Pada Sabtu (31/1/2026) diadakan Pengajian Keliling Pimpinan Ranting (PR) IPM SMP Muhammadiyah 11 Surabaya (Muven). Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Istiqamah, jalan Petemon 4/190C, Surabaya. Mubaligh pada kajian itu adalah Drs. Mizan Lazim.
Pada awal kajian, hadirin mendapat tausiah bahwa Sya’ban merupakan bulan yang istimewa. Hal itu dikarenakan bulan ini diapit dua bulan yang mulia, yakni Rajab dan Ramadan.
Bulan Rajab termasuk ke dalam salah satu dari empat bulan yang dimuliakan. Empat bulan itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Meskipun dimuliakan, ada mitos yang mengatakan bahwa Dzulqa’dah adalah bulan sial. Masyarakat tidak mau mengadakan acara hajatan dalam bulan itu. Hal itu jelas tidak dibenarkan.
Selanjutnya, Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sukomanunggal itu menceritakan kisah sahabat Rasulullah yang bernama Sya’ban. Sya’ban dikenal sebagai sahabat yang sangat disiplin dalam beribadah, meskipun rumahnya terletak cukup jauh dari Masjid Nabawi.
“Setiap kali shalat berjamaah, ia selalu menempati sudut yang sama agar tidak tertinggal Takbiratul Ihram bersama Rasulullah SAW,” terangnya.
Suatu pagi saat shalat Subuh, Rasulullah menyadari absennya Sya’ban dan memutuskan untuk mengunjunginya. Setelah menempuh perjalanan jauh, beliau sampai di rumah Sya’ban hanya untuk mendengar kabar duka dari istrinya bahwa Sya’ban baru saja wafat.
Istri Sya’ban menceritakan bahwa sebelum mengembuskan napas terakhir, suaminya meneriakkan tiga kalimat yang penuh tanda tanya: “kenapa tidak lebih jauh?, kenapa tidak yang baru, kenapa tidak semua?”
Hal ini membuat sang istri bingung dan bertanya kepada Rasulullah mengenai maknanya. Kemudian dijelaskan bahwa saat seseorang sakaratul maut, Allah membukakan tabir (hijab) sehingga ia bisa melihat pahala dari amal perbuatannya di dunia.
Kalimat pertama merujuk pada rumahnya; Sya’ban menyesal mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi agar langkah kakinya menuju masjid mendatangkan pahala yang lebih besar. Kalimat kedua merujuk pada sebuah baju hangat lama yang ia berikan kepada pengemis di musim dingin; ia menyesal mengapa tidak memberikan baju yang baru.
Terakhir, kalimat ketiga merujuk pada sepotong roti yang ia bagi dua dengan orang lapar; ia menyesal mengapa tidak memberikan seluruh roti tersebut setelah melihat betapa dahsyatnya balasan surga yang ia terima.
Pada akhir kajian, Mizan menyampaikan keutamaan bulan Ramadhan.
“Pada bulan itu pahala dilipatgandakan. Tetap jalankan ibadah wajib lainnya, jangan hanya puasa saja tetapi shalat ditinggalkan,” ujarnya.






0 Tanggapan
Empty Comments