Belajar dari ranting yang lebih senior menjadi salah satu cara Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Wage, Sidoarjo, menjaga gerak organisasinya tetap bertumbuh. Karena itu, ketika bersilaturahim ke PRM Gunungpring, Muntilan, Magelang, Sabtu (3/10/2026), rombongan PRM Wage tidak hanya datang untuk berkunjung.
Ketua PRM Wage Ivan Poerwanto mengatakan, PRM Gunungpring dipilih sebagai salah satu tempat belajar karena memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan gerakan Muhammadiyah di tengah masyarakat.
“Silaturahim ke PRM Gunungpring Muntilan Magelang ini bagi Ranting Muhammadiyah Wage merupakan bagian penting dari proses belajar kepada ranting senior yang lebih banyak mengukir prestasi besar,” ujar Ivan.
Menurutnya, pengalaman sebuah ranting tidak hanya dapat dilihat dari capaian yang berhasil diraih. Di baliknya terdapat perjalanan panjang, dinamika organisasi, tantangan, kaderisasi, dan proses menjaga keberlangsungan gerakan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, kata Ivan, PRM Wage ingin melihat lebih jauh bagaimana pengalaman tersebut membentuk kehidupan persyarikatan di PRM Gunungpring.
“Kami datang bukan sekadar untuk berkunjung, tetapi juga untuk belajar. Setiap ranting memiliki pengalaman dan keunggulan masing-masing. Dari situlah kami bisa saling bertukar pengalaman dan mengambil hal-hal positif untuk dikembangkan di Ranting Wage,” ujarnya.
PRM Wage saat ini telah berusia 38 tahun. Dalam perjalanan tersebut, ranting ini terus mengembangkan berbagai kegiatan dan amal usaha yang ditujukan untuk memberikan manfaat bagi warga persyarikatan dan masyarakat.
Namun, usia 38 tahun masih relatif muda jika dibandingkan dengan sejumlah ranting Muhammadiyah yang telah memiliki sejarah jauh lebih panjang.
Ivan mencontohkan PRM Gading, Klaten, yang telah berdiri sejak 1932, atau sebelum Indonesia merdeka.
“Ranting Wage sebagai ranting yunior berdiri 38 tahun lalu, sementara Ranting Muhammadiyah Gading Klaten sudah berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka, yakni tahun 1932,” jelasnya.
Perbandingan tersebut bukan untuk menentukan ranting mana yang lebih unggul. Bagi Ivan, sejarah panjang ranting-ranting Muhammadiyah justru menjadi sumber pembelajaran bagi generasi yang datang kemudian.
“Silaturahim ke PRM Gunungpring ini bagi Ranting Muhammadiyah Wage merupakan acara silaturahmi antara yunior kepada senior,” katanya.
Dari perjalanan ranting-ranting senior, PRM Wage dapat melihat bagaimana sebuah gerakan dipertahankan dalam rentang waktu yang panjang. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk membaca tantangan yang dihadapi ranting saat ini sekaligus menyiapkan keberlanjutan gerakan di masa mendatang.
Kehadiran rombongan PRM Wage disambut hangat jajaran PRM Gunungpring. Ketua PRM Gunungpring Rahmat Abdulgani mengaku bersyukur dan bahagia menerima kunjungan tersebut.
“Kami sangat bersyukur, berbahagia, dan senang sekali atas kedatangan tamu istimewa dari Ranting Muhammadiyah Wage, ranting Muhammadiyah best of the best,” ungkap Rahmat.
Menurutnya, pertemuan antarranting bukan sekadar mempertemukan pengurus dari dua daerah. Lebih jauh, pertemuan seperti itu membuka ruang untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan membangun kemungkinan kerja sama.
“Tentunya kami sangat berharap pertemuan ini akan menambah erat jalinan ikatan silaturahmi kita dan menghadirkan kebermanfaatan bersama,” lanjutnya.
Rahmat berharap hubungan antara PRM Gunungpring dan PRM Wage tidak berhenti setelah rombongan kembali ke Sidoarjo. Komunikasi yang terus terjaga diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama yang memberikan manfaat bagi persyarikatan dan masyarakat.
Harapan serupa disampaikan Ustaz Muhammad Sobri. Dia menyebut kunjungan PRM Wage memberikan kesan positif bagi keluarga besar PRM Gunungpring.
Bahkan, kunjungan tersebut mendorong PRM Gunungpring untuk melakukan kunjungan balasan ke Sidoarjo.
“Dengan silaturahim dari rombongan PRM Wage siang hari ini semakin menguatkan tekad kami untuk membalas bersilaturahim ke Ranting Wage di Sidoarjo,” ujar Muhammad Sobri.
Pertemuan dua ranting tersebut memperlihatkan bahwa silaturahim dalam Muhammadiyah dapat menjadi ruang belajar bersama.
Ranting yang lebih muda dapat menyerap pengalaman dari ranting yang telah lebih dahulu melewati berbagai dinamika.
Sebaliknya, kehadiran ranting yang lebih muda juga membawa gagasan dan energi baru dalam persyarikatan. Di situlah hubungan antarranting menjadi lebih dari sekadar kunjungan.
Ada pengalaman yang dibagikan. Ada gagasan yang dipertukarkan. Ada jejaring yang diperluas.
Ivan menambahkan, kunjungan ke Gunungpring menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus bertumbuh.
“Pengalaman ranting senior menjadi cermin bahwa menjaga Muhammadiyah tidak cukup dengan menjalankan kegiatan hari ini, tetapi juga memikirkan bagaimana gerakan itu tetap hidup dan memberi manfaat pada generasi berikutnya,” jelas dia.
Sebab, timpal Ivan, usia panjang sebuah ranting bukan hanya soal berapa lama ia berdiri.
“Yang lebih penting adalah bagaimana semangat gerakannya tetap terjaga, kadernya terus tumbuh, dan keberadaannya tetap memberi manfaat bagi masyarakat,” tutupnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments