Paus Leo XIV mengecam meningkatnya sentimen anti-Muslim yang berkembang di Eropa dan Amerika Serikat. Menurutnya, ketakutan terhadap Islam banyak dipengaruhi oleh gerakan anti-imigran yang menolak keberagaman dan mendorong pengusiran pendatang berdasarkan perbedaan asal, agama, maupun ras.
Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan di pesawat, Selasa (2/12/2025), setibanya dari lawatan ke Turki dan Lebanon, Paus menyampaikan kekhawatirannya bahwa narasi ketakutan terhadap Muslim telah menghambat terciptanya dialog lintas agama. Kunjungan tersebut merupakan perjalanan luar negeri perdananya sejak resmi memimpin 1,4 miliar umat Katolik dunia pada Mei lalu.
“Sentimen anti-Muslim kerap datang dari mereka yang menolak arus migrasi dan ingin mengeluarkan orang-orang yang berbeda negara, keyakinan, atau ras,” ujarnya seperti dikutip Hurriyetdailynews, Kamis (4/12/2025).
Ia menilai Lebanon dapat menjadi rujukan bagi negara-negara Barat dalam membangun hubungan harmonis antara komunitas Kristen dan Muslim. Selama kunjungannya, Paus mengaku mendengar banyak kisah mengenai kerja sama dan solidaritas antarwarga kedua agama dalam kehidupan sehari-hari.
“Itu pelajaran penting… bahwa mungkin kita perlu mengurangi rasa takut,” katanya.
Paus Leo XIV, yang berasal dari Amerika Serikat dan pernah bertugas sebagai misionaris ordo Augustinian di Peru selama dua puluh tahun, juga menyinggung maraknya nasionalisme di berbagai negara Barat. Ia mengkritik keras perlakuan tidak manusiawi terhadap para migran di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Lebih jauh, ia mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk menolak pola pikir eksklusif yang dianggapnya menjadi pemicu menguatnya nasionalisme global. Paus menegaskan bahwa Gereja Katolik harus terlibat aktif dalam membuka sekat-sekat sosial serta meruntuhkan hambatan yang memisahkan kelompok masyarakat.
“Gereja harus membuka batas sosial dan merobohkan penghalang yang memisahkan kelas maupun ras,” tuturnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments