Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjadi Sederhana di Hari Raya Idul Fitri

Iklan Landscape Smamda
Menjadi Sederhana di Hari Raya Idul Fitri
Oleh : Angga Adi Prasetya Sekretaris Bidang Dakwah Pemuda Daerah Muhammadiyah Malang

Idul fitri adalah momen bahagia untuk berkumpul dengan keluarga, berbagi senyum, dan mempererat silaturahmi. Namun, di tengah arus zaman yang cepat, manusia modern sering terjebak dalam ilusi “lebih”: lebih kaya, lebih berkuasa, lebih diakui, lebih menarik, dan ingin menjadi pusat perhatian.

Seolah hidup adalah perlombaan panjang tanpa garis akhir. Padahal, ajaran Islam menekankan bukan memamerkan kepemilikan, tetapi belajar merasa cukup.

Pelajaran dari Ramadan dan Syawal

Ramadan yang baru berlalu, diikuti Idul fitri dan bulan Syawal, sejatinya adalah madrasah ruhani. Bulan suci melatih kita menahan diri, bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari keinginan berlebihan. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“_Wa laa tamuddan­na ‘ainayka ilaa maa matta’naa bihi azwaajan minhum zahratal hayaatid dunyaa linaftinahum fiih_”
(Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya) — (QS. Taha: 131)

Ayat ini menegaskan bahwa kemewahan dunia hanyalah ujian, bukan tujuan akhir hidup. Sayangnya, manusia sering menjadikannya tolok ukur kebahagiaan.

Kekayaan Sejati adalah Kekayaan Jiwa

Rasulullah SAW bersabda:

“_Laisa al-ghinaa ‘an katsrati al-‘aradh, wa lakinna al-ghinaa ghinaa an-nafs_”
(Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa) — (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, orang yang benar-benar kaya adalah yang hatinya merasa cukup, tidak gelisah melihat milik orang lain, dan tidak merasa kurang dengan apa yang dimilikinya.

Qana’ah, Kunci Kesederhanaan

Para ulama, seperti Imam Al-Ghazali, mengingatkan:

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“_Al-qanaa’atu maalun laa yanfad_”
(Qana’ah adalah harta yang tidak akan pernah habis)

Seseorang yang memiliki sifat qana’ah selalu merasa cukup, tidak mudah iri, tidak terobsesi mengejar kemewahan, dan tidak menjadikan hidup sebagai ajang pamer. Sebaliknya, yang selalu merasa kurang akan terus gelisah meski hartanya melimpah.

Kesederhanaan di Tengah Keluarga

Momentum mudik dan Syawal seharusnya menjadi waktu untuk merenung. Pulang ke kampung halaman bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan kembali ke akar kehidupan kepada kesederhanaan dan nilai-nilai yang membentuk kita sejak dulu.

Di tengah keluarga dan suasana sederhana, kita diingatkan bahwa hidup tidak harus diukur dari kekayaan atau jabatan. Idul fitri bukan panggung untuk memamerkan apa yang dimiliki, tetapi momen untuk merayakan kebersamaan, keikhlasan, dan kesederhanaan.

Kebahagiaan Sejati dari Hati yang Cukup

Dalam kesederhanaan, makna hidup sering ditemukan. Ada ketenangan yang tidak bisa dibeli, ada kebahagiaan yang tidak bergantung pada penilaian orang lain.

Setelah Ramadan berlalu dan Syawal tengah berjalan, pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak yang telah dikumpulkan, tetapi seberapa dalam memahami arti “cukup“.

Di dunia yang terus mendorong kita menjadi luar biasa, menjadi sederhana dan merasa cukup adalah bentuk kebijaksanaan tertinggi. Idul fitri mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hati yang puas, bukan dari apa yang terlihat oleh mata.

Revisi Oleh:
  • Satria - 19/03/2026 09:35
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡