Perubahan teknologi dan karakter generasi digital menuntut guru tidak sekadar menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memiliki keteladanan pribadi serta daya adaptasi yang tinggi.
Hal itu mengemuka dalam Kajian Pembinaan Guru dan Karyawan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo Surabaya di Masjid Syuhada, Kompleks Perguruan Muhammadiyah Wonokromo, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan ini dihadiri jajaran PCM dan PCA Wonokromo, guru dan karyawan di bawah Majelis Dikdasmen, serta perwakilan Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan organisasi otonom (ortom).
Ketua PCM Wonokromo, Ir. H. Lukman Rahim, menegaskan bahwa keunggulan sekolah Muhammadiyah terletak pada pembinaan akidah, agama, dan karakter. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu faktor sekolah Muhammadiyah tetap diminati masyarakat di tengah wacana sekolah gratis.
“Lembaga pendidikan Muhammadiyah tetap menjadi idola masyarakat karena unggul di bidang akidah dan pembinaan budi pekerti. Kuncinya ada pada kualitas guru. Pimpinan lembaga harus sering menghadirkan narasumber kompeten untuk pembinaan agar sekolah kita terus menjadi pilihan utama,” ujar Lukman.
Kajian utama diisi Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antarlembaga Kemendikdasmen sekaligus Guru Besar UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag.
Dalam kajiannya, Prof. Biyanto menekankan pentingnya jiwa seorang pendidik. Ia mengutip mahfuzat Arab:
الطَّرِيقَةُ أَهَمُّ مِنَ الْمَادَّةِ، وَالْمُدَرِّسُ أَهَمُّ مِنَ الطَّرِيقَةِ، وَرُوحُ الْمُدَرِّسِ أَهَمُّ مِنَ الْمُدَرِّسِ نَفْسِهِ.
“Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan ruh (jiwa) seorang guru lebih penting daripada guru itu sendiri.”
Menurut Prof. Biyanto, karakter dan keteladanan guru memiliki dampak besar terhadap pembentukan diri murid, tidak hanya melalui materi yang diajarkan.
Dalam menghadapi era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), Prof. Biyanto mendorong guru menjadi pembelajar sepanjang hayat dengan terus membaca dan menulis.
Ia bahkan menggagas agar sekolah menyediakan waktu khusus setiap pekan bagi guru untuk membaca dan menulis, bukan mengajar.
Selain itu, Prof. Biyanto menyoroti fenomena tingginya waktu tatap layar (screen time) pada anak-anak akibat penggunaan gawai. Penggunaan gawai yang tidak terkontrol, menurutnya, rentan memicu kecemasan yang tinggi.
Karena itu, sekolah perlu menyediakan ruang interaksi sosial secara langsung sebagai bagian dari upaya menciptakan keseimbangan bagi peserta didik.
Menutup kajiannya, Prof. Biyanto mengutip Surah Al-Mu’minun ayat 2–3 untuk mengingatkan pentingnya menjauhi laghw atau perbuatan yang tidak berguna.
Di era digital, guru diimbau untuk memanfaatkan waktu, teknologi, dan komunikasi secara bijak sehingga kehadirannya memberikan kebermanfaatan bagi peserta didik.
Kajian pembinaan tersebut menjadi ruang bagi guru dan karyawan di lingkungan PCM Wonokromo untuk memperkuat kapasitas sekaligus merefleksikan kembali peran pendidik di tengah perubahan teknologi dan karakter generasi.





0 Tanggapan
Empty Comments