Tim KKN Pencerahan 58 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melahirkan inovasi mie dari daun kelor pada Ahad, (9/8/2026).
Inovasi tersebut tidak hanya berfokus pada pembuatan produk, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kandungan dan manfaat daun kelor.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pengolahan daun kelor menjadi mie bersama sekitar 20 warga Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.
Ketua KKN P 58, Rico Dimas Firmansyah, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya ibu-ibu, mengenai pemanfaatan daun kelor sebagai bahan pangan.
Menurutnya, kelor tidak harus selalu diolah menjadi sayur bening, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk makanan yang lebih variatif.
“Target utama dan manfaat kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan warga, khususnya ibu-ibu, mengenai kandungan gizi dan manfaat daun kelor yang tidak hanya dibuat sebagai olahan masakan sayur bening” ujar Rico.
Ia berkata bahwa program tersebut memiliki peluang untuk terus dikembangkan setelah kegiatan KKN berakhir.
Salah satu alasannya adalah bahan baku daun kelor mudah diperoleh karena sebagian besar masyarakat memilikinya di rumah.
“Selain itu, proses pembuatannya relatif sederhana sehingga dapat dipraktikkan kembali secara mandiri” jelasnya.
Edukasi Sebelum Praktik Memasak
Edukasi dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh mahasiswa Program Studi Kebidanan. Penanggung jawab program kerja dari Prodi Kebidanan, Nazwa Nayla Putri.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan daun kelor berangkat dari keberadaannya yang mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, tetapi pemanfaatannya dinilai masih belum maksimal.
“Daun kelor dipilih karena merupakan bahan pangan lokal yang mudah didapat, murah, terjangkau, dan memiliki kandungan gizi. Selain itu, kelor juga berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai olahan bahan makanan sehingga dapat meningkatkan pemanfaatannya di masyarakat” jelas Nayla.
Dalam materi edukasi, masyarakat diperkenalkan dengan daun kelor (Moringa oleifera) sebagai bahan pangan yang mengandung berbagai vitamin, mineral, protein, serat, dan senyawa bioaktif.
Di samping itu, daun kelor juga mengandung vitamin C, protein, vitamin A, kalsium, zat besi, serta serat.
Nayla berharap inovasi olahan daun kelor ini dapat menjadi alternatif bagi keluarga yang kurang tertarik mengkonsumsi kelor secara langsung sebagai sayuran.
Ajak Warga Membuat Mie Kelor
Setelah mendapatkan edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan mie kelor yang didampingi mahasiswa Program Studi Manajemen.
Penanggung jawab program kerja dari Prodi Manajemen, Endah Sri Wahyuni, menjelaskan bahwa mie dipilih karena merupakan makanan yang sudah familiar dan banyak disukai masyarakat.
Proses praktik dimulai dengan pengenalan bahan dan alat yang digunakan.
“Mungkin salah satu tantangan dalam proses pembuatan terletak pada pengolahan adonan agar memperoleh tekstur yang tepat sehingga mie tidak mudah putus atau hancur ketika dibentuk” terang Endah.
Hasil kegiatan tersebut juga membuka peluang pengembangan produk. Mie kelor disebut dapat dikembangkan menjadi mie segar, mie kering, maupun produk olahan lainnya.
Di samping itu, respons masyarakat terhadap sesi edukasi pun cukup positif.
Warga terlihat antusias mengikuti kegiatan, aktif bertanya, serta mengikuti proses pengolahan dari awal hingga selesai.
Salah satu warga Dusun Sumbersari, Atul, mengaku terkejut karena selama ini daun kelor lebih dikenal sebagai bahan sayur.
“Lucu, nggak nyangka kok bisa dibuat mie. Kita kan taunya dibuat sayur, nggak nyangka saja bisa dibuat mie” ungkapnya.
Ia juga mengaku tertarik untuk mencoba membuat mie kelor secara mandiri di rumah karena proses pembuatannya dinilai mudah.
“Insyaallah tertarik karena mudah membuatnya” katanya.
Baginya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan tanaman yang selama ini mudah ditemui di lingkungan sekitar.





0 Tanggapan
Empty Comments