Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Polemik Ulil Amri dan Idulfitri 2026, Muhammadiyah Apresiasi Dukungan Warganet atas Perbedaan

Iklan Landscape Smamda
Polemik Ulil Amri dan Idulfitri 2026, Muhammadiyah Apresiasi Dukungan Warganet atas Perbedaan
Prof. Haedar Nashir menyampaikan tausiyah dalam acara Syawalan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Polemik penetapan Idulfitri 1447 H pada 20 Maret 2026 memicu perdebatan soal tafsir ulil amri di ruang publik. Di tengah kritik yang muncul, Muhammadiyah justru menuai simpati luas dari warganet, termasuk dukungan terhadap pendekatan hisab dan gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sekaligus menguatkan pentingnya sikap dewasa dalam menyikapi perbedaan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir menyayangkan sikap yang tidak menghargai perbedaan. Terlebih muncul narasi haram jika berseberangan dengan pemerintah, dengan dalil taat ulil amri.

Merujuk Kitab Tafsir At Thabari tentang ayat Ulil Amri di surat An Nisa ayat 58, Haedar menjelaskan, bahwa tafsir ulil amri ini berlapis-lapis, bisa dari kekuasaan sampai pemimpin-pemimpin kolektif.

“Kemudian yang kedua, ulil amri juga adalah ahli ilmu dan ahli fikih, atau ulama,” katanya dalam acara Syawalan PP Muhamadiyah di Yogyakarta, Kamis (26/3/2025).

Munculnya polemik ulil amri, sambung Haedar, akan memicu munculnya ‘batang terendam’ yaitu tentang konsep negara Islam. Sebab tidak bisa langsung melompat ke ulil amri – kekuasaan – ati’ullah wa ati’ur rasul itu bisa jadi polemik soal sistem kekuasaan/sistem pemerintahan Islam.

“Justru itu yang ingin dihindari di negeri kita setelah Piagam Jakarta tahun 1945. Itu yang saya maksud membangkitkan batang terendam itu. Apakah mau mengarah ke sana gitu kan si punya gagasan yang mengharamkan dengan rujukan Ulil Amri itu?, “ tanya Haedar.

Tafsir ulil amri, kata Haedar, jika merujuk pada Kitab Tafsir Al Misbah, ulil amri itu dikembalikan pada substansinya, yaitu merujuk pada Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Maka, jika dilihat dari tafsir ini Muhammadiyah sudah menyentuh substansi dari ulil amri.

“Kita sudah memandang kita sudah kembali pada Ar-ruju’ ilal Qur’an was Sunnah dengan KHGT, dengan hisab itu, justru Al-Qur’an dan Sunnahnya kuat, berarti kita sudah betul tuh sesuai dengan ayat itu,” kata Haedar.

Ruang Maya yang Dewasa

Perbedaan penetapan Idulfitri 1447 H menuai beragam respon dari warganet Indonesia, meski terdapat beberapa akun medsos – bisa jadi pendengung – nyinyir atas keputusan yang diambil Muhammadiyah, namun dukungan dan simpati ke Muhammadiyah tak kalah banyak.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Di Medsos, responnya luar biasa positif untuk Muhammadiyah. Jadi memang masyarakat itu kan ya seperti itu dinamika sosial itu, tidak sepenuhnya bisa kita ‘candra’ (prediksi) gitu ya, hatta dengan menggunakan otoritas. Justru dengan menggunakan otoritas, jadinya seperti itu,” katanya.

Percakapan media sosial riuh dengan perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 H. Dalam percakapan itu, kata Muhammadiyah menduduki kata kunci teratas sebagai obyek yang banyak dibicarakan warganet. Banyak diantara mereka terkesan dengan gagasan maju yang diusung Muhammadiyah.

“Respons publik dan media sosial, netizen, itu luar biasa pembelaan terhadap Muhammadiyah,” imbuhnya.

Salah satu gagasan yang direspon baik oleh warganet, khususnya generasi muda adalah Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Menurut mereka, KHGT merupakan solusi untuk perencanaan waktu-waktu. Seperti waktu untuk libur pada Peringatan Hari Besar Islam (PHBI).

Namun demikian, Haedar Nashir tetap berpesan jika nanti masih terdapat perbedaan dalam penetapan PHBI, tidak perlu ada lagi ketegangan dan mencari-cari kesalahan satu dengan lainnya. Perbedaan harus disikapi dengan dewasa dan bijaksana.

Untuk diketahui, polemik di publik, tertama di media sosial, Muhammadiyah menjadi pihak yang dipojokkan oleh oknum. Padahal yang tidak berlebaran pada 20 Maret 2026 bukan Muhammadiyah saja.

Bahkan juga ada beberapa negara yang menyelenggarakan Idulfitri 1447 H sama dengan Muhammadiyah pada 20 Maret 2026. Negara-negara itu antara lain Arab Saudi, Qatar, UEA, Turki, Australia, dan juga New Zealand. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡