
PWMU.CO – Tabligh Akbar Muharram yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mulyorejo Surabaya berlangsung meriah dan penuh semangat, Ahad (13/7/2025). Acara bertema Diaspora Kader Dakwah untuk Kemaslahatan Umat ini menghadirkan Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Najih Prastiyo SHI MH, sebagai narasumber utama.
Kegiatan yang berlangsung di halaman SD Muhammadiyah 8 Surabaya ini merupakan kolaborasi lintas organisasi otonom seperti Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, IPM, dan Pemuda Muhammadiyah. Dimulai pukul 07.00 hingga selesai, acara ini dihadiri ratusan warga dan kader Muhammadiyah.
Dalam ceramahnya, Najih mengungkapkan rasa syukur atas kepedulian PCM dan PCA Mulyorejo terhadap kader muda.
“Bersyukurlah menjadi bagian dari AMM Mulyorejo. Karena jarang ada Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah yang benar-benar peduli dan memperhatikan anak-anak muda,” ucapnya.
Menurutnya, fasilitasi forum pengajian, tabligh akbar, dan ruang diskusi seperti ini adalah bentuk perhatian nyata yang akan menumbuhkan semangat dakwah anak-anak muda Muhammadiyah.
Peringatan tentang Masa Depan Muhammadiyah
Najih menyampaikan kekhawatirannya terhadap masa depan organisasi jika kaderisasi tidak berjalan baik. Ia mencontohkan kondisi Syarikat Islam yang kini meredup meski tokoh-tokohnya masih besar.
“Karena kaderisasinya tidak berjalan dengan baik,” ujarnya. Menurut dia, proses kaderisasi bukan hanya tanggung jawab pimpinan, tetapi juga seluruh komponen Angkatan Muda Muhammadiyah.
Najih kemudian menyoroti pentingnya pemahaman ideologis sebelum berbicara tentang diaspora. “Diaspora memang wajib, tapi harus didahului oleh pemenuhan spiritual dan ideologis,” tegasnya.
Tafsir Diaspora dalam Al-Qur’an
Ia menafsirkan QS. Al-Jumu’ah ayat 10 sebagai dasar kewajiban diaspora, namun mengingatkan bahwa Allah mendahului perintah fantasyiru fil-ard (bertebaran di muka bumi) dengan fa-idza qudiyati as-shalah (setelah shalat ditunaikan).
“Penuhi kebutuhan spiritualmu dulu, baru kau menyebar ke bumi. Banyak anak muda yang melupakan bagian pertama ini,” kata Najih.
Ia menyesalkan banyaknya kader muda yang aktif di Muhammadiyah hanya untuk tujuan pekerjaan, tetapi belum memperkuat ruhaniyah dan ideologinya.
Buta Ideologi Muhammadiyah
Najih mencontohkan lemahnya kesadaran ideologis anak muda Muhammadiyah dengan membandingkan kader organisasi lain. “Tanyakan ke kader GP Ansor, HTI, atau Tarbiyah—mereka tahu ideologinya. Tapi tanya ke kader Muhammadiyah, jawabannya pasti ke arah MKCHM, Khittah Muhammadiyah, PHIWM. Padahal itu merupakan dokumen, bukan ideologi,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa pemahaman ideologis adalah syarat mutlak agar kader Muhammadiyah tidak hanya aktif, tetapi juga tangguh dan konsisten di medan dakwah.
“Jika kaderisasi ideologis dilakukan dengan baik, akan lahir generasi yang tangguh dan mencintai Muhammadiyah sepenuh hati,” pungkasnya. (*)
Penulis M Tanwirul Huda Editor Wildan Nanda Rahmatullah






0 Tanggapan
Empty Comments