Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Penting! Pengenalan Ideologi Muhammadiyah Melalui MPLS

Iklan Landscape Smamda
Penting! Pengenalan Ideologi Muhammadiyah Melalui MPLS
pwmu.co -
Oleh Fathurrahim SyuhadiKetua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur

PWMU.CO – Tahun ajaran baru 2025/2026 telah mulai. Sekolah dan madrasah melaksanakan penyambutan siswa baru melalui kegiatan orientasi sekolah yang disebut Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kegiatan MPLS ini bertujuan membantu siswa baru untuk mengenali lingkungan sekolah mereka yang juga baru. Termasuk beradaptasi dengan guru, teman-teman, tata tertib, hingga budaya sekolah.

MPLS juga berorientasi untuk memberikan kesan pertama, termasukorientasi karakter siswa terhadap lembaga pendidikan tempat mereka belajar. Bagi sekolah Muhammadiyah, kegiatan MPLS biasanya bersinergi dengan FORTASI IPM (Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa Ikatan Pelajar Muhammadiyah). 

FORTASI IPM bertujuan untuk mensosialisasikan kepada siswa baru tentang identitas sekolah Muhammadiyah, semangat pelajar berkemajuan, dan dasar-dasar keorganisasian IPM sebagai ortom resmi Muhammadiyah di kalangan pelajar.

Mengapa FORTASI IPM ini penting? Karena tidak semua siswa baru yang berada di sekolah atau madrasah Muhammadiyah berasal dari keluarga Persyarikatan Muhammadiyah. Sebagian mereka yang non Muhammadiyah tapi memilih bersekolah di lembaga pendidikan Muhammadiyah karena pertimbangan kualitas pendidikannya, lingkungannya yang religius, atau sarana prasarana yang memadai — bukan karena latar belakang ideologis. 

Di sinilah tantangan sekaligus peluang muncul, yaitu: “bagaimana memahamkan Muhammadiyah kepada siswa yang belum mengenalnya secara ideologis?

Langkah strategis ideologisasi Muhammadiyah 

Lembaga pendidikan Muhammadiyah berfungsi sebagai tempat dakwah dan perkaderan, serta berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Proses pembelajaran di sekolah/madrasah Muhammadiyah tidak sekedar mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mensosialisasikan dan bahkan mengkristalisasikan ideologi Muhammadiyah pada diri peserta didik. Karena itu, perlu langkah-langkah strategis dalam memenuhi maksud tersebut. 

Langkah pertama adalah mengemas pengenalan Muhammadiyah dengan cara yang menarik, tidak menggurui, dan sesuai usia siswa. Salah satu metode efektif adalah melalui video dokumenter. 

Tampilkan kisah-kisah perjuangan para tokoh Muhammadiyah, sejarah pendirian oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan, peran Muhammadiyah dalam membangun pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah di Indonesia. Kisah nyata lebih menyentuh dan menginspirasi, terutama jika penyampaiannya secara visual dengan kuat dan narasi yang mengena.

Langkah berikutnya adalah menghidupkan suasana gembira melalui lagu-lagu Muhammadiyah dan ortomnya. Mars Muhammadiyah, Mars Ikatan Pelajar Muhammadiyah, dan Mars Hizbul Wathan harus menjadi lagu wajib yang selalu dinyanyikan selama MPLS. Bernyanyi bersama membangun semangat dan rasa memiliki. Lagu menjadi media kultural yang efektif untuk membentuk identitas dan ikatan emosional siswa dengan organisasi.

Di sela kegiatan, penting juga untuk menyampaikan bahwa masa depan Muhammadiyah ada di tangan mereka. Ini adalah bentuk edukasi bahwa mereka bukan sekadar siswa yang numpang belajar, tetapi bagian dari generasi penerus gerakan Islam berkemajuan.

Sampaikan bahwa siapapun yang menuntut ilmu di lembaga pendidikan Muhammadiyah, secara otomatis menjadi bagian dari cita-cita besar dakwah Islam yang mencerahkan.

Membangun pemahaman bertahap berkelanjutan

Pemahaman ideologis tidak bisa instan. Ia tumbuh melalui proses, kedekatan, dan pengalaman. Materi tentang maksud dan tujuan Muhammadiyah perlu disampaikan secara bertahap. Misalnya melalui kelas khusus “Kenal Muhammadiyah“, dengan materi yang disederhanakan sesuai jenjang usia. 

Iklan Landscape UM SURABAYA

Siswa perlu memahami bahwa Muhammadiyah adalah gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yang membawa semangat pembaruan (tajdid) dan berkomitmen menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Selain itu, siswa juga perlu mengenal tokoh-tokoh Muhammadiyah yang inspiratif — baik tokoh nasional seperti Buya Hamka, Buya Syafii Maarif, Prof Amien Rais, Prof Din Syamsuddin, Prof Haedar Nashir  dan lain sebagainya, maupun tokoh lokal seperti guru, kepala sekolah, atau tokoh masyarakat Muhammadiyah di sekitar mereka. Melalui pengenalan tersebut, diharapkan mereka memiliki figur nyata keteladanan.

Sosialisasi Himpunan Putusan Tarjih

Aspek terpenting lainnya yang dalam sosialisasi kepada siswa baru adalah pemahaman tentang ibadah menurut Muhammadiyah. Bukankah sebagian siswa berlatar belakang non Muhammadiyah? Karena itu, sangat penting untuk mengajarkan tata ibadah yang selaras dengan HPT, tentunya secara bijak dan terbuka, tanpa menyalahkan. 

Memberikan pemahaman bahwa Muhammadiyah berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah Maqbûlah sebagai sumber utama hukum Islam. Pengajaran tentang praktek ibadah seperti wudhu, shalat, adzan, dan sebagainya harus disertai penjelasan ilmiah dan dalil yang memperkuatnya.

Guru Al Islam,  guru Kemuhammadiyahan, serta pembina IPM dan Hizbul Wathan memiliki peran besar dalam hal ini. Mereka harus menjadi figur penghubung ideologi Muhammadiyah dalam keseharian siswa. Pendekatan harus dilakukan dengan pendidikan yang menggembirakan, bukan memaksa atau menghakimi.

Melibatkan dalam gerakan

Seluruh siswa harus perlu terlibat atau menjadi pelaku dalam gerakan Muhammadiyah, bukan hanya sebagai penonton. Mereka perlu lebih mengenal dan menjadi bagian dari kegiatan IPM, HW, Tapak Suci, atau kegiatan sosial dakwah sekolah.  Marena melalui keterlibatan aktif, mereka akan merasa memiliki dan memahami nilai-nilai Muhammadiyah. Secara bertahap mereka akan lebih mencintai Muhammadiyah sebagai bagian dari kesadaran — bukan kewajiban atau keterpaksaan.

Memahamkan Muhammadiyah kepada siswa memang tidak mungkin selesai hanya dengan mengandalkan MPLS atau FORTASI yang hanya beberapa hari. Ideologisasi merupakan proses berkelanjutan, membutuhkan strategi cerdas, kesabaran, dan keteladanan nyata. 

Dengan cara yang tepat, siswa yang awalnya mungkin hanya “menumpang belajar” akan tumbuh menjadi kader yang siap memikul amanah dakwah berkemajuan. Kelak mereka akan menjadi kader dengan semangat hidup hidupilah Muhammadiyah.***

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu