Menjadi mahasiswa di tengah perubahan sosial dan teknologi menuntut lebih dari sekadar kemampuan akademik. Karena itu, mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) diajak memahami bagaimana membangun lingkungan yang aman, merespons ketidakadilan, serta mempertahankan kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Orientasi Studi Dasar Islam (OSDI) 2026 yang diikuti ribuan mahasiswa baru UMY di Sportorium UMY, Selasa (8/9/2026). Mengangkat tema “Membangun Ruang Aman Melalui Spirit Islam Berkemajuan”, OSDI tahun ini tidak hanya memperkenalkan nilai-nilai keislaman, tetapi juga mengaitkannya dengan persoalan yang dihadapi generasi muda di ruang sosial dan digital.
Ketua Badan Pembina Harian UMY Dr. H. Agung Danarto, M.Ag. menempatkan pembinaan mahasiswa dalam konteks tanggung jawab umat Islam terhadap kehidupan dan peradaban.
Menurutnya, Islam tidak hanya berbicara mengenai kesalehan personal, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik.
“Umat Islam memiliki tugas kerisalahan untuk bisa mewujudkan menjadi khair ummah… membawa peradaban unggul di tengah-tengah peradaban dunia,” tegasnya.
Pesan tersebut menemukan bentuk yang lebih praktis dalam sesi yang menghadirkan pakar resolusi konflik sekaligus Direktur Peace Generation Indonesia Irfan Amali, M.A.
Irfan mengajak mahasiswa mengenali berbagai persoalan yang dapat mengganggu terciptanya ruang aman di lingkungan pendidikan. Perundungan (bullying), ekstremisme, dan kejahatan di ruang digital menjadi beberapa persoalan yang dibahas.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi penonton ketika menemukan ketidakadilan.
“Jika bystander (penonton pasif) berani bertransformasi menjadi upstander (pembela), maka pembully akan kehilangan sumber keberaniannya,” ujarnya.
Untuk membekali mahasiswa mengambil tindakan, Irfan memperkenalkan metode 5D, yakni Direct, Distract, Delegate, Document, dan Delay. Pendekatan tersebut memberikan sejumlah pilihan bagi seseorang yang menyaksikan tindakan bermasalah untuk merespons sesuai situasi.
Bersamaan dengan keberanian mengambil sikap, Irfan juga menekankan pentingnya nalar kritis dan empati. Menurutnya, keberadaan ruang aman tidak hanya bergantung pada aturan institusi, tetapi juga pada keberanian individu untuk memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya.
AI dan Masa Depan Mahasiswa
Persoalan lain muncul ketika mahasiswa dihadapkan pada perkembangan teknologi yang semakin cepat. Direktur di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI Arif Jamali, S.Pd., M.Pd. mengajak mahasiswa memikirkan kembali kemampuan yang perlu mereka bangun ketika kecerdasan buatan semakin banyak mengambil alih pekerjaan yang bersifat kognitif dan repetitif.
Dalam kondisi tersebut, kemampuan berpikir menjadi salah satu hal yang perlu terus diasah.
“Yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah cara berpikir kritis… maka jadi mahasiswa itu harus menjadi aktivis,” papar Arif.
Bagi Arif, kehidupan mahasiswa karenanya tidak cukup dijalani dengan pola kuliah-pulang. Mahasiswa perlu memiliki pengalaman yang lebih luas melalui organisasi dan interaksi sosial.
Ia mendorong mahasiswa baru mengenal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu ruang pengembangan diri. Melalui aktivitas organisasi, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan yang tidak semata-mata diperoleh dari pembelajaran akademik, seperti kepekaan sosial, negosiasi, komunikasi publik, dan kepemimpinan.
Rangkaian OSDI 2026 juga dikemas dengan pertunjukan musik dari Fashko Band dan Band Disnemesia. Perpaduan materi keislaman, isu sosial, teknologi, dan hiburan tersebut membuat orientasi tidak berhenti sebagai pengenalan nilai, tetapi menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk melihat posisi mereka di tengah perubahan zaman.
Dari ruang aman hingga tantangan kecerdasan buatan, mahasiswa baru UMY diajak memulai kehidupan kampus dengan satu bekal yang sama: kemampuan untuk berpikir, peduli, dan mengambil sikap. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments