Penguatan ideologi di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) pendidikan kembali ditegaskan Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan dalam Baitul Arqam GTK Muhammadiyah se-Cabang Ngagel di SMA Muhammadiyah 2 Pucang Surabaya, 28 Februari–1 Maret 2026.
Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) pendidikan memiliki peran strategis tidak hanya sebagai lembaga layanan pendidikan, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan kaderisasi Persyarikatan. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.P.A, Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah, dalam kegiatan Baitul Arqam Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Sekolah Muhammadiyah se-Cabang Ngagel.
Penguatan Ruh Ideologi di AUM Pendidikan
Dalam sesi materi bertajuk “Optimalisasi Fungsi Sekolah sebagai Lahan Dakwah dan Perkaderan”, Dr. Bachtiar menyampaikan bahwa perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah saat ini patut disyukuri karena semakin banyak, maju, unggul, dan kuat. Namun, menurutnya, kemajuan tersebut harus diiringi dengan penguatan ruh ideologi Muhammadiyah.
“Pembangunan infrastruktur AUM harus berjalan seiring dengan pembangunan jiwanya, yaitu spirit Muhammadiyah. Jika tidak, orientasi lembaga bisa bergeser dan kehilangan arah,” tegasnya.
Dengan pembawaan yang luwes, mengenakan kopiyah hitam dan batik hijau senada dengan tema kegiatan, ia berhasil menciptakan suasana diskusi yang hidup. Sesekali humor yang disampaikan membuat peserta tertawa riang sekaligus tetap fokus mengikuti materi.
Sekolah sebagai Pusat Dakwah dan Kaderisasi
Ia menegaskan bahwa AUM pendidikan tidak boleh hanya dipandang sebagai penyedia layanan pendidikan, tetapi juga sebagai wahana pelembagaan nilai, dakwah, dan kaderisasi Muhammadiyah. Menurutnya, sekolah Muhammadiyah memiliki empat fungsi utama, yaitu fungsi pendidikan, pelayanan, dakwah, dan kaderisasi.
“AUM pendidikan adalah kesatuan fungsi lembaga pendidikan sekaligus dakwah dan perkaderan. Di sinilah ideologi Muhammadiyah diwariskan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dr. Bachtiar menjelaskan bahwa kader dan ideologi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ideologi menjadi ruh yang menggerakkan kader dalam menjalankan roda organisasi untuk mencapai tujuan Muhammadiyah, yakni menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam serta mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Tantangan Ideologis dan Strategi Penguatan
Ia juga menekankan bahwa Muhammadiyah tidak didirikan sekadar untuk memperbanyak sekolah, perguruan tinggi, maupun AUM kesehatan, sosial, dan ekonomi, tetapi sebagai gerakan dakwah untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Dalam paparannya, ia mengingatkan sejumlah tantangan yang dihadapi AUM saat ini, di antaranya beragamnya orientasi ideologi karyawan akibat kurangnya perhatian pada aspek ideologis sejak proses rekrutmen, disorientasi kerja yang hanya berorientasi pada nafkah, serta lemahnya pembinaan ideologi internal.
Menurutnya, kurangnya penguatan ideologi dapat menyebabkan berbagai persoalan seperti terlepasnya AUM dari Persyarikatan, konflik kepemimpinan, hingga lembaga yang stagnan atau tidak berkembang.
Karena itu, ia menekankan pentingnya gerak paralel antara pembangunan organisasi dan pembangunan ideologi. “Kita perlu menyamakan frekuensi dalam bermuhammadiyah. Iman bermuhammadiyah bisa naik turun dan sering diuji. Maka penguatan ideologi harus terus dilakukan,” ungkapnya.
Tahapan Kaderisasi Muhammadiyah
Dalam strategi dakwah dan kaderisasi di lingkungan pendidikan Muhammadiyah, ia memaparkan beberapa langkah penting, antara lain menjadikan wawasan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai basis pengetahuan seluruh civitas akademika, memperkuat pusat-pusat ilmu, serta menempatkan sekolah sebagai pelaku utama dakwah Muhammadiyah.
Selain itu, kader AUM pendidikan diharapkan mampu berperan aktif dalam kepemimpinan Persyarikatan serta memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan Muhammadiyah.
Ia juga menjelaskan tahapan kaderisasi Muhammadiyah yang dimulai dari keluarga dan lingkungan persahabatan, dilanjutkan melalui organisasi otonom (Ortom), hingga fase ketiga melalui Amal Usaha Muhammadiyah.
“Perkaderan terbaik dimulai dari keluarga. Karena itu warga Muhammadiyah harus aktif di ranting, cabang, dan jamaah,” tambahnya.
Mengutip QS. Al-Qasas ayat 77, ia mengingatkan bahwa upaya memajukan kehidupan dunia tidak boleh melupakan orientasi akhirat. “Selama AUM memberi manfaat bagi masyarakat, maka itu menjadi amal dan pahala bagi kita,” tuturnya.
Kegiatan Baitul Arqam ini menjadi momentum penting bagi guru dan tenaga kependidikan Muhammadiyah untuk memperkuat komitmen ideologi, meningkatkan kualitas dakwah pendidikan, serta memastikan sekolah Muhammadiyah tetap menjadi pusat kaderisasi dan gerakan Islam berkemajuan.






0 Tanggapan
Empty Comments