekstual dengan menawarkan rasionalitas, pencerahan, dan alternatif kehidupan melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, filantropi, serta pelayanan sosial yang unggul.

Di sinilah makna par excellence menemukan relevansinya. Muhammadiyah tidak cukup menjadi gerakan yang besar. Ia harus menjadi gerakan yang unggul dalam nilai, unggul dalam ilmu, unggul dalam amal, dan unggul dalam memberi manfaat.

Keunggulan itu pada akhirnya bukan untuk membanggakan organisasi, melainkan untuk membuktikan bahwa keberagamaan mampu melahirkan peradaban yang mencerahkan.

Orientasi tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Ali ‘Imran ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Ayat tersebut tidak hanya berbicara tentang identitas sebagai umat terbaik. Ia sekaligus memuat syarat moralnya: mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.

Maka, Muhammadiyah par excellence bukanlah Muhammadiyah yang sekadar besar secara kuantitatif. Ia adalah Muhammadiyah yang mampu membuktikan keunggulannya melalui kualitas iman, keluasan ilmu, keluhuran akhlak, profesionalisme tata kelola, kemandirian, dan keluasan manfaat bagi kemanusiaan.

Pada akhirnya, ukuran keunggulan Muhammadiyah bukan seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa besar kebaikan yang mampu dihadirkan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 11/08/2026 18:52
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu