Perubahan zaman saat ini bergerak dengan kecepatan yang melampaui imajinasi manusia masa lalu.
Dunia yang dahulu dibayangkan sebagai hamparan luas tanpa ujung, kini seolah mengecil dalam genggaman teknologi digital.
Informasi berlimpah ruah dalam volume yang masif, pengetahuan berkembang pesat, dan sekat-sekat geografis yang dulunya kaku dan tegas kini kian mengabur.
Umat Islam harus merawat kedalaman spiritualitas di dalam batin di tengah pusaran globalisasi yang serba cepat.
Pada saat yang sama, mereka tidak boleh meninggalkan gelanggang kemajuan intelektual.
Di sinilah konsep “Islam Berkemajuan” menambatkan relevansinya, hadir bukan sekadar sebagai jawaban praktis, melainkan sebagai manifesto visioner bagi peradaban masa depan.
Islam Berkemajuan bukanlah semacam jargon kosong yang menggema di ruang hampa, melainkan sebuah paradigma berpikir (worldview) dan pola bertindak yang integral.
Konsep ini menuntut umat untuk memanifestasikan nilai-nilai keislaman yang rasional, moderat, inklusif, serta berorientasi teguh pada maslahat al-ammah atau kemaslahatan publik.
Islam tidak datang ke muka bumi untuk mengalienasi manusia dari dinamika perubahan zaman.
Sebaliknya, ia datang sebagai pembimbing agar setiap gerak perubahan tetap berada dalam koridor nilai-nilai ilahiah yang luhur.
Tauhid yang murni dalam perspektif ini tidak hanya meneguhkan hubungan vertikal dengan Sang Khaliq, tetapi juga menjadi kekuatan pembebas (liberasi) yang melepaskan manusia dari belenggu stagnasi berpikir, tradisi taklid buta, serta praktik-praktik keagamaan mekanis yang telah kehilangan ruh pembebasannya.
Menilik lembaran sejarah, Muhammadiyah sejak berdirinya pada tahun 1912 telah memancarkan semangat tajdid—sebuah gerakan pembaruan yang bersifat kontinu dan tidak mengenal titik henti.
Gerakan yang diinisiasi oleh KH. Ahmad Dahlan ini lahir dari sebuah kegelisahan sosiologis yang mendalam melihat kondisi umat yang terjerembab dalam kemiskinan, ketertinggalan pendidikan, dan kerapuhan derajat kesehatan.
Tajdid dalam khittah Muhammadiyah bukanlah sebuah upaya desakralisasi atau penggantian ajaran pokok agama, melainkan mengembalikan Islam pada kemurnian sumber aslinya sembari melakukan kontekstualisasi agar nilai-nilai tersebut tetap selaras dengan tantangan zaman.
Spirit pembaruan ini menjadi niscaya untuk terus direspirasikan, terutama ketika kita dihadapkan pada disrupsi teknologi yang melaju tanpa jeda.
Revolusi digital, penetrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hingga transformasi tatanan sosial dunia menghadirkan paradoks: peluang besar bagi kemanusiaan sekaligus ancaman alienasi nilai.
Tanpa pondasi aqidah yang kokoh, umat rentan kehilangan arah.
Namun, tanpa keterbukaan intelektual dan keberanian bereksperimen dengan ilmu pengetahuan, umat akan terpinggirkan dari percaturan peradaban.
Oleh karena itu, sosok kader Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada pemahaman Islam yang bersifat normatif-tekstual semata.
Kemampuan melakukan dialektika antara teks dan konteks menjadi keharusan.
Islam harus mewujud secara empiris dalam ruang-ruang kehidupan nyata: di bangku-bangku sekolah yang mencerahkan, di lorong-lorong rumah sakit yang menyembuhkan, di lembaga sosial yang mengayomi, hingga dalam dialektika kebangsaan yang inklusif.
Nilai tauhid harus menjelma menjadi etos kerja yang melampaui standar, integritas yang tak tergoyahkan, profesionalitas yang mumpuni, serta kepedulian sosial yang tulus.
Dari Pengajian Ramadan oleh Prof. Haedar Nashir di Dormitori UMY mengingatkan bahwa penguatan ideologi merupakan kunci keberlanjutan dan ketangguhan gerakan.
Ideologi di sini tidak dipahami sebagai dogma yang memenjarakan, melainkan sebagai “kompas ideologis” yang menjaga arah perjalanan organisasi agar tetap konsisten.
Tanpa ideologi yang mapan dan kuat, sebuah gerakan akan mudah terombang-ambing oleh arus zaman yang bersifat sementara.
Sebaliknya, ideologi yang kaku dan anti-dialog hanya akan mengubah gerakan menjadi artefak sejarah yang kehilangan relevansi fungsionalnya.
Keseimbangan antara kedalaman spiritual (spiritual depth) dan keluasan intelektual (intellectual breadth) menjadi kunci sentral.
Kedalaman spiritual akan menyemai benih keikhlasan, keteguhan hati, dan orientasi transendental yang melampaui batas-batas keduniawian.
Sementara itu, keluasan intelektual akan menumbuhkan sikap keterbukaan, daya kreativitas, dan fleksibilitas dalam beradaptasi.
Keduanya bukanlah dua kutub yang berlawanan, melainkan dua sayap yang memungkinkan umat untuk terbang tinggi menjangkau cakrawala kemajuan.
Seorang kader Muhammadiyah yang ideal adalah pribadi yang khusyuk dalam sujudnya dan sekaligus tajam dalam nalarnya.
Ia tekun mengaji ayat-ayat qauliyah di dalam kitab suci, sekaligus mahir membedah ayat-ayat kauniyah di dalam realitas alam dan sosial.
Ia menghargai tradisi sebagai fondasi, namun tidak alergi terhadap inovasi sebagai instrumen akselerasi.
Problematika Umat Akut
Problem akut yang melanda umat hari ini adalah dikotomi yang tajam antara religiusitas dan intelektualitas.
Kita sering menjumpai fenomena “saleh secara ritual” namun gagap menghadapi perubahan, atau sebaliknya, “cerdas secara intelektual” namun mengalami kekeringan spiritual yang akut.
Islam Berkemajuan hadir sebagai jembatan emas yang menghubungkan keduanya.
Momentum Ramadhan, dengan demikian, menjadi ruang refleksi kolektif yang sangat strategis.
Ritual ibadah puasa bukan sekadar untuk meningkatkan ibadah personal, tetapi juga ruang refleksi kolektif.
Puasa mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan keikhlasan. Nilai-nilai ini seharusnya tidak berhenti di bulan Ramadan, tetapi menjadi karakter sepanjang hayat.
Jika madrasah Ramadhan mampu melahirkan individu yang lebih jujur, disiplin, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi, maka pada hakikatnya kita sedang membangun fondasi peradaban.
Perubahan besar selalu bermula dari transformasi kecil pada level individu.
Namun, spiritualitas yang hanya berhenti di sajadah tanpa kontribusi sosial adalah spiritualitas yang mandul.
Islam menuntut keselamatan kolektif, bukan sekadar keselamatan egoistik.
Kader Muhammadiyah harus menjadi problem solver atas sengkarut kemiskinan, kebodohan, dan krisis moralitas bangsa.
Dalam sektor pendidikan, kader harus menjadi motor literasi yang tidak hanya mampu membaca teks, tapi juga membaca arah zaman.
Di bidang kesehatan dan sosial, mereka harus menjadi wajah kemanusiaan yang inklusif.
Di panggung kebangsaan, mereka wajib menjadi perekat persatuan di tengah tarikan polarisasi.
Inilah wajah Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin—Islam yang tidak hanya fasih berkhotbah di atas mimbar, tetapi juga cekatan bekerja di lapangan demi martabat manusia.
Tantangan zaman akan terus berubah. Generasi digital (digital natives) memiliki pola pikir dan pola komunikasi yang berbeda.
Jika dakwah tetap menggunakan pendekatan konvensional yang kaku, maka pesan-pesan langit akan kehilangan daya jangkaunya.
Kreativitas dakwah, penggunaan media baru, dan pendekatan dialogis yang setara menjadi kebutuhan mendesak.
Muhammadiyah memiliki modalitas yang luar biasa: jaringan amal usaha yang kian meluas, tradisi intelektual yang semakin matang, dan rekam jejak pengabdian yang panjang dalam aksi sosial.
Kini, estafet perjuangan menanti para kader yang memiliki kedalaman niat, keluasan inovasi, dan komitmen sosial yang tak kenal pamrih.
Dengan demikian, penting untuk diingat bahwa spirit tanpa ilmu akan terjerembab dalam emosionalisme buta.
Ilmu tanpa spiritualitas akan kehilangan kendali moral.
Dan aktivisme tanpa keduanya hanyalah gerak tanpa ruh.
Masa depan tidak menunggu mereka yang ragu.
Sejarah hanya memberikan tempat bagi mereka yang berani melangkah dengan iman dan ilmu.
Islam Berkemajuan adalah optimisme kita bahwa Islam tetap menjadi inspirasi utama bagi peradaban yang berkeadilan, berkemajuan, dan penuh keridhaan ilahi.***






0 Tanggapan
Empty Comments