Di tengah hiruk-pikuk dunia akademik, kisah Sondos Jehad Shnewra menyentuh hati banyak orang. Mahasiswi asal Gaza, Palestina, itu berhasil menuntaskan studi magisternya di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) dengan predikat cumlaude.
Prestasi ini bukan hanya soal nilai, tetapi tentang keteguhan hati, doa, dan perjuangan melawan keadaan.
Ketika sebagian besar mahasiswa lain sibuk memikirkan revisi dan ujian, Sondos menghadapi tantangan yang jauh lebih berat: perang di tanah kelahirannya.
Setiap kali membuka laptop untuk menulis tugas akhir, pikirannya tak pernah lepas dari keluarga yang masih berada di Gaza—wilayah yang terus dilanda konflik dan ketidakpastian.
“Saya menulis tugas akhir sambil mendengar kabar pengeboman di rumah-rumah sekitar tempat tinggal keluarga saya. Tapi saya tahu, saya tidak boleh menyerah. Saya harus menyelesaikan ini, demi mereka dan demi masa depan saya,” ujar Sondos dengan suara bergetar, di acara Wisuda 53 TA 2024-2025 Genap Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) di Dyandra Convention Hall Gramedia Expo, Sabtu (25/10/2025).
Sondos tiba di Indonesia dua tahun lalu melalui program beasiswa yang diberikan oleh Lazismu Jawa Timur. Beasiswa itu membuka jalan baginya untuk melanjutkan studi S2 di bidang yang ia impikan.
Indonesia dipilih bukan tanpa alasan. Bagi keluarganya, negeri ini memiliki tempat khusus di hati rakyat Palestina—negara yang selalu menunjukkan kepedulian dan solidaritas terhadap perjuangan bangsanya.
“Saya dan keluarga percaya bahwa Indonesia adalah rumah kedua bagi kami. Rakyatnya ramah, negaranya aman, dan umat Islam di sini begitu hangat menyambut kami,” tuturnya dengan senyum tulus.
Di UM Surabaya, Sondos menemukan hal yang lebih dari sekadar tempat belajar. Ia menyebut kampus ini sebagai “rumah kedua” di mana ia merasakan arti persaudaraan lintas bangsa.
“Saya menemukan keluarga di sini—para dosen, sahabat, dan teman-teman Indonesia yang selalu mendukung saya,” katanya.
Menulis Skripsi di Tengah Suara Bom
Menyelesaikan tugas akhir bukan perkara mudah bagi siapa pun. Namun, bagi Sondos, setiap bab yang ia tulis terasa seperti pertempuran baru.
Sinyal internet yang sering putus karena gangguan komunikasi di Gaza membuatnya sulit berhubungan dengan keluarga. Ia hanya bisa berharap kabar mereka baik-baik saja.
“Kadang saya tidak tidur, bukan karena tugas, tapi karena cemas. Namun setiap kali saya hampir putus asa, teman-teman kampus datang menguatkan. Mereka bilang, ‘Sondos, kami semua mendoakan keluargamu’,” kenangnya penuh haru.
Doa dan dukungan itulah yang menjadi sumber tenaga baginya untuk terus melangkah. Ia percaya, bahwa setiap ilmu yang ia peroleh adalah amanah—sesuatu yang kelak akan ia kembalikan untuk kebaikan bangsanya.
Dalam sambutannya, Sondos juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada UM Surabaya dan Lazismu Jawa Timur. Ia menyebut bantuan beasiswa yang diterimanya bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan simbol solidaritas dan kepedulian antarmanusia.
“Beasiswa ini bukan hanya tentang pendidikan,” ujarnya, “tetapi tentang harapan, tentang persaudaraan, dan tentang kemanusiaan. Saya ingin orang-orang tahu bahwa kebaikan kecil yang dilakukan di sini, berdampak besar bagi kami di Palestina.”
Setelah lulus, Sondos berharap dapat menjalani kehidupan yang lebih damai dan bermanfaat. Ia ingin membalas kebaikan yang ia terima selama berada di Indonesia.
“Saya ingin membawa nama baik Indonesia di mana pun saya berada. Indonesia telah menjadi bagian dari hidup saya,” ucapnya lembut.
Momen haru di wisuda itu sempat diselingi tawa ketika Sondos, dengan nada bercanda, mengajukan pertanyaan kepada Rektor UMSurabaya.
“Pak Rektor, apakah saya juga bisa mendapat beasiswa S3? Atau mungkin… ada rekomendasi jodoh untuk saya di Indonesia?” ucapnya disambut gemuruh tawa para hadirin.
Sang rektor pun menanggapi dengan canda yang tak kalah hangat. “Kalau soal beasiswa S3, insya Allah kita doakan ada jalan terbaik. Tapi kalau soal jodoh, nanti kita bentuk tim khusus — Tim Jodoh Palestina–Indonesia UMSurabaya!”
Sontak tawa pecah di seluruh ruangan. Suasana wisuda yang semula penuh haru seketika berubah hangat dan ceria. “Siapa tahu lewat wisuda ini ada yang tergerak hatinya,” tambah sang rektor sambil tersenyum, “Kalau sampai dapat jodoh di Indonesia, hubungan Palestina–Indonesia makin kuat, bukan hanya secara diplomatik, tapi juga romantik.”
Perjalanan Sondos menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa perjuangan sejati tidak selalu berlangsung di medan perang. Terkadang, perjuangan itu ada di ruang kelas, di balik laptop, di antara doa dan air mata.
Dia adalah simbol keteguhan dan optimisme di tengah situasi yang tidak menentu. Di antara reruntuhan Gaza, ia membawa secercah harapan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan kemanusiaan lintas bangsa.
“Saya percaya, selama kita berpegang pada doa dan ilmu, Allah akan memberikan jalan terbaik,” katanya menutup sambutannya dengan senyum yang menenangkan.
Dan sore itu, di tengah tepuk tangan panjang dan sorotan kamera, Sondos Jehad Shnewra berdiri dengan toga dan kebanggaan. Bukan hanya sebagai lulusan cumlaude, tetapi sebagai simbol keberanian, keteguhan, dan persaudaraan tanpa batas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments