Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pengusul Nama Jalan Genteng Muhammadiyah Itu Adalah Pimpinan DPRD Surabaya

Iklan Landscape Smamda
Pengusul Nama Jalan Genteng Muhammadiyah Itu Adalah Pimpinan DPRD Surabaya
Pasar-straat te Soerabaia (pertigaan Jl. Genteng Muhammadiyah - Jl. Genteng Durasim) 1900-1940 (COLLECTIE TROPENMUSEUM)
pwmu.co -

Jika pembaca PWMU.CO melintasi jalan Gentengkali Surabaya, ada nama jalan yang unik. Karena jalur lalu lintasnya dibuat searah, posisi nama jalan ini berada di samping kiri. Sementara sebelah kanannya adalah sungai. Kalimas, namanya.

Nama jalan yang lebar untuk ukuran kota tua itu adalah Genteng Muhammadiyah. Jarang-jarang ada jalan di kabupaten/kota yang dinamai “Muhammadiyah”. Tapi di Surabaya, nama ini sudah ada sejak tahun 1950-an.

Imbuhan Muhammadiyah sejajar dengan tiga  jalan Genteng lainnya yang tembus Jl. Gentengkali. Berjejer di sebelah kanan Genteng Muhammadiyah adalah Jl Genteng Besar dan Genteng Bandar. Sementara di sisinya adalah Genteng Butulan.

Untuk masuk ke Jl Genteng Muhammadiyah, kini ada 3 rute yang bisa ditempuh. Pertama, dari Pasar Genteng Jl Genteng Besar, belok kiri dan belok kiri lagi, maka sudah masuk Genteng Muhammadiyah.

Sementara kedua rute lainnya harus melewati sebuah jembatan yang masuk sebagai Jl Walikota Mustajab. Dari Jl Ngemplak, pembaca harus belok kanan melewati jembatan, belok kanan-kiri: masuklah Jl Genteng Muhammadiyah. Sementara rute lainnya dari Jl Ketabangkali belok kiri melewati jembatan, kemudian belok kanan-kiri.

Lepas dari rute yang lumayan membingungkan itu, nama Jl. Genteng Muhammadiyah memang tidak lepas dari Muhammadiyah. Termasuk tokohnya. Awalnya, jalan itu bernama Genteng Scout. Seiring dengan pembentukan Lembaga eksekutif dan legislatif di Surabaya, jalan itu akhirnya bisa diubah menjadi Genteng Muhammadiyah.

Salah satu tokoh di balik perubahan itu adalah KH Abdulhadi sebagai inisiator yang mengusulkan perubahan nama jalan tersebut. Keberhasilan Abdulhadi melakukan perubahan Jl Genteng Muhammadiyah tidak lepas dari kapasitasnya sebagai pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara Kota Besar Surabaya. Yang hari ini menjelma menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya.

Pengusul Nama Jalan Genteng Muhammadiyah Itu Adalah Pimpinan DPRD Surabaya
Ketua PWM Jatim Prof. Sukadiono bersama peserta Muhammadiyah Historical Walk di Jalan Genteng Durasim. Foto: Agus Budiman/PWMU/CO

DPRDS sebagai badan legislatif di Kota Surabaya  dibentuk pada 4 Desember 1950, dan bertahan hingga Pemilu 1955 digelar. Pelantikan anggota-anggotanya dilakukan tiga hari sesudahnya, 7 Desember. “DPRD Kota Besar Surabaya dibentuk pertama kali pada tahun 1950 melalui proses rekrutmen anggota dari perwakilan organisasi masyarakat dan partai politik, tanpa melalui pemilihan umum,” jelas Sejarahwan Arya W. Wirayuda.

Masjumi tampak mendominasi jika dicermati dari hasil susunan pimpinan DPRDS. Dari tujuh anggota pimpinan, Masjumi mendapat tiga, yakni sebagai ketua dan perwakilan. Adapun Wakil Ketua dijabat dari Parindra dan tiga anggota perwakilan masing-masing dari PNI, Parkindo dan Perwari/PNI.  “Ketua DPRDS-nya adalah Suprapto yang juga Ketua Masyumi Surabaya, sementara perwakilannya adalah Sjarief Hidajat dan Abdulhadi,” tambah Arya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Perubahan Genteng Scout menjadi Genteng Muhammadiyah cukup penting. Dalam catatan sejarah, di jalan inilah SD Muhammadiyah untuk pertama kali didirikan pada tahun 1927.

Abdulhadi sendiri tercatat sebagai Ketua Majelis Perwakilan Pengurus Besar Muhammadiyah tingkat Provinsi Jawa Timur pada tahun 1951. Sebuah struktur yang hari ini menjadi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah.

Di akhir 1951, para tokoh Muhammadiyah berkumpul di kantor Partai Masyumi. Jl. Peneleh nomor 18 Surabaya. Rapat itu memutuskan Abdulhadi sebagai Ketua. Disahkan PB Muhammadiyah  ada 27 Februari 1952, Abdulhadi sebagai Ketua dibantu Nurhasan Zain, dr M. Soewandhie, M. Saleh Ibrahim dan Rajab Gani.

Di luar soal kawasan historis Muhammadiyah, jalan ini juga dipenuhi berbagai kulineran yang bisa dicoba. Memasuki jalan, langsung disambut 2 hidangan. Di sebelah kanan ada Seafood  Bang Jaja 2, serta Lokale dengan menu dengan menunya yang banyak serba lokal.

Sementara di sisi kiri, ada bakso tetelan yang cukup legendaris di Surabaya. Namanya Pak Kam, yang terkenal dengan bakso urat, kikil, dan tetelan daging. Masih di area yang sama, ada juga Soto Kikil dan  Sop Buntut. Selain itu, juga ada Warung Mak Yam dan juga Penyetan Joss Mbak Dini, dan lain-lain.

Tidak ada salahnya kan berwisata sejarah sambil kulineran? (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu