Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Ambulu resmi meluncurkan merek kemasan ramah lingkungan bernama Aisyah Eatery pada Ahad (25/1/2026). Peluncuran tersebut dilakukan di hadapan publik sebagai bagian dari upaya penguatan pengelolaan konsumsi jamaah di lingkungan persyarikatan.
Gagasan ini lahir dari tim kreatif Suara Muhammadiyah Ambulu sebagai respons atas besarnya perputaran dana konsumsi di Masjid Nurul Huda Ambulu dan Masjid Baitul Muslimin Andongsari.
Berdasarkan data Lazismu Jember, perputaran dana konsumsi di dua masjid tersebut mencapai sekitar Rp40 juta per pekan atau setara Rp200 juta per bulan. Besarnya dana yang dikelola menunjukkan tingginya aktivitas konsumsi jamaah, khususnya pada momen-momen ibadah dan kegiatan keagamaan.
Namun, di balik intensitas distribusi konsumsi tersebut, PCA Ambulu mencermati adanya persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian, terutama terkait penggunaan kemasan sekali pakai berbahan styrofoam.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah masjid Muhammadiyah di wilayah Ambulu masih menggunakan kemasan styrofoam dalam pendistribusian makanan. Dari sisi kesehatan dan lingkungan, penggunaan kemasan tersebut dinilai memiliki risiko apabila bersentuhan dengan makanan panas serta menimbulkan beban lingkungan karena sulit terurai.
Ghany Abdillah Ersa selaku Business Development Suara Muhammadiyah Ambulu menyampaikan bahwa potensi ekonomi yang besar tersebut perlu dikelola secara terarah agar memiliki nilai strategis yang berkelanjutan.
“Sangat disayangkan jika pergerakan ekonomi yang masif di lingkungan Aisyiyah tidak dikemas dalam sebuah branding besar. Itulah mengapa saya menginisiasi Aisyah Eatery. Hal ini tidak hanya bicara soal efisiensi, tetapi juga martabat gerakan ekonomi persyarikatan. Penggunaan styrofoam harus dihentikan dan beralih ke kemasan yang lebih ramah lingkungan serta mudah diurai oleh alam. Kami ingin memberikan standar baru dalam penyajian konsumsi umat,” ujar Ghany.
Ketua PCA Ambulu, Yayuk Sri Mastutik, S.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa penggunaan kemasan ramah lingkungan yang seragam melalui Aisyah Eatery tidak hanya berkaitan dengan tampilan, tetapi juga merupakan langkah awal dalam membangun kemandirian ekonomi persyarikatan.
“Keseragaman kemasan ini merupakan langkah awal yang baik untuk membangun ekosistem ekonomi kolektif. Kami ingin menggerakkan semangat kewirausahaan para Ibunda Aisyiyah, mulai dari usaha katering hingga produksi berbagai macam kue,” ujar Yayuk.
Sebagai bentuk tindak lanjut, PCA Ambulu menyatakan komitmennya untuk berkolaborasi dengan berbagai unsur internal, antara lain Majelis Ekonomi, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB), serta Majelis Dikdasmen dan PNF.
Kolaborasi tersebut diarahkan pada standarisasi mutu produk kuliner, penerapan prinsip ramah lingkungan dalam operasional Aisyah Eatery, serta penanaman nilai konsumsi sehat di lingkungan keluarga dan sekolah Muhammadiyah.
Dalam penutup sambutannya, Yayuk Sri Mastutik menyampaikan pesan terkait kepedulian lingkungan kepada para kader.
“Jangan pernah tergoda dengan harga styrofoam yang murah dan praktis. Sebaliknya, merasa rugilah kita karena penggunaan bahan tersebut adalah tindakan yang tidak etis terhadap kelestarian alam ciptaan Allah,” tegasnya.
Menjelang bulan suci Ramadan 2026, respons anggota Aisyiyah Ambulu terhadap Aisyah Eatery terpantau cukup tinggi. Hingga saat ini, pesanan kemasan Aisyah Eatery telah mencapai 1.500 unit dan direncanakan akan terus bertambah seiring persiapan Ramadan yang diperkirakan dimulai pada 18 Februari 2026.
Peluncuran Aisyah Eatery diharapkan dapat menjadi salah satu upaya pengelolaan konsumsi yang lebih tertata di lingkungan PCA Ambulu, sekaligus mendorong kesadaran penggunaan kemasan ramah lingkungan dalam aktivitas keagamaan dan sosial. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments