Menyambut fenomena gerhana bulan, Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Observasi Gerhana Bulan di Rooftop GKB V UMM pada Selasa (3/3/2026), pukul 16.00–21.00 WIB.
Kegiatan ini menjadi ruang edukatif sekaligus reflektif yang mempertemukan dimensi akademik dan spiritual dalam satu momentum langit yang sarat makna.
Antara Sains dan Spiritualitas
Fenomena gerhana bulan kembali menyita perhatian umat Islam. Bukan sekadar peristiwa astronomi yang dapat dijelaskan melalui perhitungan ilmiah, gerhana dimaknai sebagai momentum spiritual untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Bagi sivitas akademika Prodi HKI UMM, gerhana menjadi pengingat kebesaran Allah sekaligus ajakan untuk memperbanyak ibadah, khususnya shalat khusuf.
Dosen Prodi HKI UMM, R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata integrasi pembelajaran ilmu falak dengan penguatan spiritualitas mahasiswa.
“Kami tidak ingin mahasiswa hanya memahami gerhana sebagai fenomena sains yang kering dari makna. Melalui observasi langsung, mereka belajar bahwa sains dalam Islam bukan sesuatu yang terpisah dari nilai-nilai keimanan, melainkan sarana untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT,” ujarnya.
Integrasi Ilmu dan Iman
Menurut Tanzil, mahasiswa tidak cukup memahami gerhana sebatas teori pergerakan benda langit dan perhitungan astronomis. Pembelajaran harus membentuk karakter akademik yang utuh, menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kedalaman spiritual.
Ketika mahasiswa menyaksikan gerhana, lalu melaksanakan shalat khusuf dan memperbanyak doa, di situlah ilmu dan iman bertemu.
“Inilah esensi pendidikan yang ingin kami hadirkan, mengintegrasikan rasionalitas ilmiah dengan komitmen keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam perspektif Islam, gerhana bukanlah fenomena alam biasa.
“Gerhana merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Ia mengingatkan manusia bahwa seluruh alam semesta berada dalam kendali-Nya. Tidak ada yang terjadi tanpa izin dan kehendak-Nya,” tuturnya.
Penjelasan Ilmiah Gerhana Bulan
Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi cahaya bulan. Proses ini dapat dijelaskan secara rasional dan terukur melalui kajian astronomi.
Namun dalam Islam, peristiwa tersebut juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, doa, istighfar, serta melaksanakan shalat khusuf sebagai bentuk penghambaan dan refleksi diri.
Tanzil menjelaskan bahwa shalat khusuf merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan ketika terjadi gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dirikanlah shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa gerhana bukan pertanda mistis atau berkaitan dengan nasib seseorang, melainkan murni tanda kebesaran Allah.
Edukasi Publik dan Penguatan Keimanan
Melalui kegiatan observasi ini, Prodi HKI UMM berharap mahasiswa dan masyarakat dapat memaknai gerhana bulan bukan hanya sebagai peristiwa astronomi, tetapi juga sebagai panggilan spiritual untuk kembali mengingat kebesaran Allah dan meningkatkan kualitas penghambaan kepada-Nya.
Selain menjadi sarana edukasi ilmiah, kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan karakter mahasiswa agar memiliki integritas akademik sekaligus spiritualitas yang kokoh.
Momentum gerhana bulan pun diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa sains dan agama bukan dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua jalan yang saling melengkapi dalam memahami semesta dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.






0 Tanggapan
Empty Comments