Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pramono Anung Sebut Muhammadiyah Pelopor Tradisi Halalbihalal di Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Pramono Anung Sebut Muhammadiyah Pelopor Tradisi Halalbihalal di Indonesia
Gubernur Pramono menghadiri acara Halalbihalal PWM DKI Jakarta. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut tradisi halalbihalal memiliki akar kuat dari Muhammadiyah. Ia mengaku telah mengenal praktik tersebut sejak kecil di tanah kelahirannya, Kediri, Jawa Timur. Pengalaman itu membentuk pemahamannya tentang perkembangan Islam dan tradisi silaturahmi Idulfitri di Indonesia.

Pramono mengatakan, istilah halalbihalal awalnya dikenal dalam bentuk yang berbeda di lingkungan Muhammadiyah.

“Tahun 2019–2024, di Suara Muhammadiyah, pertama kali sebenarnya bukan halalbihalal, tetapi alal bihalal, bahkan ada yang menyebut chalal bichalal. Artinya, saya sebagai Gubernur Jakarta sedikit demi sedikit belajar Muhammadiyah,” ujar Pramono saat menghadiri Silaturahmi Idulfitri 1447 Hijriah di Gedung Dakwah Muhammadiyah DKI Jakarta, Sabtu (4/4/2026).

Ia menambahkan, istilah tersebut mulai diperkenalkan sejak 1924 dan berkembang dalam kongres-kongres berikutnya. Pada 1948, setelah Indonesia merdeka, istilah halalbihalal semakin meluas dalam praktik sosial dan politik nasional.

Menurut Pramono, pengalaman masa kecilnya di Kediri memperlihatkan kuatnya tradisi Islam dari berbagai organisasi, termasuk Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan LDII. Dia melihat langsung bagaimana praktik halalbihalal mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu.

“Dulu, anak-anak kecil seperti saya berkeliling dari rumah ke rumah. Lalu Muhammadiyah mulai memperkenalkan model baru dengan mengumpulkan masyarakat di aula dan menghadirkan tausiah,” katanya.

Pramono menyebut perubahan tersebut memberikan pengalaman yang memperluas pandangannya tentang kehidupan beragama. Tradisi yang semula bersifat lokal kemudian berkembang menjadi lebih terorganisasi dan terbuka.

Pramono Anung Sebut Muhammadiyah Pelopor Tradisi Halalbihalal di Indonesia
Jajaran Pimpinan Muhammadiyah DKI Jakarta bersama Gubernur Pramono Anung. Foto: Istimewa

“Dari situ saya melihat bagaimana Muhammadiyah memodernisasi tradisi halalbihalal,” ujarnya.

Pramono juga menilai pentingnya sikap Muhammadiyah yang menerima halalbihalal sebagai tradisi yang baik dalam Islam. Ia menyebut pandangan tersebut berpengaruh terhadap penerimaan luas di masyarakat.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Yang pertama kali menyebut halalbihalal sebagai sunnah hasanah adalah Muhammadiyah,” katanya.

Ia menambahkan, penerimaan tersebut berperan dalam menjaga praktik halalbihalal tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat yang beragam.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta, Akhmad H. Abubakar, menjelaskan bahwa istilah halalbihalal sudah muncul sejak awal abad ke-20. Ia menyebut istilah itu berasal dari gagasan warga Muhammadiyah di Gombong pada 1924.

“Istilah itu dimuat dalam Suara Muhammadiyah edisi 1924 dengan sebutan chalal bichalal atau alal bihalal,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada 1926 istilah tersebut mulai digunakan dalam ajakan silaturahmi, meskipun masih sebatas gagasan internal. Pada 1948, istilah halalbihalal dipopulerkan secara nasional oleh KH Wahab Chasbullah bersama Presiden Sukarno.

Akhmad juga menyinggung nilai yang terkandung dalam kegiatan silaturahmi tersebut. Ia menyebut halalbihalal memperkuat hubungan sosial dan semangat saling memaafkan setelah Ramadan.

“Silaturahmi ini memperkuat rahmah dan ukhuwah, baik sesama muslim maupun sesama manusia,” katanya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡