Setiap anak memiliki keunikan, kebutuhan, dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, memahami anak secara utuh menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang mereka.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Parenting Pemahaman Inklusi yang diselenggarakan SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman (SD Mumtaz), Sabtu (26/9/2026). Kegiatan berlangsung di Aula SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman pukul 08.00–11.00 WIB.
Mengusung tema “Sinergi Orang Tua dan Guru Pendidikan Khusus dalam Membangun Lingkungan Suportif di Rumah dan Sekolah”, kegiatan diikuti orang tua, siswa, dan Guru Pendamping Khusus (GPK) SD Mumtaz.
Hadir sebagai narasumber Nishrina Khamida, M.Psi., Psikolog, Kepala UPT Layanan Disabilitas Sidoarjo. Kehadiran orang tua dan GPK dalam satu forum menjadi ruang untuk membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya pendidikan inklusi.
Memahami Anak secara Utuh
Dalam pemaparannya, Nishrina mengajak peserta memahami disabilitas dari perspektif yang lebih utuh. Menurutnya, orang tua perlu mengenali hambatan yang dialami anak karena kondisi tersebut dapat memengaruhi aktivitas, proses belajar, interaksi, hingga kehidupan keluarga.
Setelah mengenali hambatan, orang tua dapat menentukan dukungan yang sesuai, mulai dari memenuhi kebutuhan pendukung, mengarahkan anak sesuai kebutuhannya, hingga memberikan intervensi sedini mungkin.
Nishrina juga mengingatkan orang tua untuk tidak hanya berfokus pada keterbatasan anak. Anak merupakan pribadi yang membutuhkan kasih sayang, senang bermain, memiliki hal yang disukai dan tidak disukai, serta belajar dari lingkungan terdekatnya.
“Dukung tumbuh kembang mereka dengan cinta dan pengertian,” pesannya.
Ia menambahkan bahwa orang tua merupakan sosok yang paling dekat dengan kehidupan anak. “Psikolog terhebat adalah orang tua,” ungkapnya.
Mengenali Anak melalui Peta Pribadi
Untuk membantu orang tua memahami anak, Nishrina mengenalkan konsep peta pribadi. Orang tua diajak memetakan aktivitas yang disukai, hal yang menarik minat, kemampuan yang sudah dikuasai, hal yang tidak disukai, serta aktivitas yang masih sulit dilakukan.
Pemetaan tersebut dapat menjadi dasar bagi orang tua dalam menentukan bentuk pendampingan. Dengan begitu, anak tidak dibandingkan dengan anak lain, tetapi didukung berdasarkan kebutuhan, minat, kemampuan, dan potensi masing-masing.
Nishrina juga mengajak orang tua memperhatikan kondisi diri sendiri. Dalam mendampingi anak, orang tua dapat mengalami ketakutan, rasa bersalah, kelelahan, maupun kekhawatiran terhadap perkembangan anak.
Karena itu, orang tua juga membutuhkan ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.
Sinergi Orang Tua dan GPK
Pendidikan inklusi merupakan tanggung jawab bersama. Sekolah memberikan dukungan melalui guru dan GPK, sedangkan keluarga melanjutkan pendampingan ketika anak berada di rumah.
Komunikasi terbuka antara orang tua dan GPK menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Perkembangan anak di sekolah dapat menjadi informasi bagi keluarga, sementara pengalaman orang tua di rumah dapat menjadi masukan bagi GPK dan sekolah.
Suasana kegiatan semakin hangat saat sesi berbagi dan tanya jawab. Salah satunya melalui pengalaman Ibunda Azizam Santrian Tono, siswa kelas 2B, yang membagikan cerita dan perasaannya sebagai orang tua.
Bagi SD Mumtaz, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi sekolah dan keluarga. Melalui sinergi orang tua, siswa, guru, dan GPK, sekolah terus berupaya membangun lingkungan pendidikan yang ramah, aman, dan suportif bagi semua anak. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments