
PWMU.CO – Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur mengadakan kegiatan halal bihalal penuh hikmad bersama guru, dosen, dan karyawan di lingkungan Ponpes Al-Ishlah Sendangagung, Senin (7/4/2025).
Kegiatan dengan tajuk Silaturrahim dan Halalbihalal Bersama Pengasuh Ponpes Al-Ishlah ini didahului dengan kajian Hikmah Halalbihalal dan Makna Ketupat oleh Pengasuh Ponpes Al-Ishlah Sendangagung, Drs KH Muhammad Dawam Saleh.
Pengasuh Ponpes Al-Ishlah, Kiai Dawam yang lahir 1953 ini mengupas tentang asal-usul halalbihalal dan makna ketupat di hadapan ratusan undangan; guru, dosen, dan karyawan bersama keluarganya di Masjid Al-Ishlah.
Dalam kajiannya, Anggota Badan Waqaf Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo ini menjelaskan asal muasal istilah halalbihalal dan hari raya kupatan. Menurutnya, halalbihalal itu dari bahasa Arab tetapi orang Arab tidak mengenal istilah ini.
“Halalbihalal itu ada sejak zaman Sukarno, atas saran KH Wahab, pada hari raya Idul Fitri tahun 1948, Presiden Sukarno mengundang seluruh tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahmi yang diberi judul ‘Halalbihalal. “Para tokoh politik itu duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan,” Jelas Kiai Dawam.
Adapun kupatan (Lebaran Kupat, 7 hari setelah Idul Fitri) berasal dari kata kupat yang bermakna; Ngaku Lepat (salah) atau juga berarti perilaku papat (empat). Yakni lebar, lebur, luber, dan labur.
Lebar artinya selesai atau habis bermakna puasa telah selesai dan habis. Lebur artinya mencair dan rontok, dosa yang mencair dan rontok.
Luber artinya penuh dan meluap, pahala kita penuh dan meluap. Labur artinya putih dan bersi, hari ini kita bersih dan putih atau fitri, kembali fitri.
Pentingnya puasa Syawal juga dikupas oleh alumnus KMI Gontor 1972 ini. Dalil hadist puasa ini adalah
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ، – رضى الله عنه – أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ “ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ .
Barang siapa puasa ramadhan dan diikuti sesudahnya enam hari di bulan Syawal, dia seolah olah puasa sepanjang setahun (HR Muslim)
Usai kajian dari Kiai Dawam Saleh, acara dilanjutkan dengan saling salaman mamutar dan diakhiri dengan ramah tamah dengan menikmati hidangan ketupat dari daun siwalan atau lontar, pilihan menu lain ada nasi dengan aneka macam lauk. (*)
Penulis Gondo Waloyo Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan






0 Tanggapan
Empty Comments