RSIA Muhammadiyah Kota Probolinggo menggelar seminar bertajuk “The Healing Healer” sebagai upaya menjaga kesehatan mental tenaga kesehatan di tengah tuntutan kerja dan peran keluarga.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 15 Maret 2025 ini menjadi momentum refleksi di bulan Ramadan, di mana para tenaga kesehatan (nakes) diajak tidak hanya meningkatkan spiritualitas, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan emosional mereka.
Fokus pada Kesehatan Mental Nakes
Seminar bertema “Resiliensi & Wellness Tenaga Kesehatan: The Healing Healer – Menata Hati, Otak, dan Peran di Pintu Langit” ini diikuti sekitar 32 peserta yang terdiri dari perawat dan bidan.
Para peserta tidak hanya berperan sebagai tenaga medis di garis depan pelayanan, tetapi juga sebagai ibu yang memiliki tanggung jawab besar dalam keluarga, sehingga keseimbangan peran menjadi tantangan tersendiri.
Inisiatif CSR Douperi Indonesia
Kegiatan ini merupakan program perdana yang diinisiasi melalui Corporate Social Responsibility (CSR) dari Douperi Indonesia.
Acara dibuka dengan pembacaan basmallah yang dipandu oleh Solikhah Maulida Dwi Harsiwi S.Tr.Keb sebagai pembawa acara, menciptakan suasana khidmat sekaligus reflektif sejak awal kegiatan.
Dukungan dari Manajemen RSIA
Direktur RSIA Muhammadiyah Kota Probolinggo, dr. Kemal Fikar Muhammad, M.H.Kes., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar tersebut.
Ia berharap materi yang diberikan dapat membantu tenaga kesehatan dalam menjaga keseimbangan antara peran profesional dan kehidupan keluarga.
“Semoga ilmu yang disampaikan hari ini dapat menjadi bekal bagi tenaga kesehatan kami untuk menjaga keseimbangan antara peran profesional dan peran keluarga,” ujarnya.
Pendekatan Berbasis Kondisi Psikologis
Memasuki sesi inti, kegiatan diawali dengan pengisian kuesioner untuk memetakan kondisi mental dan psikologis peserta, sehingga materi yang disampaikan dapat lebih tepat sasaran.
Founder Douperi Indonesia, D. Titian Awaly, B.Ed., CH, CHt, CSHP, kemudian mengajak peserta berdialog secara langsung terkait pengalaman mereka dalam menjalani peran ganda sebagai tenaga kesehatan dan ibu.
Salah satu peserta, Mia Ainur S.Tr.Keb, berbagi pengalaman sebagai ibu baru yang harus membagi waktu dan energi antara pekerjaan dan keluarga.
Seminar Interaktif dan Reflektif
Penyampaian materi berlangsung interaktif selama kurang lebih dua jam dan dilanjutkan dengan sesi diskusi panel yang melibatkan seluruh peserta.
Para peserta aktif berbagi pengalaman terkait dinamika pekerjaan, tekanan emosional, serta tantangan menjaga keseimbangan hidup.
Salah satu peserta, Ns. Esti Ruspitasi S.Kep., mengaku terkesan dengan metode seminar yang diawali dengan pemetaan kondisi psikologis.
“Materi yang disampaikan benar-benar sesuai kebutuhan kami karena diawali dengan penilaian kondisi mental peserta,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan pentingnya menjaga emosi dan memberikan perhatian penuh kepada keluarga di tengah kesibukan sebagai tenaga kesehatan.
Meneguhkan Peran Nakes Perempuan
Menjelang akhir acara, panitia menegaskan bahwa seminar ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan mental bagi tenaga kesehatan, khususnya perempuan.
Peran sebagai ibu sekaligus tenaga medis disebut sebagai amanah mulia yang membutuhkan keseimbangan antara kekuatan hati dan ketenangan pikiran.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan penyampaian jargon khas Douperi Indonesia yang membangkitkan semangat peserta.
“Pulihkan lelahmu, tenangkan pikiranmu, bangkitkan bahagiamu,” ucap peserta secara bersama-sama.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para tenaga kesehatan dapat memperkuat ketahanan mental dan kesejahteraan emosional, sehingga mampu memberikan pelayanan terbaik bagi pasien sekaligus menjaga keharmonisan keluarga.





0 Tanggapan
Empty Comments