Ruang rapat itu terasa hidup. Percakapan mengalir cepat. Kadang serius, kadang diselingi tawa kecil. Sesekali bahkan pecah menjadi ger-geran yang mencairkan suasana. Begitulah dinamika Rapat Kerja Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di Magetan. Berikut kisah lanjutan lahirnya portal bekemajuam PWMU.CO.
Di kursi depan, Radius Setiyawan tampak duduk tenang. Senyum kecil sesekali muncul di wajahnya. Dia tidak banyak bicara. Lebih sering memperhatikan jalannya diskusi dalam Rapat Kerja Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.
Tangannya sesekali bergerak. Mencatat. Menyimpan poin-poin penting yang muncul dari perdebatan para peserta raker.
Sikap yang hampir sama terlihat dari Muh. Kholid Assyadulloh, Ketua LIK PWM Jatim. Meski duduk di bagian depan, dia tidak mendominasi percakapan.
Kholid lebih banyak menyimak. Matanya menyapu peserta rapat. Mendengar satu per satu gagasan yang disampaikan.
Sementara itu, dinamika diskusi justru banyak digerakkan oleh dua nama lain. Nasrullah dan Rully Anwar terlihat paling sibuk menjaga ritme forum. Mereka seperti pengatur lalu lintas gagasan.
“Baik, silakan kalau ada tanggapan. Satu-satu, ya,” ujar Nasrullah sambil mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar peserta berbicara bergantian. Diskusi pun kembali mengalir.
Di meja rapat itu, ide-ide berseliweran. Kadang beradu argumen. Kadang saling menguatkan. Sementara para pengurus yang lebih junior banyak memilih diam, menyimak jalannya diskusi.
Namun yang saya tangkap, mereka yang hadir malam itu memiliki semangat yang sama: membangun komunikasi Muhammadiyah yang lebih kuat di Jawa Timur.
Beberapa saat kemudian, Ustaz Nadjib Hamid dan Rohman Budijanto, karib disapa Mas Roy, masuk ke ruang rapat. Kehadiran keduanya segera menarik perhatian peserta.
Panitia sebenarnya telah menyiapkan tempat di deretan depan bersama Ketua dan Wakil Ketua LIK. Namun keduanya tersenyum sambil menolak halus. Mereka justru memilih kursi di tengah barisan peserta raker. Duduk berdampingan dengan yang lain, menyatu dalam lingkaran diskusi.
Pembahasan lalu mengerucut pada satu hal. Penting. Mendesak. Apa itu? Muhammadiyah Jawa Timur butuh portal. Sebuah website.
Website yang bukan sekadar papan pengumuman kegiatan. Bukan hanya tempat menempel rilis. Harus lebih dari itu. Sebuah rruang gagasan. Tempat kajian ditulis. Esai diperdebatkan. Opini dipertukarkan. Refleksi dituliskan. Berita bergerak dengan napas Muhammadiyah.
Peserta raker sepakat: dunia digital tak bisa dihindari! Kalau tidak hadir, kita akan tertinggal.
***
Namun seperti biasa, setiap gagasan baru selalu muncul perdebatan. Bahkan soal nama saja bisa memakan energi cukup besar.
Fiqih Arfani tiba-tiba ngacung. Wartawan LKBN Antara itu bicara lugas. “Kenapa tidak sederhana saja? Misalnya PWM Jatim atau Muhammadiyah Jatim,” katanya.
Menurutnya, nama seperti itu jelas. Tegas. Orang langsung tahu ini milik Muhammadiyah Jawa Timur.
“Dengan nama itu website kita lebih jelas. Ada nama Jatimnya,” tegas pria yang dikenal konsen menulis isu birokrasi dan pemerintahan di Pemprov Jatim.
Pendapat berbeda datang dari Faisol Taselan, wartawan Media Indonesia. Dia menyampaikan pandangan lain.
Menurutnya, nama website sebaiknya lebih “steril”. Tidak terlalu eksplisit membawa identitas organisasi. “Yang penting misinya tetap Muhammadiyah,” ujarnya singkat.
Saya ikut nimbrung. Menurut saya, yang terpenting satu: mudah diingat. Familiar. Enak disebut.
“Tidak perlu juga menyebut wilayah Jatim,” kata saya.
Ruang rapat kembali riuh. Ide bersahut-sahutan. Nama-nama baru bermunculan. Diskusi mengalir. Kadang serius. Kadang diselingi tawa kecil.
Nasrullah yang memimpin diskusi mencoba menata kembali lalu lintas pembicaraan. Suara mulai saling bertumpuk. Beberapa tangan terangkat hampir bersamaan. Dia lalu mengambil alih sebentar.
“Oke, satu-satu komentarnya,” ujar dosen Universitas Muhammadiyah Malang itu.
Nadjib Hamid yang sejak tadi duduk tenang lebih banyak tersenyum. Dia tampak menikmati suasana forum yang hidup. Diskusi mengalir. Pendapat bersahutan.
“Sudah, monggo. Silakan diputuskan (forum) saja,” ucapnya singkat.
Perdebatan masih berlanjut. Nama-nama terus bermunculan. Ada yang panjang. Ada yang formal. Ada juga yang terdengar terlalu teknis.
Di tengah suasana itu, Rohman Budijanto—yang akrab dipanggil Mas Roy—akhirnya angkat suara.
Penasihat LIK itu sedikit mengangkat tubuhnya dari kursi, namun tidak berdiri. Seperti hendak merangkum berbagai usulan yang sejak tadi berseliweran.
“Begini saja,” katanya pelan.
Menurutnya, satu prinsip penting jangan dilupakan: makin pendek nama, makin mudah diingat.
“Sudah. Kita pakai saja PWMU. Ya, PWMU. Lebih simpel,” ujarnya.
“PWMU?” seseorang mengulang dari barisan peserta.
Mas Roy mengangguk. Penyebutannya singkat. Sederhana. Tidak bertele-tele. Tetap punya akar yang jelas: Muhammadiyah.
Lalu, apa artinya? Bisa saja dimaknai sebagai akronim dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah. Tapi yang lebih penting bukan sekadar kepanjangannya.
Ruangan sempat hening sejenak. Forum seperti menimbang. Lalu perlahan mengangguk. Nama itu akhirnya disepakati.
Tinggal satu soal teknis: domainnya. Apakah .com? .co.id? Atau .net?
Rully Anwar, mantan reporter Suara Surabaya, lalu memanggil Zaenal Arifin, webmaster sekaligus pegiat media sosial asal Gresik. Zaenal pun bergerak cepat mengeksekusi keputusan forum.
Tak lama berselang, domain yang disepakati malam itu langsung diamankan: PWMU.CO. Pembeliannya dilakukan oleh Rully saat itu juga. (bersambung)






0 Tanggapan
Empty Comments