Di era modern yang didominasi oleh sinema fiksi ilmiah, teknologi penjelajahan antarbintang divisualiasi secara meyakinkan —hingga seolah-olah nyata.
Star Trek dengan warp drive, Guardians of the Galaxy dengan jump points, atau Star Wars dengan hyperspace, semuanya mencoba menjawab satu pertanyaan klasik: “bagaimana bergerak melampaui batas kecepatan cahaya?”
Dalam fisika Einstein, tidak ada objek bermassa yang dapat menembus batas tersebut.
Karena itu, fiksi ilmiah tidak mencoba melampaui cahaya, tetapi mengakali batasan melalui manipulasi ruang-waktu.
Namun yang sering luput dari kesadaran kita adalah konsep-konsep yang hari ini tampak “masuk akal” hanya dapat dipahami setelah umat manusia memiliki teori relativitas, fisika kuantum, dan literasi ilmiah tingkat tinggi.
Menariknya, sebuah peristiwa yang jauh lebih dahsyat daripada fiksi ilmiah, yakni perjalanan Isra’ Mi’raj, terjadi 14 abad yang lalu.
Peristiwa ini berlangsung di era ketika istilah seperti warp, wormhole, bahkan konsep waktu relatif belum pernah terlintas dalam benak manusia.
Film Star Trek, misalnya, warp drive tidak digambarkan sebagai mesin yang memacu kapal bergerak melebihi kecepatan cahaya, selainkan sebagai perangkat yang membengkokkan ruang-waktu.
Meskin itu mengerutkan ruang di depan kapal dan memperluas ruang di belakangnya.
Kapal tidak bergerak cepat, justru ruang-waktu di sekitarnya yang didorong.
Ide ini sangat mirip dengan persamaan Alcubierre dalam relativitas umum, yang memungkinkan “gelembung ruang” bergerak superluminal tanpa melanggar hukum fisika.
Sementara itu, Guardians of the Galaxy menghadirkan konsep jump points: portal ruang-waktu yang menghubungkan dua titik yang sangat jauh dalam sekejap.
Secara teoritis, konsep ini serupa dengan wormhole — sebuah struktur ruang-waktu yang keberadaannya dimungkinkan secara matematis, namun belum pernah terbukti dapat dibuat ataupun distabilkan.
Di sisi lain, Star Wars mengandalkan hyperspace, dimensi lain di luar ruang-waktu normal.
Dalam analogi fisika, ini ibarat memindahkan perjalanan ke dimensi alternatif sehingga batasan cahaya tidak berlaku.
Ketiga film ini menggunakan pendekatan berbeda, tetapi intinya satu: cara kreatif mengelabui relativitas Einstein agar jarak antarbintang dapat ditembus.
Sebaliknya, dua film populer “Lightyear dan Interstellar” memvisualisasikan konsep relativitas secara ilmiah.
Lightyear menggambarkan twin paradox, perjalanan mendekati kecepatan cahaya yang membuat waktu bagi sang pelaku menjadi lebih lambat.
Sementara Interstellar memperlihatkan dilatasi waktu ekstrem akibat gravitasi kuat dari lubang hitam Gargantua, sebuah efek relativitas umum yang bahkan diverifikasi oleh fisikawan Kip Thorne.
Semua ini menunjukkan bahwa teknologi masa depan dapat dibayangkan karena kita sudah memahami prinsip dasar fisika modern.
Bagaimana Isra’ Mi’raj?
Bagaimana dengan sebuah perjalanan “melampaui logika dan sains” yang disampaikan 14 abad yang lalu?
Saat Nabi Muhammad SAW mengisahkan peristiwa Isra’ Mi’raj —perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus langit menuju Sidratul Muntaha hanya dalam satu malam— gemparlah masyarakat Quraisy.
Kabar ini bahkan memicu goncangan iman di sebagian kalangan Muslim.
Mereka terbentur pada nalar: bagaimana mungkin perjalanan sejauh itu dapat ditempuh hanya dalam satu malam?
Di era tanpa relativitas, tanpa konsep ruang-waktu, tanpa ide warp atau wormhole, cerita seperti ini tampak mustahil.
Abu Jahal, yang cerdik dalam propaganda, memanfaatkan momen itu.
Ia berpura-pura percaya hanya untuk memancing keraguan orang lain. Ia mengumpulkan penduduk Quraisy, berharap mereka menertawakan Nabi dan meninggalkan keyakinan mereka.
Namun ada satu sosok yang reaksinya berbanding terbalik dengan apa yang ia inginkan, yakni Abu Bakar As-Shiddiq.
Ketika ditanya apakah ia mempercayai kisah tersebut, Abu Bakar menjawab dengan ketegasan yang menggagalkan strategi Abu Jahal:
“Mengapa aku tidak percaya? Dia (Muhammad) mengatakan bahwa wahyu datang kepadanya dari langit, dan aku mempercayainya. Maka ketika ia mengatakan ia pergi ke langit dalam satu malam, itu lebih mudah untuk mempercayainya.”
Ini bukan logika ilmiah, tapi logika iman
Abu Bakar memahami bahwa jika seseorang sudah mempercayai Nabi sebagai utusan yang menerima wahyu dari Allah, maka mempercayai perjalanan Isra’ Mi’raj adalah konsekuensi logis dari keimanan itu.
Mustahil seseorang menerima wahyu dari Sang Pencipta alam semesta namun perjalanan melampaui fisika biasa dianggap mustahil.
Abu Jahal pun tersudut dan rencana strateginya gagal. Alih-alih mempermalukan Nabi, ia justru menyaksikan keteguhan iman yang tak dapat dibendung.
Abu Bakar kemudian menemui Nabi untuk klarifikasi langsung. Setelah mendengar penjelasan yang sama persis, ia berkata tanpa ragu: “Aku membenarkannya.”
Sikap ini menjadi salah satu tonggak penting keimanan yang kelak menjadikannya pemimpin besar dalam sejarah Islam.
Hari ini, ketika umat manusia mampu membayangkan warp drive, hyperspace, jump points, hingga dilatasi waktu, peristiwa Isra’ Mi’raj tidak lagi dipandang sebagai kemustahilan dalam bingkai fisika spekulatif.
Banyak ilmuwan modern bahkan membuka ruang bagi kemungkinan bahwa perjalanan lintas dimensi secara teoritis dapat terjadi jika penguasaan terhadap teknologi dan manipulasi ruang-waktu telah mencapai titik puncaknya.
Namun bagi Abu Bakar, pembahasan ini tidak perlu. Ia tidak membutuhkan relativitas khusus atau umum.
Ia tidak perlu teori twin paradox, wormhole, atau teknologi futuristik. Yang ia miliki adalah sesuatu yang lebih kuat dari semua teori tersebut:
Di sinilah letak perbedaan besar antara sains dan keyakinan.
Sains bergerak mengikuti perkembangan zaman, teori demi teori saling memperbaiki.
Namun iman memberikan landasan kokoh saat logika belum mampu menjangkau fenomena yang berada di luar batas pengetahuan manusia.
Di tengah dunia modern yang semakin rasional, kisah Abu Bakar yang meyakini Isra’ Mi’raj, mengingatkan kita bahwa kemampuan akal manusia selalu terbatas.
Sebaliknya, justru keyakinanlah yang mampu menjembatani ruang yang tidak dapat diisi oleh logika.
Dalam fiksi ilmiah, manusia menaklukkan ruang-waktu dengan teknologi. Sedangkan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, ruang-waktu tunduk pada kehendak Allah. Dan bagi Abu Bakar, itu saja sudah cukup.***






0 Tanggapan
Empty Comments